SURABAYA ( LENTERA ) - Lanskap mode global dan domestik kembali menyaksikan pergeseran estetika yang dramatis pada pertengahan tahun 2026. Motif komunal bernuansa fauna, kembali mendominasi panggung peragaan busana internasional serta gaya jalanan (street style) metropolitan. Mulai dari corak berani Macan Tutul (Leopard), garis geometris Zebra, hingga abstraksi kulit Sapi (Cow print).
Fenomena ini bukan sekadar siklus tren yang berulang, melainkan sebuah pernyataan kultural yang mendalam mengenai otoritas diri dan pencarian identitas di tengah derasnya arus modernitas digital.
Data internal media mode nasional seperti Beautynesia menegaskan bahwa corak animal print tidak pernah benar-benar lenyap dari radar industri. Sebaliknya, momen kembalinya motif ini hadir dengan pendekatan yang jauh lebih modern, terstruktur, dan adaptif.
Tren ini tercermin secara masif melalui kurasi busana para pesohor global seperti Sofia Richie Grainge hingga supermodel Winnie Harlow, yang secara konsisten mentransformasikan motif ini menjadi sebuah bentuk cerminan kepribadian yang tangguh, eksentrik, sekaligus penuh teka-teki.
Secara historis, penggunaan corak binatang dalam peradaban manusia memiliki akar yang sangat kompleks. Menilik catatan arsip mode global, publikasi Vogue dan The New York Times sering kali mengaitkan motif fauna dengan dualisme simbolis.
Pada awal abad ke-20, kepemilikan kulit binatang asli merupakan simbol absolut kekayaan, hegemoni kelas, dan status sosial aristokrat. Namun, ketika teknologi tekstil berhasil mereplikasi motif ini ke dalam material sintetis pada era 1960-an dan 1970-an, maknanya bergeser secara radikal menjadi simbol perlawanan, kebebasan seksual, dan subkultur rock-and-roll yang menentang kemapanan nilai-nilai borjuis.
Di tahun 2026, kebangkitan kembali motif ini dipicu oleh kejenuhan kolektif terhadap estetika quiet luxury atau kemewahan senyap yang sempat mendominasi pascapandemi. Masyarakat, khususnya Generasi Z dan Milenial akhir, mulai meninggalkan palet warna monokromatis yang polos dan beralih ke bentuk ekspresi yang lebih teatrikal.
Berdasarkan analisis Business of Fashion (BoF), animal print kini diadopsi sebagai platform ekspresi personal yang menunjukkan sisi berani, tangguh (fierce), namun tetap elegan melalui teknik padu padan yang bersih.
Pakaian bermotif animal print bertindak sebagai proteksi visual sekaligus pernyataan kedaulatan psikologis, di mana dalam era ruang digital yang menuntut keaslian, mengenakan corak yang berani adalah bentuk deklarasi eksistensi yang enggan diseragamkan.
Kembalinya tren ini ke permukaan juga didorong oleh pergeseran cara konsumsi informasi mode. Tercatat viralitas OOTD (Outfit of the Day) di platform visual seperti TikTok dan Instagram memegang peranan krusial.
Kehadiran figur publik, perancang busana independen seperti Brandon Blackwood, serta komunitas kreatif digital, berhasil mereduksi stigma historis yang sempat melekat pada motif ini, yang dahulu adakalanya dianggap berlebihan atau mencolok, menjadi sebuah item fesyen yang berkelas dan berkarakter.
Menariknya, fleksibilitas motif ini menjadikannya salah satu corak yang paling serbaguna (versatile) dalam lemari pakaian modern. Analisis gaya menunjukkan bahwa animal print mampu bertransformasi secara dinamis tergantung pada tata rias dan struktur busana pendukungnya, sehingga pengguna dapat dengan mudah beralih dari penampilan kasual sehari-hari yang santai hingga tampilan glamor malam hari yang memukau hanya dengan mengubah aksentuasi aksesori serta intensitas riasan wajah.
Keseimbangan Visual
Untuk menghindari kesan visual yang terlalu riuh atau tidak beraturan, para pengamat mode dan editor gaya memberikan beberapa rumusan dasar dalam melakukan styling busana bermotif fauna ini, di mana kunci utama dari keberhasilan penampilan ini terletak pada konsep keseimbangan visual dan penekanan pada setiap bagian pakaian.
Implementasi taktis dari tren ini menuntut kejelian dimulai dari bagian atasan yang berfungsi sebagai jangkar visual utama. Ketika sebuah kemeja sutra bercorak leopard atau oversized blazer bermotif zebra dipilih, langkah terbaik adalah meredam intensitas visualnya menggunakan bawahan yang sangat tenang.
Mengawinkan atasan bermotif fauna ini dengan celana denim berpotongan high-waist atau celana bahan berwarna hitam polos akan menciptakan kontras yang bersih dan modern. Pendekatan ini memastikan area wajah dan tubuh bagian atas mendapatkan sorotan penuh sebagai statement piece, sementara area bawah bertindak sebagai penyeimbang yang elegan agar keseluruhan penampilan tidak terkesan berlebihan.
Sebaliknya, pergeseran fokus ke bagian bawahan menawarkan dimensi gaya yang tidak kalah atraktif namun terasa lebih membumi. Mengenakan rok satin bersalur macan tutul atau celana berpotongan lebar (wide-leg pants) dengan motif kulit sapi menuntut atasan yang minimalis dan berstruktur kuat.
Kaos oblong putih polos berbahan katun premium, turtleneck hitam yang pas di tubuh, atau jaket kulit (leather jacket) berpotongan tegas menjadi pasangan ideal untuk meredam keliaran motif di bagian bawah. Gaya ini sangat digemari karena memberikan ilusi tubuh yang lebih jenjang sekaligus memancarkan kesan effortless chic yang kuat, di mana kekuatan motif berpadu sempurna dengan kesederhanaan pakaian pelengkapnya.
Fokus Alas Kaki
Bagi mereka yang masih ragu untuk tampil mencolok, infiltrasi motif fauna melalui bagian aksesori dan alas kaki adalah strategi paling aman namun tetap berdampak besar. Sentuhan kecil berupa tas tangan mini dari Brandon Blackwood bercorak leopard, syal sutra zebra yang diikatkan pada leher, hingga sepasang sepatu bot semata kaki (ankle boots) bermotif serupa, mampu menyulap pakaian kasual yang paling sederhana sekalipun menjadi sangat modis.
Aksesori Gold
Menambahkan aksesori bernuansa emas (gold) di area pergelangan tangan atau leher akan melengkapi aksentuasi ini, memberikan sentuhan akhir yang mewah dan bermain (playful) sekaligus kaya tekstur saat disandingkan dengan kain sutra atau satin tanpa harus mendominasi seluruh tubuh.
Fenomena keberlanjutan tren animal print membuktikan satu hukum kausalitas dalam industri mode, bila desain yang memiliki karakter psikologis yang kuat akan selalu menemukan jalan untuk kembali. (far,ust/dya)




.jpg)