Hari Anak Nasional 2026, Pakar Unair Ingatkan Pentingnya Orangtua Jaga Emosional yang Sehat
SURABAYA (Lentera) -Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 menjadi momentum bagi para orangtua untuk mengevaluasi pola pengasuhan di tengah tantangan era digital dan dominasi Generasi Alpha.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, orangtua dinilai tidak cukup hanya membatasi penggunaan gawai, tetapi juga perlu membangun hubungan yang hangat, responsif, dan menjadi pendamping anak dalam dunia digital.
Dosen Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Dr. Primatia Yogi Wulandari, S.Psi., M.Si., Psikolog, menjelaskan tantangan pengasuhan saat ini telah mengalami perubahan signifikan. Menurutnya, fokus utama orangtua bukan lagi sekadar mendisiplinkan anak, melainkan menciptakan ikatan emosional yang sehat agar anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh.
Primatia menuturkan masih banyak orang tua yang menganggap bentakan maupun hukuman fisik sebagai bagian dari pendidikan. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang responsif, penuh kehangatan, serta disertai batasan yang jelas jauh lebih efektif dalam membentuk kemampuan anak mengelola emosi, membangun rasa percaya diri, dan menyelesaikan masalah.
“Bukti ilmiah menunjukkan bahwa pengasuhan yang responsif, penuh kehangatan, sekaligus memiliki batasan yang jelas lebih efektif dalam membentuk pengelolaan emosi, rasa percaya diri, dan kemampuan anak menyelesaikan masalah,” jelasnya, Rabu (22/7/2026).
Ia menambahkan, pola komunikasi dua arah yang konsisten menjadi kunci dalam membangun kedekatan antara orangtua dan anak. Anak akan lebih terbuka untuk bercerita apabila merasa didengar, dihargai, dan tidak dihakimi.
Salah satu cara yang dapat diterapkan orangtua adalah metode active listening, yakni mendengarkan anak hingga selesai sebelum memberikan nasihat serta memvalidasi perasaan mereka. Menurut Primatia, budaya komunikasi yang masih bersifat hierarkis sering kali membuat anak enggan menyampaikan pendapat karena takut dianggap melawan.
“Memberi ruang bagi anak untuk berpendapat tidak akan mengurangi kewibawaan orangtua. Sebaliknya, hal itu justru memperkuat kelekatan sehingga anak akan menjadikan orangtuanya sebagai tempat mencari solusi ketika menghadapi masalah,” katanya.
Di era Generasi Alpha yang tumbuh berdampingan dengan teknologi, Primatia menilai orangtua perlu mengambil peran sebagai digital mentor, bukan sekadar digital police. Selain mengatur penggunaan gawai, orangtua juga harus mampu membimbing anak dalam memanfaatkan teknologi secara sehat dan aman, sekaligus memitigasi risiko kecanduan hingga perundungan siber (cyberbullying).
“Pendekatan yang paling sesuai adalah ketika orang tua mampu berperan sebagai digital mentor, bukan sekadar digital police, guna mengajarkan penggunaan teknologi secara sehat dan aman,” tuturnya.
Maraknya media sosial juga memunculkan tantangan baru berupa parental burnout akibat tekanan untuk memenuhi standar pengasuhan yang tidak realistis. Karena itu, orangtua dituntut meningkatkan literasi digital, termasuk dalam menyikapi fenomena sharenting atau kebiasaan membagikan konten anak di media sosial.
“Sebelum mengunggah konten tentang anak, orangtua sebaiknya mempertimbangkan kepentingan terbaik anak, hak privasi, dan jejak digital yang akan tetap ada hingga mereka dewasa,” paparnya.
Memaknai Hari Anak Nasional, Primatia mengungkapkan, investasi terbesar bagi masa depan bangsa bukan terletak pada fasilitas yang mahal, melainkan kualitas hubungan dalam keluarga. Menurutnya, anak tidak membutuhkan sosok orangtua yang sempurna, tetapi orangtua yang hadir secara utuh dalam kehidupan mereka.
“Luangkan waktu tanpa gangguan gawai untuk mendengarkan dan mendampingi anak, sebab keluarga yang aman dan hangat menjadi kunci dalam membesarkan generasi yang cerdas dan sehat secara mental,” pungkasnya.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH





.jpg)