SURABAYA (Lentera) - Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bersama Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Provinsi Jawa Timur membahas upaya peningkatan sector ekonomi halal di Jatim. Pembahasan itu dilakukan dalam Rapat Koordinasi KDEKS Provinsi Jawa Timur, Senin (27/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Wagub Emil mengaku bangga akan prestasi yang diraih Jawa Timur pada sektor syariah. Pasalnya, dalam anugerah Adinata Syariah 2026, Jawa Timur menduduki peringkat pertama di Indonesia di kategori Zona Kuliner Halal, Aman, Sehat (KHAS); Pertumbuhan Pelaku Usaha Bersertifikasi Halal; serta Inovasi Ekonomi dan Keuangan Syariah.
"Tetapi prestasi ini bukan buat kita terlena dan berpuas diri, kita mencoba justru dalam rapat tadi untuk mengidentifikasi kekurangan-kekurangan kita. Karena kita bukan bekerja untuk sekedar penilaian Adinata Syariah, tapi untuk membawa manfaat nyata pengembangan ekonomi syariah di Jawa Timur," katanya dalam rapat yang diikuti Wakil Direktur Eksekutif I KDEKS Provinsi Jawa Timur Abdul Mongid beserta jajaran.
Wagub Emil menjelaskan, salah satu hal yang masih perlu diidentifikasi adalah tingkat ekspor halal. Pasalnya, jika dibandingkan denvan daerah yang komoditas sumber daya alam dan pangannya dominan, maka komposisi ekspor Jawa Timur mungkin tidak lebih menonjol.
"Kita memang meraih peringkat yang relatif tinggi di banyak kategori. Cuma untuk ekspor halal, kita tidak bisa lihat satu-satu. Misalnya, ada daerah yang menang karena justru ekspor sawitnya bisa lebih dari 20 miliar dolar. Sedangkan kalau kita ekspor pangan, angkanya ada di 2,5 miliar dolar, walaupun total ekspor kita bisa lebih dari 30 miliar dolar," jelasnya.
"Ini perlu dilihat komposisinya apa. Kita punya olahan, produk-produk machinery, produk-produk industrial, yang memang tidak pada tatanan yang dikategorisasikan sebagai produk yang bisa disertifikasi halal. Sebenarnya bisa kalau kita cari-cari. Misalnya, produksi sepatu dibuat bersertifikat halal. Tapi lebih baik energi kita difokuskan ke hal yang lebih urgent," lanjut Wagub Emil.
Untuk itu, dirinya mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur memprioritaskan sektor halal lain seperti sektor pangan yang menggagas program Kampung Sembelian Halal untuk produk ayam. Tak hanya itu, sektor pariwisata halal juga akan ditingkatkan di Jawa Timur.
"Kita fokus pada apa yang bisa menarik wisatawan Muslim mancanegara. Artinya bagaimana seorang wisatawan muslim bisa dengan tenang berwisata di sini. Tapi ini bukan lantas jadi eksklusif dan kita tidak welcome wisatawan yang bukan muslim, bukan. Tapi ada keyakinan mengenai tingkat implementasi halal yang bahkan telah banyak disadari di negara-negara yang Islamnya minoritas tanpa menghilangkan Inklusivitas," jelasnya.
Tak hanya pariwisata halal, Wagub Emil juga mendiskusikan terkait tingkat pengumpulan zakat di Jawa Timur. Tekankan pentingnya konsolidasi data, dirinya menjelaskan perlunya melihat potensi peningkatan ekosistem yang memfasilitasi zakat.
"Saya juga mewanti-wanti bahwa kehadiran negara dalam zakat ini tentu harus pada kadar yang pas. Karena zakat ini adalah keterpanggilan pribadi nurani umat Islam. Maka kita ini posisinya mewadahi saja. Mudah-mudahan setelah rapat ini kita bisa menginventarisasi langkah-langkah perbaikan yang urgent dan melibatkan peran dari seluruh dinas, karena ini bukan hanya tugas satu dinas saja," tuturnya.
Di akhir, Wagub Emil turut membicarakan laporan dan data yang perlu lebih terpadu. Mengingat,
tantangan konsolidasi data tidak hanya ada di KDEKS, tapi juga di semua lini.
"Bu Gubernur selalu Satu Data atau SATA. Tujuannya untuk melihat apakah kita ini bekerja ini dengan berbasis data atau tidak, memonitor data secara periodik atau tidak, dan mengumpulkan data ini dengan metode yang efisien atau tidak. Nah, inilah yang kemudian sudah secara bertahap dan gradual ditingkatkan. Kita tinggal melanjutkan aja arahan Bu Gubernur, sehingga yang masih tersisa residual ini bisa semua terkonsolidasi dengan baik," pungkasnya. (*)
Editor: Lutfiyu Handi





.jpg)