10 June 2026

Get In Touch

Pubertas Dini Bisa Dipicu Sejak di Kandungan, Pakar Soroti Paparan BPA

Pubertas Dini Bisa Dipicu Sejak di Kandungan, Pakar Soroti Paparan BPA

Pencegahan pubertas dini pada anak sebaiknya dimulai jauh sebelum kelahiran, bahkan sejak pasangan merencanakan kehamilan. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah mengurangi paparan zat kimia pengganggu hormon (endocrine disrupting chemicals atau EDC), termasuk Bisphenol A (BPA) yang banyak ditemukan pada sejumlah kemasan makanan dan minuman berbahan plastik.

Peringatan tersebut disampaikan pakar obstetri dan ginekologi, Budi Wiweko, dalam podcast bertajuk Akibat Puber Terlalu Cepat bersama Raditya Dika. Menurut dia, kesehatan reproduksi anak dipengaruhi berbagai faktor yang sudah bekerja sejak masa sebelum kehamilan.

“Perencanaan kehamilan itu harus direncanakan. Gak zamannya lagi hamil itu kebetulan, harus direncanakan,” kata Budi yang akrab disapa Prof Iko.

Ia menjelaskan, perhatian terhadap paparan zat pengganggu hormon perlu dilakukan sejak masa persiapan kehamilan hingga trimester pertama. BPA menjadi salah satu zat yang mendapat sorotan karena memiliki sifat menyerupai hormon estrogen di dalam tubuh manusia.
Menurut Prof Iko, tiga bulan pertama kehamilan merupakan fase krusial pembentukan organ janin sehingga berbagai risiko lingkungan perlu ditekan semaksimal mungkin.

“Ketika ibu hamil dalam tiga bulan pertama, itu tidak boleh dia terekspos dengan itu,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa persoalan BPA tidak hanya terkait kebiasaan konsumsi anak setelah lahir, tetapi juga menyangkut kesiapan calon orang tua dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat sejak tahap perencanaan kehamilan.

Dalam kesempatan itu, Prof Iko juga menyinggung program “Selamatkan Perempuan Indonesia” yang digagas Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Program tersebut menempatkan kesehatan perempuan sebagai fondasi utama bagi kesehatan generasi berikutnya.

Menurutnya, pendekatan kesehatan reproduksi tidak cukup dimulai ketika seorang perempuan telah hamil atau saat bayi telah lahir. Persiapan perlu dilakukan bahkan sebelum masa konsepsi.
“Seribu hari pertama kehidupan saya kurang setuju, harusnya mulai seratus hari sebelum hamil itu sudah disiapkan, termasuk BPA, termasuk endocrine disrupting chemical lainnya,” katanya.

Prof Iko menjelaskan, sejumlah penelitian internasional menunjukkan bahwa paparan zat pengganggu hormon pada masa awal perkembangan dapat berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan reproduksi di kemudian hari. Beberapa di antaranya adalah endometriosis, kista ovarium, sindrom ovarium polikistik (PCOS), hingga sejumlah jenis kanker yang dipengaruhi faktor hormonal.

Meski demikian, ia menekankan bahwa kesehatan reproduksi dipengaruhi banyak faktor. Karena itu, pengurangan paparan BPA perlu dipandang sebagai bagian dari upaya pencegahan yang lebih luas dan menyeluruh.

Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan telah menetapkan batas migrasi BPA maksimum sebesar 0,6 miligram per kilogram atau setara 0,6 bagian per juta (ppm) pada kemasan pangan. Ketentuan tersebut diterapkan untuk menjaga keamanan produk yang beredar di masyarakat.

Pandangan serupa disampaikan psikolog Ratih Zulhaqqi. Menurutnya, pencegahan pubertas dini tidak bisa dilepaskan dari kesiapan orang tua dalam memahami tumbuh kembang anak.

“Pubertas dini ini kan sebenarnya bukan permasalahan pada saat mereka pubertas aja, justru dari sebelum-sebelumnya kan, ketika mereka mau jadi orang tua,” ujarnya.

Ratih menilai perhatian terhadap kesehatan anak harus dimulai dari aspek-aspek dasar seperti pola makan, kualitas tidur, aktivitas fisik, hingga jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari. Ia mengingatkan bahwa banyak orang tua masih terlalu berfokus pada pendidikan formal, padahal kesehatan biologis anak juga dipengaruhi oleh lingkungan dan pola hidup yang diterapkan sejak dini.

Karena itu, para pakar mendorong keluarga untuk lebih sadar terhadap berbagai faktor lingkungan yang dapat memengaruhi kesehatan hormon dan reproduksi. Langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain memperhatikan jenis kemasan makanan dan minuman yang digunakan, membaca informasi pada label produk, serta memilih produk yang mencantumkan keterangan bebas BPA jika tersedia.

Upaya tersebut, menurut para ahli, bukan untuk menimbulkan kekhawatiran berlebihan, melainkan sebagai langkah preventif guna menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi tumbuh kembang anak sejak masa perencanaan kehamilan hingga dewasa.(ist/dya)
 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.