16 July 2026

Get In Touch

Wali Kota Malang Klaim 1.000 Event Sukses Dongkrak Pariwisata hingga Okupansi Hotel

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat. (Santi/Lentera)
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat mengklaim program 1.000 Event sukses mendongkrak sektor pariwisata daerah. Hal ini juga berdampak pada melonjaknya tingkat okupansi hotel hingga menembus 80 persen saat pelaksanaan berbagai agenda, jauh di atas tingkat keterisian kamar pada hari biasa.

"Sangat signifikan. Ada dampak ganda yang dirasakan oleh masyarakat Kota Malang," ujar Wahyu, Rabu (15/7/2026).

Menurutnya, banyaknya event yang terselenggara telah menjadi magnet baru bagi wisatawan untuk datang ke Kota Malang. Salah satu yang paling dominan adalah penyelenggaraan sport tourism, yang dinilai mampu memperpanjang aktivitas wisata para peserta.

Wahyu menyebut, wisatawan yang datang untuk menghadiri event tidak langsung meninggalkan Kota Malang setelah kegiatan selesai. Mereka juga memanfaatkan waktu untuk mengunjungi berbagai destinasi wisata, terutama kampung-kampung tematik yang menjadi ikon kota.

Karena itu, pihaknya juga mendorong kelompok sadar wisata (Pokdarwis) agar terus meningkatkan kualitas layanan sehingga mampu mengimbangi meningkatnya kunjungan wisatawan.

"Mau tidak mau Pokdarwis di kampung-kampung tematik harus bisa mengimbangi, karena keberadaan kampung tematik itu juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang ke Kota Malang," katanya.

Wahyu mencontohkan kawasan Kayutangan Heritage, Kampung Warna-warni Jodipan, pusat kuliner seperti Pasar Klojen dan Pasar Oro-oro Dowo yang ikut merasakan dampak meningkatnya kunjungan wisatawan.

"Setelah mengikuti event olahraga, mereka bisa menikmati kuliner, sejarah bangunan Kota Malang, hingga membeli oleh-oleh. Sangat ada multiplier effect yang dirasakan dari 1.000 event itu," tegasnya.

Senada dengan Wali Kota Malang, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang, Agoes Basoeki, menyebut setiap penyelenggaraan event hampir selalu berdampak langsung terhadap tingkat hunian hotel.

"Kalau ada kegiatan, pasti okupansi hotel meningkat. Karena di Kota Malang ada 1.000 event, kemudian didukung dengan libur panjang, hotel-hotel di Kota Malang bisa penuh. Tempat wisata juga banyak dikunjungi," katanya.

Agoes mengatakan, kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri pariwisata, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam menjaga Kota Malang tetap nyaman dan aman bagi wisatawan.

Dampaknya, lama tinggal wisatawan pun ikut meningkat. Wisatawan yang sebelumnya hanya menginap satu malam kini mulai memperpanjang masa tinggal menjadi dua malam.

Agoes mengungkapkan, pada hari-hari biasa tingkat okupansi hotel di Kota Malang berkisar 40 hingga 50 persen. Namun saat berlangsung event besar, tingkat keterisian kamar dapat melonjak hingga sekitar 80 persen, bahkan sejumlah hotel dan guest house nyaris penuh.

"Kalau hari biasa keterisian kamar sekitar 40 sampai 50 persen. Ketika ada event bisa sampai 80 persen," jelasnya.

Menurut Agoes, kondisi sektor perhotelan pada 2026 juga menunjukkan tren yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Ia menilai peningkatan tersebut tidak lepas dari semakin kuatnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata dalam mengembangkan Kota Malang sebagai destinasi berbasis event. (*)


Reporter: Santi Wahyu
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.