SURABAYA (Lentera) - Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) kembali unjuk gigi dalam kompetisi. Pasalnya, mereka berhasil mendapatkan gold award yang pada perlombaan The 3rd Multidisciplinary Regional Conference in Science and Technology 2026 (MRCST 26) di Akademia Siber Teknopolis (AST), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) Bangi, Malaysia.
Melansir UNAIR pada Senin (29/6/2026), Mahasiswa yang tergabung dalam tim bernama Cultiva dari Program Studi Sistem Informasi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) ini meraih pretasi dalam kompetisi yang menyediakan platform bagi mahasiswa untuk memamerkan produk, teknologi, dan solusi inovatif yang mengatasi tantangan dunia nyata melalui sains dan teknologi berlangsung pada Sabtu (20/6/2026).
Tiga mahasiswa dalam tim yaitu Anindya Wita Wisesa, Muhammad Yusran Yuris, dan Gaida Salsabila Arden, mengenalkan inovasi bernama Cultiva. Inovasi itu merupakan sebuah smart agriculture berbasis kecerdasan buatan AI dirancang khusus mengatasi risiko kegagalan panen petani.
Cultiva, Multimodal AI-Based Smart Agriculture System Integrating IoT with Hybrid Architecture for Food Security itu memiliki tujuan mendukung pengambilan keputusan petani, meningkatkan efisiensi sumber daya, dan mendukung pencapaian SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).
Bermula dari keresahan terhadap banyaknya angka kegagalan panen di negara tropis dan kurangnya pemahaman petani terhadap kondisi lahan. “Dari situlah kami berangkat dengan inovasi Cultiva berupa model prototype dan aplikasi yang dapat membantu petani dengan solusi dari berbagai kebutuhan siklus pertanian. Siklus tersebut terdiri dari rekomendasi tanaman, penjadwalan irigasi, rekomendasi pupuk, penjadwalan pemantauan, dan prediksi panen,” ujar Anin selaku ketua melansir UNAIR.
Anin menjelaskan bahwa Cultiva menggabungkan model machine learning (Random Forest) untuk data tabular dan Large Language Model (LLM) berbasis Retrieval-Augmented Generation (RAG). Cultiva juga menerapkan kecerdasan buatan multimodal untuk memproses berbagai jenis data, serta mengintegrasikan sensor Internet of Things (IoT) untuk memantau parameter lahan secara real-time.
Di balik suksesnya Cultiva, mereka juga harus menghadapi berbagai tantangan. “Mulai dari membuat dan mengumpulkan data set, scraping dan memilah artikel di internet mengenai tanaman tropis. Selain itu, mencari tanah untuk prototype miliknya agar dapat bekerja yang akhirnya mereka dapat dari pinggiran jalan di Malaysia.
Ia berharap inovasi Cultiva dapat terus berkembang. Sehingga, dampaknya dapat dinikmati oleh masyarakat di negara-negara tropis. “Do it scared, hadapi dan coba selama masih ada kesempatan,” pungkas Anin.(*)
Editor : Lutfiyu Handi





.jpg)