MALANG (Lentera) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang mengungkapkan nelayan Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo, menyumbang sekitar 83 persen dari total produksi ikan layur Kabupaten Malang.
"Dari total produksi ikan layur Kabupaten Malang sebesar 6.000 ton, sebanyak 5.000 ton itu berasal dari Pujiharjo. Sementara Sendangbiru kurang lebih 1.000 ton," ujar Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring, dikutip pada Rabu (3/6/2026).
Kontribusi tersebut menjadikan Pujiharjo sebagai sentra produksi ikan layur terbesar di Kabupaten Malang. Bahkan, Victor menilai capaian itu cukup mencengangkan mengingat wilayah Pujiharjo selama ini dikenal sebagai kawasan pesisir yang relatif terpencil dengan akses infrastruktur yang belum sepenuhnya ideal.
Victor mengatakan, perkembangan ekonomi masyarakat nelayan di Pujiharjo menunjukkan tren yang sangat positif dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu indikatornya terlihat dari pertumbuhan jumlah armada kapal yang meningkat drastis.
Pada 2017, jumlah kapal nelayan yang beroperasi di kawasan tersebut tercatat sekitar 30 unit. Namun delapan tahun kemudian, jumlahnya melonjak menjadi sekitar 300 kapal atau meningkat sepuluh kali lipat.
"Di tahun 2017 hanya ada 30 kapal. Pada 2025 sudah menjadi 300 kapal. Ini menunjukkan perkembangan ekonomi masyarakat nelayan yang luar biasa," katanya.
Menurut Victor, pertumbuhan sektor perikanan di Pujiharjo menjadi bukti masyarakat mampu mengoptimalkan potensi sumber daya laut yang dimiliki meskipun dihadapkan pada berbagai keterbatasan, termasuk kondisi infrastruktur jalan.
Ia mengakui akses menuju kawasan tersebut kini mulai mengalami perbaikan, dengan sejumlah ruas jalan yang telah mendapatkan penanganan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Namun pada tahun-tahun sebelumnya, kondisi jalan menuju Pujiharjo masih cukup sulit dilalui.
Keunggulan Pujiharjo dalam produksi ikan layur, lanjut Victor, tidak terlepas dari faktor geografis yang dimiliki. Perairan di wilayah tersebut merupakan salah satu lokasi utama keberadaan ikan layur sehingga memberikan keuntungan bagi nelayan setempat.
Berbeda dengan nelayan dari wilayah lain yang harus menempuh perjalanan laut selama beberapa jam untuk mencapai area penangkapan, nelayan Pujiharjo dapat langsung menuju lokasi tangkap yang relatif dekat dari pesisir mereka.
Besarnya kontribusi sektor perikanan di Pujiharjo juga menjadi salah satu alasan pemerintah pusat memberikan perhatian khusus terhadap kawasan tersebut. Salah satunya melalui pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang masuk dalam gelombang pertama program nasional dan saat ini telah selesai dibangun.
Selain dukungan dari pemerintah pusat, Pemkab Malang juga terus mendorong pengembangan kawasan perikanan di Pujiharjo. Salah satu target jangka panjang yang tengah diupayakan adalah peningkatan fasilitas pelabuhan perikanan guna mendukung aktivitas nelayan dan pengembangan ekonomi kawasan pesisir.
Victor menjelaskan, apabila pengerukan sedimentasi muara yang menjadi kewenangan pemerintah pusat dapat direalisasikan, pihaknya berencana memusatkan aktivitas tambat kapal nelayan di kawasan muara.
Dengan skema tersebut, sekitar 300 kapal nelayan yang saat ini masih banyak bersandar di kawasan pantai diharapkan dapat berpindah ke area tambat labuh yang lebih representatif.
"Harapan kami seluruh kapal nantinya bisa bersandar di muara. Selain lebih tertata, nelayan juga menginginkan tambat labuh berada di air agar kapal lebih awet dan tidak cepat rusak karena bergesekan dengan pasir," katanya.
Reporter: Santi Wahyu








