03 June 2026

Get In Touch

Lima Bulan, 925 Kasus TBC Ditemukan di Kota Malang

Skrining TBC di Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Rabu (3/6/2026). (Santi/Lentera)
Skrining TBC di Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Rabu (3/6/2026). (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat sebanyak 925 kasus tuberkulosis (TBC) positif ditemukan selama periode Januari hingga akhir Mei 2026. Temuan tersebut diperoleh melalui kombinasi layanan kesehatan rutin dan strategi active case finding atau pencarian kasus aktif yang kini terus digencarkan di berbagai wilayah Kota Malang.

"Untuk yang positif di tahun ini mulai Januari sampai Mei 2026 ada 925 orang," ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Malang, Meifta Eti Winindar, ditemui dalam kegiatan screening mobile TBC di Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Rabu (3/6/2026).

Selain menemukan ratusan kasus positif, Dinkes Kota Malang juga mencatat sebanyak 1.433 orang terduga TBC telah dirujuk untuk menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) selama periode Januari hingga Mei 2026.

Sementara itu, melalui program screening mobile yang mulai dijalankan sejak April 2026, sebanyak 2.936 warga telah mengikuti pemeriksaan kesehatan. Dari kegiatan yang telah menyasar 28 kelurahan tersebut, petugas berhasil menemukan 27 kasus TBC positif.

Meifta menjelaskan, screening mobile menjadi salah satu strategi percepatan penemuan kasus TBC di masyarakat. Program tersebut menyasar kelompok berisiko tinggi, mulai dari kontak erat penderita TBC, anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien, penderita diabetes melitus, hingga anak berusia di atas tiga tahun yang mengalami gizi buruk.

"Ini dilakukan sebagai salah satu cara untuk sesegera mungkin menemukan penderita TBC yang ada di wilayah," jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, Dinkes Kota Malang menargetkan sedikitnya 200 warga setiap hari mengikuti pemeriksaan foto rontgen dada atau thoraks. Hasil pemeriksaan dapat diketahui pada hari yang sama sebelum peserta dirujuk menjalani pemeriksaan lanjutan di puskesmas apabila ditemukan indikasi penyakit TBC.

Program pencarian kasus aktif tersebut dilaksanakan secara berjenjang di berbagai kecamatan setiap hari kerja, mulai Senin hingga Jumat. Dinkes berencana memperluas cakupan pemeriksaan ke wilayah lain hingga akhir September 2026.

Menurut Meifta, beberapa kelurahan bahkan akan mendapatkan kunjungan screening lebih dari satu kali. Hal itu bergantung pada jumlah sasaran maupun potensi kasus yang ditemukan di masing-masing wilayah. "Tergantung proporsi jumlah pasiennya, apakah banyak atau tidak," katanya.

Dari sisi kelompok usia, kasus TBC di Kota Malang ditemukan hampir pada seluruh rentang umur, mulai dari balita hingga lanjut usia. Namun, berdasarkan hasil pemantauan Dinkes, penderita TBC masih didominasi oleh kelompok laki-laki.

Setelah kasus teridentifikasi, pasien akan menjalani pemeriksaan dahak menggunakan teknologi TCM untuk memastikan diagnosis. Selanjutnya, pasien akan mendapatkan pengobatan sesuai kategori penyakit yang diderita.

Untuk pasien TBC sensitif obat, pengobatan dilakukan selama 6 bulan sesuai standar nasional. Sedangkan pasien dengan TBC resisten obat harus menjalani terapi dengan durasi yang lebih panjang dan penanganan khusus sesuai ketentuan medis yang berlaku.

Reporter: Santi Wahyu

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.