28 July 2026

Get In Touch

Makanan Dihinggapi Lalat, Masih Amankah Dimakan?

Makanan Dihinggapi Lalat, Masih Amankah Dimakan?

SURABAYA ( LENTERA ) - Makanan yang dihinggapi lalat sering kali langsung dianggap tidak layak dikonsumsi. Namun, para ahli menilai tingkat risikonya bergantung pada berapa lama lalat hinggap, jumlah lalat, serta kondisi makanan tersebut.

Jika hanya seekor lalat hinggap selama beberapa detik pada makanan yang baru dimasak, risikonya relatif rendah, terutama bagi orang dengan sistem kekebalan tubuh yang baik. Sebaliknya, apabila makanan dikerubungi banyak lalat dalam waktu lama, makanan tersebut sebaiknya tidak dikonsumsi karena peluang kontaminasi kuman jauh lebih besar.

Lalat Keluarkan Air Liur

Lalat rumah tidak memiliki gigi maupun rahang untuk mengunyah makanan. Untuk bisa makan, serangga ini mengeluarkan air liur yang mengandung enzim guna melarutkan makanan sebelum kemudian mengisapnya menggunakan belalai.

Proses tersebut kerap disebut sebagai lalat "memuntahkan" cairan ke makanan. Cairan itu merupakan bagian dari proses pencernaan lalat sebelum makanan masuk ke tubuhnya.
Masalahnya, lalat rumah kerap berpindah dari tempat-tempat yang kotor, seperti sampah, limbah, kotoran hewan, bangkai, maupun bahan organik yang membusuk, ke makanan manusia.

Sebuah studi yang dikutip IFLScience menyebut lalat rumah berperan sebagai penghubung antara lingkungan yang tercemar dan lingkungan yang bersih karena dapat berpindah bebas dari sumber kontaminasi menuju makanan maupun air minum.

Membawa Berbagai Patogen

Sejumlah penelitian menunjukkan lalat rumah mampu membawa berbagai mikroorganisme penyebab penyakit.

Sebuah tinjauan ilmiah mengidentifikasi sekitar 130 jenis patogen pada lalat rumah, mulai dari bakteri, virus, jamur, hingga parasit.
Dalam penelitian yang dipublikasikan di JDS Communications pada 2022, peneliti menemukan sejumlah bakteri pada lebih dari 100 lalat rumah yang ditangkap di sekitar peternakan di New York, Amerika Serikat. 

Bakteri tersebut antara lain Salmonella, Escherichia coli (E. coli), Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, dan Bacillus subtilis.
Patogen tersebut dapat menyebabkan keracunan makanan dengan gejala seperti mual, muntah, sakit perut, diare, hingga demam.

Kuman dapat berpindah ke makanan melalui kaki dan tubuh lalat yang menyentuh permukaan makanan. Selain itu, perpindahan juga dapat terjadi melalui cairan pencernaan maupun kotoran yang dikeluarkan lalat.

Tak Selalu Picu Sakit

Meski demikian, keberadaan bakteri pada lalat tidak otomatis membuat setiap makanan yang dihinggapinya menyebabkan penyakit.
Para ahli menjelaskan seseorang umumnya harus terpapar patogen dalam jumlah tertentu sebelum mengalami infeksi atau keracunan makanan. Karena itu, seekor lalat yang hanya hinggap sebentar belum tentu membuat makanan langsung berbahaya.

Makanan yang masih panas atau baru selesai dimasak juga cenderung memiliki tingkat kontaminasi awal yang lebih rendah dibandingkan makanan mentah atau makanan yang sudah lama dibiarkan pada suhu ruang.

Kapan Harus Dibuang?

Apabila hanya satu lalat hinggap dalam waktu singkat, sebagian besar pakar kesehatan menilai makanan masih memiliki risiko yang rendah untuk dikonsumsi, terutama jika kondisinya masih bersih dan baru dimasak.
Namun, risiko tersebut tidak sepenuhnya hilang karena lalat tetap dapat memindahkan mikroorganisme meski hanya menyentuh makanan beberapa saat.

Sebaliknya, makanan yang telah dikerubungi banyak lalat selama berjam-jam sebaiknya dibuang. Semakin lama kontak dan semakin banyak lalat yang hinggap, semakin besar pula peluang perpindahan patogen ke makanan.
Jika kondisi makanan tidak dapat dipastikan kebersihan dan keamanannya, langkah paling aman adalah tidak mengonsumsinya.(far,ist/dya)

Bahaya Kesehatan Makanan yang Dihinggapi Lalat

Berpotensi terkontaminasi bakteri, virus, jamur, dan parasit yang dibawa lalat dari lingkungan kotor.

Meningkatkan risiko keracunan makanan jika makanan terpapar patogen dalam jumlah yang cukup.

Lalat mengeluarkan cairan pencernaan (air liur) saat makan, yang dapat memindahkan mikroorganisme ke makanan.

Kuman juga dapat berpindah melalui kaki, tubuh, dan kotoran lalat yang menyentuh makanan.

Lalat diketahui dapat membawa sekitar 130 jenis patogen, termasuk:
Salmonella
Escherichia coli (E. coli)
Staphylococcus aureus
Bacillus cereus
Bacillus subtilis

Gejala yang dapat muncul akibat kontaminasi meliputi:
Mual
Muntah
Diare
Sakit atau kram perut
Demam

Risiko meningkat jika makanan dikerubungi banyak lalat atau dibiarkan terbuka dalam waktu lama pada suhu ruang.

Kelompok yang lebih rentan mengalami infeksi meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah.

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.