02 July 2026

Get In Touch

Mahasiswa ITS Ciptakan Pertisida Berbasis Nano yang Tahan Hujan dan UV

Proses pemantauan dan penyemprotan DNF@S-MSN-CS pada tanaman labu.
Proses pemantauan dan penyemprotan DNF@S-MSN-CS pada tanaman labu.

SURABAYA (Lentera) - Mahasiswa Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan pestisida berbasis teknologi nano. Teknologi yang satu ini memiliki kelebihan yang mampu tahan terhadap hujan dan radiasi matahari (UV). 

Peneliti DNF@S-MSN-CS Putri Mulia Hafiy Dzikrullah memaparkan lahirnya inovasi DNF@S-MSN-CS smart delivery pesticide berbasis teknologi nano ini kerena melihat efektivitas pestisida dinotefuran di pasaran masih menjadi tantangan dalam sektor pertanian. Dia memamparkan pestisida dinotefuran selain mudah larut oleh air hujan, paparan sinar matahari juga dapat menurunkan kinerja bahan aktif. 

"Pestisida jenis dinotefuran masih memiliki sejumlah keterbatasan. Selain mudah rusak akibat paparan sinar UV, pestisida juga rentan tercuci oleh air hujan sehingga mengurangi efektivitasnya. Kondisi tersebut diperparah dengan pelepasan bahan aktif yang cenderung berlangsung secara tidak terkontrol,” urai Peneliti DNF@S-MSN-CS Putri Mulia Hafiy Dzikrullah yang akrab dengan sapaan Fide, pada Senin (29/6/2026).

Fide menyebutkan bahwa salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah penggunaan kitosan sebagai coating serta silika sebagai pembawa bahan aktif. “Struktur ini dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap paparan UV dan air hujan,” lanjut mahasiswa Departemen Teknik Kimia Industri (DTKI) ITS ini.

Selain itu, lanjut Fide, bentuk formulasi dibuat dalam partikel halus menyerupai pasir. Menurut Fide, hal ini memungkinkan distribusi bahan aktif lebih merata dan lebih melekat di tanaman. Dengan pendekatan ini, satu kali penyemprotan dapat memberikan efektivitas yang lebih optimal dibandingkan formulasi konvensional. 

Sementara itu, Kepala Seksi Pelayanan Teknis Unit Pelaksana Teknis (UPT) Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Timur, Ari Ika Sari SP MAgr menyampaikan antusiasmenya terhadap inovasi ini. Ia menilai inovasi tersebut berpotensi meningkatkan efisiensi penggunaan pestisida. “Minimnya penggunaan pestisida tentu dapat mengurangi dampak terhadap lingkungan,” ungkap Ari.

Selain untuk pestisida, Ari menilai teknologi nano memiliki peluang pemanfaatan yang lebih luas di sektor pertanian. Ari menjelaskan bahwa konsep serupa berpotensi diterapkan pada agen pengendali hayati hingga zat pengatur tumbuh tanaman. Dengan pengembangan smart nano pesticide delivery system tersebut, diharapkan dapat lahir solusi pengendalian hama yang lebih efisien sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan. 

Sementara itu, dosen pembimbing penelitian Nurul Faizah STrT MT menyampaikan bahwa pengembangan inovasi tersebut juga sejalan dengan identitas pendidikan vokasi yang menekankan penerapan ilmu. Faizah, sapaan akrabnya, berharap penelitian ini tidak berhenti pada tahap laboratorium saja, melainkan dapat dilanjutkan menuju uji komersial. “Hal ini bertujuan supaya hasil riset dapat benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat,” harap dosen DTKI ITS ini. 

Tak hanya meningkatkan efektivitas pengendalian hama, teknologi ini juga berpotensi mengurangi dampak penggunaan bahan kimia terhadap lingkungan. Hal ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-12 tentang Produksi dan Konsumsi yang Bertanggungjawab serta poin ke-15 tentang Ekosistem Daratan. (*)

Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.