JAKARTA (Lentera) - Wabah Ebola di Republik Demokratik (DR) Kongo mengganas, usai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menaikkan status kewaspadaan menjadi "sangat tinggi". Africa CDC memperingatkan sedikitnya 10 negara Afrika kini masuk zona risiko penyebaran Ebola, sementara
Mengutip Antara, Minggu (24/5/2026), Kepala Africa CDC, Jean Kaseya, Sabtu (23/5/2026), menyebutoan 10 negara yang dinilai berisiko terdampak meliputi Rwanda, Kenya, Tanzania, Angola, Burundi, Republik Afrika Tengah, Republik Kongo, Ethiopia, Sudan Selatan, dan Zambia.
Africa CDC dan WHO kini mengajukan pendanaan lebih dari 314 juta dolar AS untuk memperkuat respons penanganan wabah. Sebagian besar dana akan difokuskan untuk penanganan di DR Kongo dan Uganda, mulai dari pengobatan pasien, pelacakan kasus, hingga penguatan sistem pencegahan penularan.
Sementara itu, sekitar 54 juta dolar AS akan dialokasikan bagi 10 negara berisiko tinggi guna memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi penyebaran lintas negara.
Langkah penanganan yang disiapkan mencakup pembentukan sistem manajemen insiden nasional, koordinasi lintas batas antarnegara, percepatan riset vaksin untuk strain Bundibugyo, pengiriman tenaga kesehatan tambahan, hingga penempatan stok darurat di wilayah rawan.
Wabah Ebola di DR Kongo sendiri resmi diumumkan pada 15 Mei 2026 di Provinsi Ituri. Namun dalam waktu singkat, penyebaran virus meluas ke Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan.
WHO melaporkan sekitar 750 kasus suspek dengan 177 kematian suspek akibat Ebola di DR Kongo. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 82 kasus dan tujuh kematian telah terkonfirmasi positif.
Di Uganda, Kementerian Kesehatan setempat juga melaporkan tambahan tiga kasus baru pada Sabtu (23/5/2026). Dengan penambahan itu, total kasus terkonfirmasi dalam wabah Ebola yang sedang berlangsung di negara tersebut mencapai 5 kasus.
Pemerintah DR Kongo mulai menerapkan pembatasan sosial untuk menekan laju penyebaran virus, khususnya di Provinsi Ituri yang menjadi pusat wabah. Sejumlah aktivitas sosial, termasuk kegiatan olahraga, dihentikan sementara.
Gubernur militer Ituri, Jenderal Johnny Luboya, juga melarang kerumunan lebih dari 50 orang di sejumlah zona kesehatan terdampak, yakni Bunia, Rwampara, Mungwalu, dan Nyakunde.
Editor: Santi




