03 July 2026

Get In Touch

Pidato di Dies Natalis Unusa, Risma Dorong Perguruan Tinggi Wujudkan SDGs Lewat Aksi Nyata

Dr. Ir. Tri Rismaharini, M.T. saat menyampaikan pidato utama pada Sidang Terbuka Senat Akademik Dies Natalis ke-13 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).
Dr. Ir. Tri Rismaharini, M.T. saat menyampaikan pidato utama pada Sidang Terbuka Senat Akademik Dies Natalis ke-13 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).

SURABAYA (Lentera) - Perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi pusat pendidikan dan riset, tetapi juga harus menjadi motor penggerak lahirnya solusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan. Implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) pun tidak boleh berhenti sebagai konsep, melainkan diwujudkan melalui kebijakan, inovasi, dan aksi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Dr. Ir. Tri Rismaharini, M.T. saat menyampaikan pidato utama pada Sidang Terbuka Senat Akademik Dies Natalis ke-13 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Kamis (2/7/2026).

Dalam pidatonya, mantan Menteri Sosial sekaligus mantan Wali Kota Surabaya itu mengatakan, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menghasilkan sumber daya manusia unggul, teknologi, serta inovasi yang mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan, mulai dari kemiskinan, kesehatan, pendidikan, perubahan iklim, hingga penguatan tata kelola pemerintahan.

"Keberhasilan pembangunan berkelanjutan hanya dapat dicapai apabila seluruh pemangku kepentingan bekerja bersama. Perguruan tinggi menjadi salah satu aktor utama karena memiliki kekuatan pada pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat," ujar Risma, Kamis (2/7/2026).

Menurutnya, penerapan SDGs di lingkungan kampus harus dilakukan secara menyeluruh. Hal itu mencakup integrasi nilai-nilai pembangunan berkelanjutan ke dalam kurikulum, pengembangan riset yang menjawab persoalan masyarakat, penerapan tata kelola kampus yang berkelanjutan, hingga penguatan kemitraan dengan pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.

Risma juga membagikan pengalamannya saat memimpin Kota Surabaya maupun ketika menjabat Menteri Sosial. Ia menilai berbagai persoalan pembangunan tidak dapat diselesaikan secara sektoral, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan lintas institusi.

Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci untuk mempercepat pencapaian target-target SDGs sekaligus memastikan setiap kebijakan mampu memberikan manfaat secara sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Pada kesempatan tersebut, Risma turut mengapresiasi capaian Unusa dalam pemeringkatan Times Higher Education (THE) Impact Rankings 2026. Salah satu prestasi yang disoroti ialah keberhasilan Unusa menempati peringkat ke-86 dunia pada indikator SDGs 3 (Good Health and Wellbeing).

"Sungguh tidak mudah untuk mencapai peringkat tersebut. Saya percaya Unusa dengan jaringan rumah sakit dalam YARSIS serta kerja sama dengan pondok pesantren menjadi salah satu pertimbangan dalam penilaian tersebut," tuturnya.

Ia menilai pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa perguruan tinggi Indonesia mampu memperoleh pengakuan internasional apabila berhasil membangun ekosistem pendidikan, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat secara terintegrasi.

Meski demikian, Risma mengingatkan agar keberhasilan dalam pemeringkatan tidak menjadi tujuan akhir. Menurutnya, capaian tersebut harus diterjemahkan menjadi kontribusi nyata melalui peningkatan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat.

"Perguruan tinggi harus terus memperluas jejaring kemitraan, baik di tingkat nasional maupun internasional, agar inovasi yang dihasilkan mampu memberikan dampak yang lebih luas bagi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan," tutupnya. (*)

Reporter: Amanah
Editor : Lutfiyu Handi

 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.