20 July 2026

Get In Touch

Medikalisasi Ruang Publik: Ketika Dokter Jadi Selebritas Baru di Lini Masa

Medikalisasi Ruang Publik: Ketika Dokter Jadi Selebritas Baru di Lini Masa

Oleh: Agustina Widyawati, S.Sos., M.I.Kom*

Dulu, ruang periksa dokter terasa seperti sebuah labirin psikologis yang dipenuhi asimetri informasi. Dokter berada pada posisi sebagai pemilik otoritas pengetahuan dengan istilah-istilah medis yang terdengar asing, sementara pasien sering kali hanya menerima resep tanpa benar-benar memahami apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.

Kini, situasinya berubah. Tembok pembatas itu perlahan runtuh ketika para profesional medis mulai aktif di media sosial. Mereka menulis utas di berbagai kanal media sosial, membuat video edukasi, hingga berbincang di berbagai podcast. Dari sinilah lahir sosok dokter yang bukan hanya dikenal sebagai tenaga kesehatan, tetapi juga sebagai selebritas baru di lini masa.

Kita tentu tidak asing dengan dr. Tirta Mandira Hudhi yang dikenal lugas dan penuh humor, dr. Gia Pratama yang rutin membagikan kisah pasien melalui utas yang menyentuh, atau dr. Andreas Prasadja yang membahas sains tidur dengan gaya santai di kanal YouTube Raditya Dika. 

Berawal dari aktivitas di media sosial, mereka kini memiliki daya tarik hiburan sekaligus pengaruh sosial yang tak kalah besar dari figur publik lainnya. Menariknya, topik yang mereka angkat pun tidak selalu seputar penyakit atau obat-obatan. Mereka juga membahas investasi, tren gaya hidup, hingga dinamika kehidupan anak muda.

Fenomena ini menunjukkan lahirnya apa yang disebut sebagai medikalisasi ruang publik. Ruang publik digital perlahan berubah menjadi semacam ruang tunggu klinik dalam skala besar. Cara kita tidur, pola makan, gaya hidup, hingga cara mengelola stres kini semakin sering dipahami melalui sudut pandang medis. Penilaian terhadap berbagai aspek kehidupan sehari-hari pun kian dipengaruhi oleh otoritas para dokter yang kini hadir sebagai influencer.

Secara ilmiah, perubahan ini dapat dijelaskan melalui dua konsep besar dalam ilmu komunikasi, yakni Teori Komunikasi Dua Tahap (Two-Step Flow Theory) dan Interaksi Parasosial (Parasocial Interaction).

Dalam pola komunikasi klasik, institusi resmi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) atau jurnal ilmiah berperan sebagai gatekeeper (penyaring utama) informasi kesehatan. Kini, pola tersebut bergeser. Dokter yang aktif di media sosial hadir sebagai opinion leaders (pemimpin opini) yang menerjemahkan informasi medis yang rumit menjadi bahasa yang lebih mudah dipahami, lalu menyampaikannya langsung kepada masyarakat.

Melalui media baru, para opinion leaders ini juga membangun hubungan psikologis yang bersifat satu arah, tetapi terasa begitu dekat dengan audiens. Inilah yang disebut sebagai interaksi parasosial. Masyarakat melihat sisi keseharian mereka, mulai dari cerita kelelahan setelah jaga malam hingga selera humor yang sederhana. Kedekatan semacam ini membuat dokter tidak lagi dipandang sebagai sosok yang jauh dan kaku, melainkan seperti teman yang kebetulan memiliki pengetahuan medis. 

Kedekatan itulah yang membuat masyarakat lebih mudah menerima berbagai narasi kesehatan yang mereka sampaikan.

Namun, jika dilihat melalui perspektif Ekologi Media (Media Ecology) Marshall McLuhan, teknologi digital memiliki logikanya sendiri. Medium membentuk cara manusia berpikir dan bertindak (the medium is the message). Ketika otoritas medis harus berhadapan dengan ekonomi atensi (attention economy) media sosial yang mengutamakan sensasi, drama, dan viralitas, batas antara edukasi dan hiburan menjadi semakin kabur. Jika dorongan untuk menjadi selebritas lebih dominan daripada tanggung jawab profesi, maka panggung edukasi dapat dengan cepat berubah menjadi panggung kontroversi.

Kita tentu masih mengingat beberapa kasus yang sempat menjadi perhatian publik. Salah satunya adalah dr. Kevin Samuel yang mendapat sanksi etik dari IDI setelah membuat konten edukasi persalinan di TikTok dengan gestur yang dinilai tidak pantas dan merendahkan martabat perempuan. 

Kasus lain datang dari dr. Ayu Kusumaningrum, dokter estetika yang menuai kecaman luas hingga diberhentikan dari kliniknya setelah melakukan body shaming dan menyerang fisik influencer Amanda Zahra secara terbuka melalui Threads.

Di sinilah letak ironi medikalisasi ruang publik. Ketika seorang dokter telah menjadi figur publik, masyarakat tidak hanya menilai kompetensi medisnya, tetapi juga perilaku dan sikapnya. Setiap ucapan membawa konsekuensi moral yang lebih besar. 

Ketika seorang dokter mengabaikan batas etika demi mengejar klik, likes, atau popularitas, kepercayaan publik yang telah dibangun bertahun-tahun dapat runtuh dalam waktu singkat. Candaan yang dianggap biasa di lingkungan profesi atau opini pribadi yang keliru bisa dengan cepat berkembang menjadi krisis kepercayaan publik (public distrust).

Kehadiran dokter sebagai selebritas baru di lini masa merupakan perkembangan yang patut diapresiasi. Fenomena ini menunjukkan bahwa sains dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat, ringan, dan mudah dipahami. 

Medikalisasi ruang publik berpotensi menjadi sarana penting untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat apabila dikelola secara bijaksana dan disertai pemahaman yang baik terhadap ekologi media.

Namun, popularitas di ruang digital selalu datang bersama tanggung jawab yang lebih besar. Harus dipastikan bahwa pengaruh tersebut tetap digunakan sebagai sarana edukasi yang bertanggung jawab. Bukan sebagai ruang mempertontonkan ego atau memicu kontroversi. Inilah salah satu tantangan utama bagi para dokter di era media digital. Selamat bertugas Dok.

*penulis adalah dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Sunan Gresik (USG)

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera Today.
Lentera Today.