27 June 2026

Get In Touch

Kekayaan Fauna UB Forest, Temukan Empat Spesies Baru Kumbang

Prof. Dr.Agr.Sc. Hagus Tarno, S.P., M.P., temukan Kumbang Ambrosia spesies baru. (foto: Humas UB)
Prof. Dr.Agr.Sc. Hagus Tarno, S.P., M.P., temukan Kumbang Ambrosia spesies baru. (foto: Humas UB)

MALANG (Lentera) - Universitas Brawijaya Forest menyimpan kekayaan fauna yang belum sepenuhnya terungkap, hal ini dibuktikan melalui penemuan 4 spesies baru kumbang ambrosia dan kumbang kulit kayu oleh tim peneliti Universitas Brawijaya (UB) bersama University of Florida, Michigan State University, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Penemuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal internasional, "The Coleopterists Bulletin edisi 21 Juni 2026 melalui artikel berjudul Checklist of the Bark and Ambrosia Beetle Species (Coleoptera: Curculionidae: Platypodinae and Scolytinae) Collected at the Universitas Brawijaya Forest Properties, East Java, Indonesia with Descriptions of New Species".

Penelitian dipimpin Guru Besar Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dr. Agr. Sc. Hagus Tarno, SP., MP., bersama Yogo Setiawan, SP., MP., yang kini sedang menempuh studi doktoral di Kagoshima University, Jepang.

Prof. Hagus menyebut, salah satu spesies bahkan diberi nama Amasa brawijaya sebagai penghormatan kepada Universitas Brawijaya.

"Kami ingin nama Brawijaya tidak hanya dikenal sebagai perguruan tinggi, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah sains dunia. Ketika orang mencari atau mempelajari spesies ini, mereka akan mengetahui bahwa spesies tersebut ditemukan melalui penelitian yang dilakukan di Universitas Brawijaya," ujarnya, Jumat (26/6/2026).

Pengambilan data dilakukan di kawasan UB Forest sejak Oktober 2024, bertepatan dengan penyelenggaraan Bark and Ambrosia Beetles Academy yang digelar University of Florida dengan Universitas Brawijaya sebagai tuan rumah.

Dari hasil penelitian, tim berhasil mengidentifikasi empat spesies baru, yakni Crossotarsus gunungapi Hulcr, Tarno, and Levia, Cosmoderes arjuno Johnson, Cosmoderes opacus Johnson, serta Amasa brawijaya Smith.

Menurut Prof. Hagus, penamaan spesies baru berdasarkan nama institusi bukan sekadar simbol penghormatan, tetapi juga menjadi pengakuan atas kontribusi Universitas Brawijaya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya penelitian biodiversitas.

Selain itu, penamaan tersebut diharapkan semakin memperkenalkan UB di kalangan ilmuwan dunia serta mendorong kolaborasi riset internasional di masa mendatang.

Lebih lanjut, proses pengambilan sampel dilakukan pada ranting dan kayu mati yang berada di lantai hutan. Kumbang ambrosia ditemukan pada berbagai jenis kayu, seperti pinus, kopi, sonokembang, hingga Ficus, yang menjadi habitat jamur sebagai sumber makanannya.

"Kumbang ambrosia memiliki keunikan karena hidup bersimbiosis dengan jamur. Mereka membuat terowongan di dalam kayu dan menumbuhkan jamur sebagai sumber makanannya. Karena itu, kami banyak mengambil sampel dari berbagai jenis ranting dan kayu di UB Forest," jelas Prof. Hagus.

Untuk memastikan spesimen tersebut benar-benar merupakan spesies baru, tim menggunakan dua metode identifikasi, yakni analisis morfologi dan analisis molekuler berbasis DNA.

Karakter fisik setiap spesimen dibandingkan dengan koleksi di berbagai museum serangga dunia, sementara analisis DNA dilakukan dengan mencocokkan sekuens genetik terhadap basis data internasional.

"Kami membandingkan karakter morfologinya dengan spesies yang telah tersimpan di berbagai museum serangga dunia. Selain itu, kami juga melakukan analisis DNA untuk memastikan perbedaannya secara genetik. Jika hasilnya menunjukkan perbedaan signifikan dengan spesies yang telah diketahui sebelumnya, maka spesimen tersebut dapat ditetapkan sebagai spesies baru," terang Prof. Hagus.

Saat ini, spesimen Amasa brawijaya telah tersimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) BRIN sebagai koleksi ilmiah sekaligus referensi penelitian biodiversitas Indonesia.

Prof. Hagus menilai penemuan 4 spesies baru tersebut menjadi bukti bahwa hutan tropis Indonesia, termasuk kawasan UB Forest di Jawa Timur, masih menyimpan kekayaan hayati yang sangat besar dan belum sepenuhnya terungkap.

"Ke depan kami ingin membangun jejaring penelitian yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Harapannya, siapa pun yang ingin mempelajari kumbang ambrosia akan datang dan bekerja sama dengan Universitas Brawijaya," pungkasnya.


Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.