03 June 2026

Get In Touch

Mendiktisaintek: Kampus Boleh Dirikan SPPG, Jadi Laboratorium Riset

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto. (foto: Kemendiktisaintek)
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto. (foto: Kemendiktisaintek)

JAKARTA (Lentera) - Perguruan tinggi diperbolehkan mendirikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang merupakan dapur penyedia program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, menyebut fasilitas ini dapat dimanfaatkan kampus sebagai laboratorium riset sekaligus sarana praktik mahasiswa.

"Ada beberapa kampus yang membuat SPPG dalam rangka teaching factory, sarana mahasiswa praktik, itu juga sekaligus diteliti, yaitu kami mempersilahkan kepada kampus-kampus tersebut," ujar Brian dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, melansir Antara, Selasa (2/6/2026).

Dalam hal ini, Brian menepis anggapan pemerintah mewajibkan seluruh perguruan tinggi mendirikan SPPG untuk mendukung pelaksanaan program MBG.

Ditegaskannya, hingga saat ini tidak pernah ada kebijakan ataupun surat edaran dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang mewajibkan rektorat membangun fasilitas tersebut.

"Kami tidak pernah ada edaran kebijakan bahwa setiap kampus harus mendirikan SPPG, itu tidak pernah ada. Tapi yang kami dorong adalah kependidikan kampus dalam seluruh program-program nasional," tegasnya.

Lebih lanjut, Brian menilai keterlibatan kampus dalam Program MBG sejalan dengan peran perguruan tinggi dalam mendukung berbagai program strategis nasional lainnya melalui riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, kontribusi kampus dalam ekosistem gizi nasional memiliki posisi yang sama pentingnya dengan dukungan akademisi terhadap pengembangan industri kendaraan listrik, semikonduktor, maupun proyek pembangunan tanggul laut raksasa (giant sea wall).

Karena itu, Brian mendorong perguruan tinggi tidak hanya terlibat pada aspek operasional penyediaan makanan bergizi, tetapi juga mengambil peran lebih luas melalui penelitian berbasis data yang dapat mengukur dampak program tersebut dalam jangka panjang.

Ia mencontohkan, kampus dapat melakukan riset terkait penurunan angka stunting, peningkatan status gizi anak, hingga dampak Program MBG terhadap kualitas kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

"Yang kami dorong adalah bagaimana melakukan riset-riset untuk misalnya stuntingnya bagaimana, dicek. Saya pernah mendapatkan paper di India, program MBG ini berhasil menaikkan angka perbaikan gizi dan menurunkan stunting. Ini perlu jangka panjang, yang barangkali tidak terpikir oleh para SPPG-nya," ungkap Brian.

Editor: Santi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.