27 May 2026

Get In Touch

Menag Ajak Masyrakat Lestarikan Alam dengan Implementasi Konsep Ekoteologi

Menteri Agama, Nasaruddin Umar usai salat Iduladha di Masjid istiqlal, Jakarta, Rabu (27/5/2026). (foto:ist/Ant)
Menteri Agama, Nasaruddin Umar usai salat Iduladha di Masjid istiqlal, Jakarta, Rabu (27/5/2026). (foto:ist/Ant)

JAKARTA (Lentera) - Menteri Agama, Nasaruddin Umar mengajak seluruh lapisan masyarakat membangkitkan kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam semesta, melalui implementasi konsep ekoteologi dalam kehidupan sehari-hari.

Nasaruddin mengatakan, ketaatan seorang hamba kepada Tuhan tidak hanya diukur melalui ritual ibadah, melainkan juga harus diwujudkan dalam bentuk tindakan menyehatkan lingkungan.

"Kita menjadi seorang saleh itu bukan hanya diukur ketaatan-ketaatan saja, tetapi ketaatan itu harus diwujudkan dalam bentuk menyehatkan lingkungan. Kita tidak mungkin bisa menjadi sempurna sebagai hamba kalau lingkungan kita itu rusak," ujarnya selepas Shalat Idul Adha 1447 Hijriyah di Masjid Istiqlal di Jakarta melansir Antara, Rabu (27/5/2026).

Nasaruddin yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal menjelaskan, kapasitas manusia di bumi mengemban dua peran utama, yakni sebagai hamba (abid) sekaligus pemimpin (khalifah), yang mana kedua peran tersebut tidak akan berjalan ideal tanpa adanya dukungan lingkungan alam yang sehat.

Dia juga menekankan, pentingnya menjaga tiga dimensi hubungan secara berbanding lurus yang meliputi hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah), hubungan sesama manusia (hablum minannas), serta hubungan manusia dengan alam dan makhluk hidup (hablum ma'al makhluqat).

Pesan-pesan lingkungan tersebut merupakan beberapa poin utama, dalam khutbah Idul Adha berjudul "Meneguhkan Spirit Qurban, Merawat Alam dan Kemanusiaan" yang disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Hamdan Juhannis selaku khatib shalat Idul Adha di Istiqlal.

Gagasan ekoteologi yang disampaikan khatib, dinilai relevan agar masyarakat tidak lagi menempatkan alam semesta sebagai objek semata yang bisa dieksploitasi, tetapi juga memperlakukannya sebagai subjek kehidupan.

"Bagaimana kita bisa khusyuk shalat kalau ada banjir? Jadi alam ini jangan hanya dijadikan semacam objek saja, tapi harus dianggap juga sebagai subjek dan sekaligus objek. Karena tanpa alam semesta kita tidak mungkin pernah menjadi manusia yang ideal," kata Nasaruddin.​​​​​

Ia menambahkan, bahwa pihaknya akan memperbanyak salinan naskah khutbah tersebut, karena tak sedikit jajaran menteri dan tokoh masyarakat ingin membaca ulang untuk mempelajarinya sementara salinan sebelumnya dicetak terbatas.

 

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.