25 August 2026

Get In Touch

Maulid Nabi: Merubah Cinta Menjadi Keteladanan

KH. Mukharom Khadafi (keempat dari kiri) Pimpinan Pondok Pesantren Al Insyirah Wonokoyo, Sidoarjo, pada pengajian Maulid Nabi (Ist)
KH. Mukharom Khadafi (keempat dari kiri) Pimpinan Pondok Pesantren Al Insyirah Wonokoyo, Sidoarjo, pada pengajian Maulid Nabi (Ist)

SIDOARJO (Lentera) -Sayyid Abdurrahman Ad Diba’i mengibaratkan Kanjeng Nabi Muhammad Saw seorang pengantin. Pengantinnya alam semesta.

Sebagai seorang pengantin sudah semestinya menjadi pusat perhatian, maka kita sebagai umatnya pun menjadikan beliau pusat pandangan, dan pusat perhatian.

Demikian juga di saat Majlis Maulid, yang menjadi pusat perhatian. Fokus penglihatan, tujuan hati dan pikiran kita adalah Rasulullah SAW.

Ada satu waktu dimana hari sangat terik. Terik sekali. Teriknya melampui batas terik yang pernah ada dalam kehidupan manusia saat ini.

Saat itu tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Hanya tujuh orang yang selamat, diantaranya adalah: seorang laki-laki yang mendapatkan ajakan berzina dari perempuan yang cantik namun ditolaknya karena takut Allah Ta’ala.

Pesan itu disampaikan oleh KH. Mukharom Khadafi, Pimpinan Pondok Pesantren Al Insyirah Wonokoyo, Sidoarjo, pada pengajian Maulid Nabi..

Tahun ke 6 perjalanan Maulid 40 malam yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Al Insyirah Wonokoyo (Ist)
Tahun ke 6 perjalanan Maulid 40 malam yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Al Insyirah Wonokoyo (Ist)

Pengajian memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW itu berlangsung selama 40 hari. Berjalan setiap hari pada 2026 ini merupakan tahun ke-6.

“Dari tahun ke tahun jumlah jamaah naik. Setiap malam kira-kira 250-300 orang. Menjelang akhir bisa sampai 400 orang,” ujar Khadafi, Selasa dini hari (25/8/2026).

Tahun 2018 sarjana lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya itu memulai secara sederhana. Pemilik Biro Perjalanan Haji dan Umrah PT Manaya Indonesia itu mengajak anak-anak muda di sekitar rumahnya, mengadakan pengajian rutin pada hari Senin dan hari Rabu.

Kegiatan tersebut terbilang singkat. Kurang lebih satu jam. Dari pukul 20:00 sampai pukul 21:00 wib. Duapuluh lima menit terakhir diisi tausiah dan ditutup dengan doa yang disampaikan oleh Mukharam Khadafi.

Sebagai orang yang memiliki pengalaman luas mengantar jamaah tur ke berbagai negara, Khadafi digemari warga Keloposepuluh. Itu kelebihan yang dimiliki.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW selalu menghadirkan suasana religius di tengah umat Islam.

Selawat dikumandangkan, sirah Nabi dibacakan, majelis ilmu diselenggarakan, dan berbagai tradisi tumbuh sebagai ekspresi kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Fenomena tersebut merupakan modal spiritual yang penting. Namun terdapat pertanyaan mendasar: sudahkah kecintaan itu bertransformasi menjadi keteladanan dalam kehidupan? 

Di sinilah terdapat gap antara kemeriahan peringatan dan aktualisasi nilai kenabian.

Maulid tidak semestinya berhenti sebagai aktivitas memorial-seremonial, melainkan menjadi momentum refleksi dan transformasi diri.

Tahun ke 6 perjalanan Maulid 40 malam yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Al Insyirah Wonokoyo (Ist)
Tahun ke 6 perjalanan Maulid 40 malam yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Al Insyirah Wonokoyo (Ist)

Karena itu, Maulid memperoleh relevansi ketika mampu menghubungkan kesalehan ritual dengan kesalehan sosial. Kecintaan kepada Nabi seyogianya melahirkan perhatian terhadap fakir miskin, anak yatim, pendidikan generasi muda, tetangga, lingkungan, serta mereka yang membutuhkan pertolongan.

Di sinilah Maulid bergerak dari seremoni menuju aksi. Majelis Maulid dapat sekaligus menjadi momentum memperkuat solidaritas, pendidikan, gotong royong, pemberdayaan ekonomi umat, dan kepedulian lingkungan. Spirit rahmatan lil ‘alamin menemukan bentuknya ketika keberagamaan menghadirkan manfaat bagi kehidupan.

Esensi Maulid Nabi Muhammad SAW pada akhirnya tidak terletak pada seberapa meriah peringatannya, tetapi seberapa kuat nilai Rasulullah hidup setelah peringatan itu selesai.

Maulid adalah momentum untuk mempertemukan ingatan historis dengan refleksi spiritual dan tindakan sosial. Dari sanalah terbentuk sebuah alur transformasi: mengenal melahirkan cinta, cinta menggerakkan keteladanan, keteladanan membentuk akhlak, dan akhlak menghadirkan kemaslahatan.

Jika transformasi itu terjadi, Maulid tidak lagi sekadar menjadi peringatan kelahiran Nabi, tetapi menjadi momentum kelahiran kembali akhlak kenabian dalam diri umat. Itulah cinta yang bergerak dari selawat menuju keteladanan, dari kesalehan menuju kemaslahatan, dan dari seremoni menuju peradaban.

Memperingati Maulid Nabi, tambah Khadafi, selain mendapatkan pahala, kita juga bisa semakin banyak mendapatkan pemahaman-pemahaman baru dan menambah kecintaan kita terhadap Rasulullah SAW (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.