30 May 2026

Get In Touch

Catut Nama ITS dalam Dugaan Skandal Penelitian Palsu, Ini Sikap Rektor

 Rektor ITS, Bambang Pramujati. (foto:ist/Kompas.com/Humas ITS)
 Rektor ITS, Bambang Pramujati. (foto:ist/Kompas.com/Humas ITS)

SURABAYA (Lentera) - Dugaan skandal penelitian palsu yang melibatkan peserta asal Indonesia, mencuat dalam ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Kopenhagen, Denmark, 17-21 Mei 2026. 

Skandal tersebut juga menyeret adanya pencatutan nama Departemen Teknik Biomedik, serta seorang alumnus Departemen Teknik Sistem Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai kontributor dalam sebuah publikasi ilmiah yang tengah menjadi perhatian publik. 

Pihak ITS pun ambil sikap menanggapi hal itu, Rektor ITS, Bambang Pramujati menegaskan bahwa pihaknya menjunjung tinggi integritas akademik, etika penelitian, serta kejujuran ilmiah sebagai prinsip utama dalam seluruh kegiatan akademik dan riset. 

“ITS turut menghormati klarifikasi, verifikasi, dan investigasi yang dilakukan pihak terkait,” tegas Bambang, Jumat (29/5/2026) mengutip Kompas.com, Sabtu (30/5/2026). 

Ia menuturkan, ITS mendorong kehati-hatian berbagai pihak dalam penelusuran informasi untuk melakukan pembuktian pada kasus yang sedang beredar saat ini. 

Berdasarkan hasil penelusuran dan klarifikasi yang dilakukan, ITS menemukan adanya informasi yang tidak sesuai dengan fakta. Ia menyampaikan, bahwa ITS tidak memiliki School of Biomedical Engineering seperti yang tercatut dalam salah satu artikel yang ada. 

“Dalam struktur resmi ITS, yang benar adalah Departemen Teknik Biomedik atau Biomedical Engineering Department,” ungkapnya. 

Selain itu, pihaknya juga telah melakukan klarifikasi kepada Dimas Fajar Prasetyo, yang namanya tercantum sebagai salah satu kontributor dalam publikasi tersebut. 

Dapat dikonfirmasi, bahwa benar Dimas merupakan alumnus Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS. Namun, yang bersangkutan mengonfirmasi bahwa pencatutan namanya dilakukan secara tidak sah atau ilegal. 

Dimas secara tegas mengungkapkan, dirinya sama sekali tidak terlibat dalam proses penelitian dan tidak mengenali pihak-pihak yang mencatatkan namanya tersebut. 

“Saya menegaskan bahwa saya sama sekali tidak mengetahui hal tersebut dan sama sekali tidak melakukan penelitian tersebut,” tegas Dimas saat dikonfirmasi oleh tim dari Unit Komunikasi Publik (UKP) ITS. 

Rektor ITS juga menegaskan, pihaknya menolak segala bentuk pelanggaran etika penelitian, manipulasi data, fabrikasi hasil penelitian, maupun penyalahgunaan nama institusi. 

"Jika ditemukan pelanggaran etik, manipulasi data, atau penyalahgunaan nama institusi, ITS secara tegas akan menindak perilaku tersebut sesuai ketentuan akademik, hukum, dan peraturan yang berlaku. Sebagai institusi pendidikan, ITS berkomitmen akan terus menjaga marwah akademiknya dan menguatkan standar riset di lingkup kampus," pungkas Bambang.

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.