JAKARTA (Lentera) - Pemerintah Iran dilaporkan menyetujui rancangan kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat (AS) sekaligus akan membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Informasi tersebut diungkap media The New York Times dalam laporan terbarunya pada Sabtu (23/5/2026).
Tiga pejabat senior Iran, menyebut rancangan kesepakatan damai mencakup penghentian konflik di seluruh front, termasuk ketegangan yang berkaitan dengan Lebanon.
Fokus utama perundingan diarahkan pada pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi titik krusial perdagangan energi dunia.
Dalam proposal tersebut, AS disebut akan mencabut blokade laut terhadap Iran. Sebagai gantinya, Iran akan kembali mengizinkan lalu lintas kapal dagang internasional melintasi Selat Hormuz tanpa pungutan biaya lintas.
Laporan itu juga menyebut isu program nuklir Iran, yang selama ini menjadi hambatan utama dalam hubungan kedua negara, tidak akan dibahas dalam tahap awal kesepakatan.
Pembahasan mengenai program nuklir akan dipisahkan dalam negosiasi lanjutan yang dijadwalkan berlangsung dalam 30 hingga 60 hari ke depan.
Selain itu, rancangan kesepakatan turut memuat rencana pencairan aset Iran senilai 25 miliar dolar AS yang selama ini dibekukan di luar negeri.
Menurut The New York Times, proses perumusan kesepakatan damai tersebut dimediasi oleh Pakistan dan Qatar yang berperan sebagai fasilitator komunikasi antara kedua pihak.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (23/5/2026) menyatakan kesepakatan damai dengan Iran "sebagian besar telah dinegosiasikan", meski detail akhir masih terus dibahas oleh para perunding.
Editor: Santi/Ant




