JAKARTA (Lentera) - Di era digital seperti sekarang, hampir semua orang memulai hari dengan membuka ponsel. Entah untuk mengecek media sosial, membaca berita terbaru, atau sekadar melihat apa yang sedang ramai dibicarakan.
Namun, tanpa disadari, kebiasaan ini bisa berubah menjadi sesuatu yang kurang sehat, yaitu doomscrolling.
Melansir Antara, Minggu (19/7/2026), istilah doomscrolling atau doomsurfing semakin sering dibahas dalam dunia psikologi, karena berkaitan dengan kebiasaan seseorang yang terus-menerus mengonsumsi berita atau konten bernada negatif di internet, meskipun informasi tersebut justru memicu rasa cemas, takut, sedih, hingga stres.
Fenomena ini semakin umum terjadi seiring berkembangnya media sosial, yang dirancang untuk membuat pengguna terus menggulir layar (infinite scroll).
Akibatnya, seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam membaca kabar buruk tanpa menyadari dampaknya terhadap kesehatan mental maupun fisik.
Apa itu doomscrolling?
Secara sederhana, doomscrolling adalah kebiasaan terus menggulir media sosial atau portal berita untuk mencari informasi, terutama berita yang bersifat negatif seperti bencana, konflik, krisis ekonomi, kriminalitas, hingga isu kesehatan.
Ironisnya, banyak orang merasa bahwa membaca berita buruk akan membuat mereka lebih siap menghadapi situasi. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Semakin banyak informasi negatif yang dikonsumsi, semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang dirasakan.
Kebiasaan ini menjadi semakin sulit dihentikan karena algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang mampu memancing emosi pengguna. Rasa takut, marah, atau penasaran membuat seseorang bertahan lebih lama di aplikasi sehingga platform terus menyajikan konten serupa.
Mengapa doomscrolling mudah terjadi?
Dari sisi psikologi, doomscrolling muncul karena otak manusia secara alami ingin mencari kepastian ketika menghadapi situasi yang tidak menentu.
Saat terjadi peristiwa besar, seperti pandemi, konflik internasional, atau bencana alam, banyak orang terdorong untuk terus memperbarui informasi dengan harapan memperoleh rasa aman.
Namun, penelitian yang dilakukan Shabahang dan rekan-rekannya (2024) menunjukkan bahwa semakin sering seseorang mengonsumsi berita negatif, semakin tinggi pula tingkat stres dan kecemasannya. Alih-alih merasa lebih tenang, otak justru tetap berada dalam kondisi waspada sehingga mendorong seseorang untuk terus mencari informasi terbaru.
Kondisi tersebut diperparah oleh fitur infinite scroll yang membuat pengguna tidak memiliki batas alami untuk berhenti membaca.
Penggunaan media sosial di Indonesia sangat tinggi
Fenomena doomscrolling menjadi perhatian karena penggunaan media sosial di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia.
Indonesia berada di jajaran empat negara dengan jumlah pengguna media sosial terbanyak secara global. Kelompok yang paling aktif berasal dari Generasi Z, yang rata-rata menghabiskan waktu antara satu hingga enam jam setiap hari di media sosial.
Bahkan, sekitar lima persen pengguna Gen Z diketahui dapat menghabiskan waktu hingga 10 jam dalam sehari untuk mengakses berbagai platform digital.
Instagram masih menjadi platform yang paling banyak digunakan, kemudian diikuti TikTok, X, dan Facebook.
Dengan durasi penggunaan yang tinggi tersebut, peluang seseorang terpapar konten negatif secara terus-menerus juga semakin besar.
Dampak doomscrolling terhadap kesehatan mental
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa doomscrolling memiliki hubungan erat dengan penurunan kesehatan mental.
Salah satu dampak yang paling sering muncul adalah meningkatnya rasa cemas. Paparan informasi negatif secara terus-menerus membuat otak selalu berada dalam mode siaga sehingga sulit merasa tenang.
Selain itu, seseorang yang sering melakukan doomscrolling juga lebih rentan mengalami:
- Stres berkepanjangan.
- Pikiran negatif yang terus berulang.
- Rasa takut berlebihan terhadap kondisi sekitar.
- Perasaan terisolasi dan kesepian.
- Sulit berkonsentrasi.
- Penurunan produktivitas.
- Kelelahan emosional.
Penelitian Satici dan kolega (2022) menemukan bahwa individu dengan tingkat doomscrolling yang tinggi cenderung mengalami stres lebih besar dan memiliki pola penggunaan media sosial yang bermasalah.
Sementara itu, penelitian lintas budaya oleh Shabahang dkk. (2024) menunjukkan bahwa kebiasaan ini berkaitan dengan existential anxiety, yaitu kecemasan mendalam mengenai masa depan, ketidakpastian hidup, hingga makna kehidupan.
American Psychological Association (APA) juga melaporkan bahwa paparan berita negatif secara berlebihan dapat memicu news-related stress atau stres akibat berita yang akhirnya menyebabkan kelelahan mental.
Tidak hanya mental, kesehatan fisik juga ikut terdampak
Efek doomscrolling ternyata tidak berhenti pada kondisi psikologis. Kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar sambil terus membaca berita negatif dapat memengaruhi kesehatan fisik, seperti:
- Gangguan tidur atau insomnia.
- Mata lelah akibat terlalu lama menatap layar.
- Sakit kepala.
- Tekanan darah meningkat.
- Kelelahan kronis.
- Meningkatkan risiko penyakit jantung karena stres berkepanjangan.
Kurangnya waktu istirahat juga dapat memicu stres oksidatif di dalam tubuh yang berpengaruh terhadap kesehatan secara keseluruhan.
Siapa yang paling berisiko mengalami doomscrolling?
Sebenarnya siapa pun bisa mengalami doomscrolling. Namun, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi, antara lain:
- Orang dengan tingkat kecemasan yang tinggi.
- Mereka yang mengalami fear of missing out (FOMO) atau takut tertinggal informasi.
- Pengguna media sosial yang lebih sering menjadi pembaca pasif tanpa berinteraksi.
- Individu yang kesulitan mengelola emosi ketika menghadapi situasi penuh tekanan.
Menurut Güme (2024), faktor-faktor tersebut membuat seseorang lebih mudah terjebak dalam siklus mencari informasi negatif secara berulang.
Jika rasa cemas akibat berita mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kualitas tidur, atau pekerjaan, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Doomscrolling perlu disadari sejak dini
Di tengah derasnya arus informasi, memperoleh berita terbaru memang penting. Namun, mengonsumsi informasi secara berlebihan, terutama yang bernada negatif, justru dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik.
Mengenali tanda-tanda doomscrolling, menjadi langkah awal untuk menghentikan kebiasaan tersebut. Dengan mengatur waktu penggunaan media sosial, memilih sumber informasi yang kredibel, dan menjaga keseimbangan aktivitas digital dengan kehidupan sehari-hari, kamu tetap bisa mendapatkan informasi tanpa harus mengorbankan kesehatan mental.
Editor: Arief Sukaputra





.jpg)