23 July 2026

Get In Touch

UWG Malang Miliki 2 Guru Besar, Gagas Akuntansi Kearifan Lokal hingga Pertanian Ramah Lingkungan

(kanan-kiri)Pengukuhan Prof. Dr. Ana Sopanah S., S.E., M.Si., Ak., CA., CMA., dan Prof. Dr. Ir. Ririen Prihandarini, M.S., sebagai profesor baru di Universitas Widya Gama Malang, Rabu (22/7/2026). (Santi/Lentera)
(kanan-kiri)Pengukuhan Prof. Dr. Ana Sopanah S., S.E., M.Si., Ak., CA., CMA., dan Prof. Dr. Ir. Ririen Prihandarini, M.S., sebagai profesor baru di Universitas Widya Gama Malang, Rabu (22/7/2026). (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) -Universitas Widya Gama (UWG) Malang memiliki 2 guru besar baru dari bidang berbeda.

Dalam pengukuhan yang digelar Rabu (22/7/2026), Prof. Dr. Ana Sopanah S., S.E., M.Si., Ak., CA., CMA. memperkenalkan gagasannya, yakni akuntansi berbasis kearifan lokal, sementara Prof. Dr. Ir. Ririen Prihandarini, M.S. mendorong pemanfaatan mikroorganisme sebagai solusi sektor pertanian ramah lingkungan. 

Prof. Ana Sopanah resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Akuntansi Sektor Publik Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UWG Malang melalui orasi ilmiah bertajuk "Akuntansi Kearifan Lokal: Dari Nilai Budaya Menuju Akuntabilitas dan Keberlanjutan Organisasi".

"Saya ingin membangun akuntansi bukan sekadar angka, tetapi ada nilai budaya dan sosial yang kemudian memengaruhi ketika masyarakat berinteraksi maupun mengelola anggaran dalam kehidupan sehari-hari. Karena pada hakikatnya, semua kehidupan kita ada akuntansinya," ujarnya.

Ketertarikan Ana terhadap akuntansi berbasis budaya telah ia bangun melalui berbagai penelitian pada komunitas lokal, mulai masyarakat Suku Tengger, Bali, Madura hingga komunitas Bantengan di Jawa Timur. Penelitian mengenai akuntansi Bantengan bahkan menjadi karya utama yang mengantarkannya meraih gelar profesor.

Prof. Ana menjelaskan, di balik pertunjukan seni Bantengan ternyata terdapat praktik pengelolaan keuangan yang sederhana namun mencerminkan prinsip-prinsip akuntansi sektor publik.

"Misalnya komunitas Bantengan mendapat tanggapan Rp5 juta. Dana itu kemudian dibagi untuk membeli sesajen, disisihkan menjadi kas kelompok, hingga diberikan kepada para pemain. Itu semua adalah praktik akuntansi," jelasnya.

Menurut Ana, aspek tersebut selama ini belum banyak dikaji dalam dunia akademik karena penelitian akuntansi masih didominasi pendekatan keuangan perusahaan.

Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Ririen Prihandarini, M.S. mengusung orasi ilmiah bertajuk "Revolusi Bioindustri: Inovasi Kunci Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan dan Pemulihan Lingkungan". 

Ririen memaparkan pentingnya pemanfaatan mikroorganisme sebagai alternatif pupuk dan pestisida berbahan kimia. Ia mengaku telah meneliti mikroorganisme sejak menempuh pendidikan sarjana.

Menurutnya, alam sebenarnya telah menyediakan mikroorganisme yang memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Namun pemanfaatannya masih kalah dibanding penggunaan bahan kimia sintetis.

"Sebetulnya Allah sudah menurunkan makhluk-Nya untuk bekerja di alam ini. Tetapi selama ini kurang diperhatikan karena kita lebih percaya menggunakan bahan-bahan kimia. Padahal itulah yang menyebabkan kerusakan di alam. Saya ingin semuanya kembali dari alam untuk alam," ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui transisi menuju pertanian organik berbasis mikroorganisme masih menghadapi berbagai tantangan. "Terus terang, menjadi organik itu tidak gampang. Butuh tenaga karena harus diupayakan sendiri oleh petani," katanya.

Selain itu, industri yang memproduksi mikroorganisme dalam skala besar juga masih sangat terbatas sehingga menurutnya, kebutuhan petani belum sepenuhnya dapat dipenuhi.

Di sisi lain, Ririen menilai Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan bioindustri karena kekayaan mikroorganisme yang melimpah.

"Indonesia sangat kaya mikroorganisme, bahkan termasuk yang terkaya di dunia karena berada di pertemuan dua rangkaian gunung berapi dan dua samudera besar. Kondisi itu sangat strategis bagi kehidupan mikroorganisme," pungkasnya.

Terpisah, Rektor UWG Malang, Dr. Anwar, SH., M.Hum., menyebut selama periode 2024-2026, UWG  berhasil meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penambahan 4 dosen berkualifikasi doktor, 21 kenaikan jabatan akademik dosen, 6 dosen tersertifikasi sebagai Dosen Profesional, serta pengangkatan 6 Guru Besar (Profesor) Emeritus. 

"Hal tersebut merupakan bentuk penguatan kepakaran, pembinaan akademik, dan keberlanjutan pengembangan institusi," katanya. 

Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.