SURABAYA (Lentera) – Edy Susanto resmi mengemban amanah sebagai Kepala SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya, untuk masa jabatan 2026-2027.
Meski masa tugasnya semestinya berakhir pada 2026, Persyarikatan Muhammadiyah memberikan perpanjangan selama satu tahun, guna mempersiapkan kader terbaik yang akan melanjutkan kepemimpinan sekolah di masa mendatang.
Dalam menjalankan kepemimpinannya, Edy mengusung strategi yang bertumpu pada kebersamaan melalui filosofi “dipikir bareng, dilakoni bareng, dirasano bareng”. Menurutnya, seluruh program dan kebijakan sekolah harus direncanakan, dilaksanakan, dan dirasakan manfaatnya secara bersama oleh seluruh elemen sekolah.
“Dipikir bersama, dikerjakan bersama-sama, kemudian dinikmati hasilnya bersama-sama. Dengan kebersamaan itu, sekolah akan semakin kuat dalam menghadapi berbagai tantangan,” ujarnya usai dilantik, Rabu (17/6/2026).
Selain mengedepankan kebersamaan, Edy juga mengungkapkan pentingnya penguatan sistem manajemen sekolah. Ia menilai, keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya bergantung pada sosok pemimpinnya, tetapi juga pada sistem yang kuat dan dijalankan secara konsisten oleh seluruh warga sekolah.
Menurutnya, sistem yang diterapkan di SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya berakar dari aturan dan kebijakan Persyarikatan Muhammadiyah, yang kemudian diterjemahkan secara lebih rinci dalam regulasi sekolah. Dengan demikian, seluruh kebijakan sekolah tetap sejalan dengan nilai dan aturan yang berlaku di Muhammadiyah.
“Sistem yang kuat akan meminimalkan miss komunikasi dan misunderstanding. Dengan jumlah guru, karyawan, murid, serta program yang begitu banyak, semuanya harus diatur dengan baik agar tercipta sinkronisasi dan kolaborasi,” ungkapnya.
Edy juga menekankan pentingnya budaya kolaborasi atau berjamaah dalam menjalankan roda organisasi sekolah. Kolaborasi tersebut mencakup hubungan antardivisi, antarpendidik, pimpinan, karyawan, siswa, hingga wali murid agar seluruh pihak memiliki tujuan yang sama dalam memajukan sekolah.
Menurutnya, kebersamaan dan kerja sama menjadi strategi paling efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperkuat ekosistem sekolah yang sehat dan produktif.
Tak hanya itu, Edy menilai, inovasi menjadi faktor yang tidak dapat dipisahkan dari pengembangan sekolah. Di tengah perubahan zaman yang terus berlangsung, sekolah dituntut mampu beradaptasi dan menghadirkan berbagai terobosan baru.
“Inovasi adalah harga mati. Dengan inovasi, sekolah tidak hanya meningkatkan kualitas layanan pendidikan, tetapi juga semakin diminati masyarakat sehingga mampu meningkatkan kepercayaan publik,” tutupnya.
Reporter: Amanah/Editor: Ais





