Warga Tambak Wedi Tolak Mutasi Lurah Muhammad Yusufian, Minta Wali Kota Tinjau Ulang Keputusan
SURABAYA (Lentera) — Keputusan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memutasi Lurah Tambak Wedi, Muhammad Yusufian, menyusul mencuatnya dugaan pungutan liar (pungli) di Sentra Wisata Kuliner (SWK) Tambak Wedi, menuai penolakan dari warga.
Tokoh masyarakat, pengurus RT/RW, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), hingga tokoh pemuda kompak meminta Wali Kota Surabaya mengembalikan Muhammad Yusufian ke jabatannya.
Penolakan tersebut mengemuka dalam rapat luar biasa yang digelar warga Tambak Wedi pada Kamis (9/7/2026) malam. Pertemuan itu dihadiri perwakilan RW 01 hingga RW 04 yang membawahi sebanyak 56 RT.
Ketua RW 01 Tambak Wedi, Achmad Sholeh, mengaku kecewa atas keputusan mutasi yang dinilai dilakukan secara mendadak. Menurutnya, kebijakan tersebut mengejutkan masyarakat karena Muhammad Yusufian selama ini dikenal dekat dan responsif terhadap kebutuhan warga.
“Kami sangat kecewa dan sedih. Mutasi ini membuat syok seluruh elemen masyarakat di Tambak Wedi,” ujarnya dikutip Jumat (10/7/2026).
Hal senada juga diungkapkan, Ketua RW 03, Ade Sugiarto, mengatakan seluruh peserta rapat sepakat menyampaikan aspirasi kepada Wali Kota Surabaya agar mempertimbangkan kembali keputusan tersebut dan mengembalikan Muhammad Yusufian sebagai Lurah Tambak Wedi.
“Kami sudah merasakan angin segar di bawah kepemimpinan Pak Fian. Beliau adalah pemimpin yang memahami kondisi warganya dan memiliki gagasan yang cemerlang untuk kemajuan Tambak Wedi,” kata Ade.
Menurut warga, selama memimpin Kelurahan Tambak Wedi, Muhammad Yusufian menghadirkan sejumlah inovasi yang dinilai memberikan dampak positif bagi masyarakat. Salah satunya melalui program Kopasga (Ngopi Bareng Warga) yang rutin digelar setiap bulan secara bergilir di masing-masing RW.
Melalui kegiatan tersebut, lurah bersama perangkat kelurahan turun langsung menemui warga untuk menyerap aspirasi serta berdialog mengenai berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Dalam rapat tersebut, seluruh elemen masyarakat menyepakati beberapa poin, di antaranya meminta Pemerintah Kota Surabaya membatalkan mutasi Muhammad Yusufian dan mengembalikannya sebagai Lurah Tambak Wedi.
Warga menilai pemerintah sebagai pelayan masyarakat harus mempertimbangkan suara warga dalam setiap pengambilan kebijakan.
“Kami berkumpul di sini menyatukan suara untuk meminta Bapak Wali Kota Surabaya mengabulkan aspirasi kami. Mencari pemimpin seperti Pak Fian bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, sangat sulit,” ujar Ade.
Masyarakat berharap aspirasi tersebut dapat didengar oleh Pemerintah Kota Surabaya sehingga Muhammad Yusufian dapat kembali memimpin Tambak Wedi dan melanjutkan berbagai program yang dinilai telah membawa perubahan positif bagi lingkungan serta kesejahteraan warga. (*)
Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi





.jpg)