OPINI (Lentera) -Apa sih Bro, Londo Ireng ? K
Kata ini dalam sekejap menyeruak ke seluruh negeri. Bahkan sampai manca negara. Dan para wartawan pun gerah.
Emangnya kenapa wartawan gerah? Gara-garanya, ucapan seorang presiden. Pada peringatan HUT ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kamis malam (23/7/2026), Presiden Prabowo menyebut kata "Londo Ireng". Londo = Belanda. Ireng = Hitam.
"Dulu ada yang ikut Belanda. Perang sama kita.Itu namanya Londo Ireng. Sekarang masih ada. Cuma pakai baju lain: wartawan, pengamat, LSM.
Lho, wartawan disamakan dengan Londo Ireng? Gawat ini Bro.....!!!
Londo Ireng itu sejatinya adalah pasukan Afrika yang direkrut Belanda. Mereka bergabung dalam KNIL yang diitugaskan di Indonesia. Menjaga kekuasaannya.
Kepanjangan KNIL adalah Koninklijk Nerderlands-Indisch Leger. Artinya, tentara Kerajaan Hindia Belanda. Mereka jadi tameng kekuasaan Belanda di Indonesia.
Tentara Belanda sendiri tidak dikerahkan turun ke Indonesia, karena Undang-undang melarangnya. Maka disewalah orang2 hitam, tinggi besar.
Ya, itulah orang Afrika. Selain orang Afrika, juga ada orang Jerman dan Belgia. Mereka adalah tentara bayaran. Iming-iming gaji gede, meneteskan air liur sebagian orang-orang Indonesia. Mereka berkianat. Ikutlah bergabung.
Bukalah buku sejarah. KNIL dengan pakaian, sepatu dan topi tentara produk Belanda. Senjata laras panjang LE, melintang di dada. Wouw...keren. Tampak gagah.
Bandingkan dengan teman yang berjuang untuk kemerdekaan. Baju -celana compang-camping. Bersenjatakan bambu runcing.
Hanya karena uang, harga diri digadaikan. Bajinguk.....!!!.
Orang Indonesia masuk KNIL. Berperang melawan bangsa sendiri Bro. Bahkan mereka lebih kejam dari KNIL yang berasal dari Jerman dan Belgia.
Bisa jadi karena dendam pribadi. Atau ingin hidup makmur dengan cara instan. KNIL pribumi kesetanan membantai sadis bangsa sendiri.
Untuk kepentingan penjajah, KNIL pribumi mencari simpati pada tuannya, Meneer Belanda. Menangkapi teman - teman yang berjuang untuk kemerdekaan.
Apakah wartawan begitu?
Sebegitu kejamkah wartawan Indonesia? Sebegitu rusakkah moral wartawan Indonesia dalam mengkianati bangsanya ? Sejarah membuktikan. Wartawan Indonesia bukanlah hanya menulis berita.
Jiwa nasionalisnya tak bisa ditawar - tawar. Mereka tak gentar menghadapi musuh. Mereka berjuang pake pena dan suara. Lewat media cetak dan radio. Wartawan menggelorakan semangat melawan penjajah.
Dengan radio, wartawan menyiarkan berdirinya negara RI. Dai Nippon lemas mendengar siaran radio Indonesia merdeka.
Dan para petinggi pemerintahan di Negeri Kincir angin gemetaran mendengar pernyataan Indonesia merdeka dari radio yang disiarkan Wartawan Indonesia.
Lantangnya suara Bung Tomo membakar semangat rakyat. Menggelegar, bak halilintar. Itu itu juga disiarkan radio ke seantero negeri.
Berkat siaran itu, Arek-arek Suroboyo, terbakar semangatnya untuk ikut maju ke garis depan. Meskipun hanya bersenjatakan bambu runcing.
Bro......siapa yang menyiarkan pidato Bung Tomo itu? Tak ada yang membantah. Itu wartawanlah. Sampai di sini paham....???
Kita tentu masih ingat nama-nama besar: Mochtar Loebis, Rosihan Anwar, Adam Malik, Djamaludin Adinegoro, BM Diah, Ki Hadjar Dewantoro, SK Trimurti, Agus Salim.
Betapa besar jasa-jasa mereka dalam usaha memerdekakan negeri ini dari tajamnya kuku penjajah. Kualat. Ya....kualat kalau kita tak menghargai jerih payah mereka untuk bangsa dan negara.
Jadi, jelas. Perjuangan wartawan Indonesia tak bisa dipisahkan dari perjuangan rakyat dan bangsa Indonesia untuk mencapai dan mempertahankan NKRI.
Kalaupun ada oknum wartawan memproduksi dan menyiarkan berita yang narasinya berusaha memecah belah bangsa. Atau berusaha menggoyahkan persatuan Indonesia. Harus ditindak tegas. Saya setuju 100 persen.
Namun, jangan digebyah uyah alias disamaratakan, dengan hanya menyebut : "wartawan". Kesannya kok semua wartawan Indonesia brengsek.
Tidak seperti itu. Wartawan Indonesia sekarang, tetap memegang teguh apa yang telah dicontohkan para tokoh pers.
Wartawan sekarang tak punya jiwa nasionalis lagi ? Sori lah yaw. Jangan begitulah, Bro (*)
Penulis: Subakti Sidik, Wartawan Senior|Editor: Arifin BH





.jpg)