SURABAYA (Lentera)– Hujan deras yang mengguyur Kota Surabaya sejak, Senin (22/6/2026) dini hari hingga pagi, menyebabkan sejumlah kawasan tergenang banjir.
Salah satu titik terdampak berada di kawasan Bratang Binangun, yang hingga pukul 08.00 WIB dilaporkan masih tergenang meski hujan telah reda.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, hujan mulai turun sekitar pukul 03.00 WIB dan berlangsung hingga sekitar pukul 08.00 WIB. Genangan air di Bratang Binangun belum menunjukkan tanda-tanda surut meski intensitas hujan telah berhenti sekitar pukul 08.30 WIB.
Kondisi tersebut berdampak pada arus lalu lintas di kawasan sekitar. Seorang pengendara, Avit, mengaku mengalami keterlambatan perjalanan akibat kepadatan kendaraan yang terjadi di jalur tersebut.
“Saya kena macet sekitar 30 menit, mulai dari Jembatan Kali Panjang Jiwo sampai daerah Bratang,” ujar Avit pada Lentera, Senin (22/6/2026).
Sementara itu, Kepala Bidang Drainase Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Adi Gunita mengatakan titik-titik yang terpantau tergenang antara lain berada di kawasan Tanjungsari, Simokalangan, Simohilir, Nginden dan sekitarnya, Jalan Arif Rahman Hakim, kawasan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), serta Ngagel dan Jagir.
“Selain hujan yang turun mulai subuh tadi, faktor pasang air laut juga berpengaruh. Saat air laut pasang, kami tidak bisa memompa air secara optimal ke laut, sehingga genangan membutuhkan waktu lebih lama untuk surut,” kata Adi.
Menurutnya, kondisi tersebut terjadi di sejumlah wilayah yang terhubung dengan saluran pembuangan menuju laut. Di kawasan Greges dan Jalan Asemrowo misalnya, debit air di Kali Greges telah tinggi sehingga kapasitas pembuangan menjadi terbatas.
Hal serupa juga terjadi di wilayah Ngagel, Kalisumo, hingga Jagir. Adi menjelaskan, ketika air laut pasang, petugas harus menunggu kondisi surut terlebih dahulu sebelum pompa dapat dioperasikan secara maksimal.
Dari sejumlah lokasi terdampak, Tanjungsari menjadi salah satu kawasan dengan genangan cukup tinggi. Ketinggian air di wilayah tersebut diperkirakan mencapai setinggi satu ban mobil. Kondisi serupa juga terjadi di kawasan Nginden dan Ngagel.
Meski demikian, beberapa titik mulai menunjukkan tanda-tanda surut pada siang hari. Adi menyebut genangan di Simokalangan berangsur berkurang dan arus lalu lintas mulai dapat dilalui kendaraan meskipun masih tersendat.
Untuk mengantisipasi genangan berulang, Pemkot Surabaya tengah melakukan evaluasi terhadap kondisi saluran drainase, terutama di lokasi yang saat ini sedang berlangsung pekerjaan infrastruktur.
“Kami sedang mengidentifikasi kemungkinan adanya sumbatan akibat proyek. Jika ada pemasangan kisdam atau pengalihan aliran yang menghambat, akan kami buka kembali. Tim juga melakukan survei dan pengecekan di seluruh lokasi terdampak,” ujarnya.
Adi menambahkan, pada 2026 Pemkot Surabaya telah menyiapkan sejumlah program penanganan banjir di kawasan rawan genangan. Di wilayah Tanjungsari-Tambak Mayor, pemerintah akan meningkatkan kapasitas long storage, membangun saluran drainase berukuran 1,5 meter x 2 meter di sisi kanan dan kiri jalan, serta membangun rumah pompa baru di Tambak Mayor.
"Sementara untuk mengatasi persoalan genangan di kawasan Nginden, Pemkot Surabaya juga merencanakan pembangunan Rumah Pompa Betani yang diharapkan dapat mempercepat pengurangan genangan saat hujan dengan intensitas tinggi terjadi," tutupnya.
Reporter: Amanah/Editor: Ais





.jpg)