19 August 2026

Get In Touch

Cheese Platter Digandrungi, Intip Cara Membuatnya Sendiri

Cheese Platter Digandrungi, Intip Cara Membuatnya Sendiri

SURABAYA ( LENTERA ) - Cheese platter tengah digandrungi di Indonesia. Sajian berisi aneka keju, buah, crackers, selai, madu, hingga daging olahan itu kini tidak hanya ditemukan di restoran atau hotel. 

Supermarket ikut menjualnya dalam kemasan siap santap dengan harga puluhan ribu rupiah.
Salah satunya Gelael Tebet Signature, Jakarta Selatan. Cheese platter di sana ditawarkan mulai Rp25.000. Ada pula pilihan Rp35.000 dengan tambahan irisan daging asap atau pastrami.

Grand Lucky juga menawarkan cheese platter dengan beberapa pilihan. Platter A dibanderol Rp32.900, Platter B Rp39.900, sedangkan Platter C Rp64.900.

Isinya dibuat menyerupai cheese board yang biasa ditemukan di restoran. Platter A, misalnya, berisi anggur muscat, tomat ceri, keju cheddar Anchor, Bega Mild, cheddar Lactima, crackers, dan madu Uray.

Platter B mendapatkan tambahan walnut dan selai stroberi. Sementara Platter C memiliki tambahan keju brie serta porsi buah yang lebih banyak.

Harga yang relatif terjangkau menjadi salah satu alasan sajian ini menarik perhatian. Konsumen tidak perlu membeli beberapa jenis keju, buah, crackers, dan pendamping secara terpisah untuk menikmati satu porsi cheese platter.

Namun, tren ini bukan sekadar soal makanan murah yang viral.

Tradisi Kuliner Eropa

Cheese platter membawa tradisi kuliner Eropa yang telah berkembang selama berabad-abad. Kini tradisi tersebut dikemas ulang agar sesuai dengan gaya hidup konsumen Indonesia: praktis, mudah dibeli, menarik difoto, dan bisa dinikmati bersama.

Secara sederhana, cheese platter adalah sajian beberapa jenis keju yang ditata di atas papan atau nampan bersama makanan pendamping.
Pendampingnya bisa berupa crackers, roti, buah segar, kacang, madu, selai, acar, hingga daging olahan.

Tidak ada aturan tunggal mengenai komposisinya.Karena itu, cheese platter sangat fleksibel. Seseorang dapat menggunakan tiga jenis keju atau lebih, kemudian menyesuaikannya dengan buah dan pendamping yang tersedia.

Konsep tersebut berbeda dengan sekadar menyajikan sepiring keju.

Pada cheese platter, penataan menjadi bagian penting dari pengalaman makan. Warna, tekstur, ukuran potongan, dan posisi setiap bahan diperhitungkan agar terlihat menarik sekaligus mudah disantap.

Cheese platter tidak memiliki satu titik kelahiran yang pasti.Konsepnya berkembang dari tradisi masyarakat Eropa menyajikan keju sebagai bagian dari jamuan makan.

Keju sendiri telah dikenal manusia selama ribuan tahun. Salah satu fungsi awal pengolahan susu menjadi keju adalah memperpanjang masa simpan susu.

Dalam perkembangannya, keju menjadi bagian dari budaya kuliner di berbagai negara Eropa.
Prancis memiliki tradisi fromage yang kuat. Keju secara tradisional dapat disajikan sebagai cheese course, yakni setelah hidangan utama dan sebelum makanan penutup.

Dalam jamuan tertentu, beberapa jenis keju disajikan sekaligus. Keju kemudian dinikmati bersama roti dan makanan pendamping.
Tradisi serupa juga berkembang di Inggris.
Metropolitan Museum of Art di New York menyimpan cheese stand dari London yang dibuat pada 1764. Peralatan tersebut digunakan untuk menempatkan satu roda keju dalam jamuan.

Benda tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana penyajian keju telah memiliki tempat khusus dalam budaya makan Eropa sejak berabad-abad lalu.

Dari sinilah berkembang kebiasaan menyajikan keju bersama bahan lain.
Buah memberikan rasa manis dan segar. Crackers memberikan tekstur renyah. Madu dan selai menambahkan rasa manis. Sementara daging olahan memberi rasa gurih dan asin.

Konsep tersebut kemudian berkembang menjadi cheeseboard atau cheese platter modern.

Baru Ramai di Indonesia

Di Indonesia, cheese platter mendapatkan momentum ketika konsep makanan praktis bertemu dengan budaya media sosial.
Sajian ini punya tampilan yang mudah menarik perhatian. Potongan keju berwarna kuning dan putih dapat dipadukan dengan stroberi merah, anggur hijau, crackers cokelat keemasan, walnut, dan madu..Hasilnya fotogenik.

Bagi konsumen, terutama yang gemar mencoba tren kuliner, cheese platter juga menawarkan pengalaman mencoba makanan yang biasanya dianggap premium dengan harga relatif terjangkau.

Format siap santap ini membuat cheese platter semakin dekat dengan kebiasaan konsumsi sehari-hari.Tidak harus menunggu pesta.Tidak harus datang ke restoran. Bisa dibeli saat berbelanja kebutuhan rumah tangga.

Bisa dimakan sendiri. Bisa juga dibawa untuk kumpul bersama teman.

Tren ini sejalan dengan perkembangan makanan siap santap di berbagai negara. Supermarket semakin berfungsi bukan hanya sebagai tempat membeli bahan makanan, tetapi juga sebagai tempat mencari makanan yang praktis dan siap dikonsumsi.

Cheese platter mungkin berasal dari tradisi lama, tetapi cara orang menikmatinya terus berubah. Di Indonesia, tren itu kini menemukan bentuk baru: lebih murah, praktis, fotogenik, dan mudah dibuat sendiri.(far,ist/dya)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.