GELOMBANG sentimen 'sell Indonesia' yang muncul di kalangan investor asing membuat waswas pasar. Hal inipun langsungmendapat bantahan dari Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Menurut dia, pandangan yang mendorong investor melepas aset-aset Indonesia itu lebih disebabkan ketidaktahuan terhadap kondisi ekonomi nasional saat ini. Di tengah tekanan tersebut, Purbaya juga menegaskan Indonesia tidak sedang menuju krisis ekonomi dan moneter seperti 1998. Ia menilai fundamental ekonomi dan fiskal nasional tetap kuat, sementara pelemahan rupiah lebih dipicu sentimen pasar daripada persoalan mendasar perekonomian.Diketahui sebelumnya Kepala Riset K2 Asset Management, George Boubouras, menyampaikan pandangan negatif terhadap Indonesia di tengah pelemahan rupiah dan gejolak pasar keuangan. Pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026, rupiah ditutup menguat 13 poin setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp18.036 per dolar AS. Sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 4,20% ke level 5.594,76. Fenomena 'sell Indonesia' diprediksi akan terus mencuat. Bahkan sejumlah ekonom, memperkirakan rupiah berpotensi mendekati Rp20.000 per dolar AS, menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia masih menjadi medan pertarungan utama pemerintah dan otoritas moneter. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINI https://lenteratoday.com/upload/Epaper/08062026.pdf




.jpg)
.jpg)
