SURABAYA (Lentera) -Lima siswa SDN Tenggilis Mejoyo I Surabaya menciptakan aplikasi pembelajaran bahasa isyarat berbasis Artificial Intelligence (AI). Inovasi yang dikembangkan Tim Nebula One tersebut berhasil meraih Juara 1 kategori Young Innovators dalam ajang Impact Fest 2026.
Tim tersebut terdiri dari siswa kelas V dan VI, yakni Arjun, Shaka, Aghna, Siraj, dan Shauqi. Dengan bimbingan guru pendamping, mereka mengembangkan aplikasi bernama Sign Language Translator menggunakan platform Pictoblocks dan teknologi machine learning.
Ide pembuatan aplikasi berawal dari keprihatinan mereka terhadap masih terbatasnya pemahaman masyarakat mengenai bahasa isyarat. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi hambatan komunikasi antara masyarakat umum dengan penyandang disabilitas sensorik, khususnya tunarungu dan tunawicara.
Salah satu anggota Tim Nebula One, Shauqi, mengatakan gagasan tersebut muncul setelah mereka berdiskusi bersama guru pendamping mengenai persoalan sosial yang ada di sekitar.
“Aplikasi ini memuat materi pembelajaran Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) dan SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia). Kami ingin membantu masyarakat luas agar lebih mudah memahami dan belajar bahasa isyarat,” jelas Shauqi, Jumat (31/7/2026).
Pengembangan aplikasi dilakukan selama sekitar tiga hingga lima bulan. Para siswa memulai proses dari pencarian ide, riset mandiri, hingga pemrograman dasar.
Dalam prosesnya, mereka juga menghadapi sejumlah kendala, salah satunya kesalahan penerjemahan gerakan atau translation error. Persoalan tersebut diatasi melalui proses debugging dan penyempurnaan kode secara berulang.
Meski masih berupa prototipe, aplikasi tersebut dirancang untuk terus dikembangkan. Tim Nebula One menargetkan penambahan sejumlah fitur, antara lain Sign to Text untuk menerjemahkan bahasa isyarat menjadi teks, Text to Sign untuk mengubah teks menjadi bahasa isyarat, serta Voice to Sign untuk menerjemahkan suara ke bahasa isyarat.
“Kami berharap aplikasi ini kelak bisa diakses publik dan dipakai banyak orang untuk menghilangkan hambatan komunikasi dengan teman-teman disabilitas,” ujarnya.
Selain mengembangkan teknologi, para siswa juga mengajak teman-teman sebaya agar berani mengeksplorasi ide dan tidak takut mencoba hal baru. “Jangan takut salah. Kalau punya ide, langsung keluarkan dan teruskan. Bermain ponsel boleh untuk mencari ide, tetapi harus berani direalisasikan agar menjadi hal yang berguna bagi masyarakat,” tuturnya.
Keberhasilan Tim Nebula One juga mendapat dukungan dari SDN Tenggilis Mejoyo I Surabaya. Kepala sekolah Siti Noor Iffa mengatakan pihak sekolah berupaya memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi, baik melalui kegiatan pembelajaran di sekolah maupun aktivitas di luar sekolah.
Menurutnya, dukungan tersebut juga diperkuat melalui kolaborasi antara sekolah dan orang tua. “Alhamdulillah, selama ini sudah terjalin kolaborasi yang baik antara sekolah dan wali murid untuk mendukung prestasi anak-anak,” katanya.
Sementara itu, Guru pendamping Tim Nebula One, Ika Khusniyawati, mengatakan pemilihan tema bahasa isyarat tidak terlepas dari isu inklusivitas yang semakin mendapat perhatian dalam dunia pendidikan.
Para siswa terlebih dahulu diajak mendiskusikan isu edukasi berkelanjutan dan inklusivitas sebelum melakukan riset sederhana. Dari proses tersebut, mereka kemudian memilih mengembangkan aplikasi penerjemah bahasa isyarat.
Ia mengakui mendampingi siswa SD dalam proses belajar coding memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam menjaga fokus dan konsentrasi mereka. Namun, rasa ingin tahu dan sikap kritis anak-anak menjadi modal penting dalam proses pengembangan aplikasi.
Menurut Ika, prestasi tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran teknologi di tingkat sekolah dasar dapat diarahkan tidak hanya untuk mengasah kemampuan teknis, tetapi juga untuk menjawab persoalan sosial.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH




.jpg)