26 August 2026

Get In Touch

Jelang Muktamar ke-35 NU, Ketua Ansor Jatim Minta Kader Jaga Persaudaraan

Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur Musaffa Safril. (Dok. pribadi)
Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur Musaffa Safril. (Dok. pribadi)

SURABAYA (Lentera) – Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur, Musaffa Safril meminta seluruh kader Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) menjaga persaudaraan, serta marwah Nahdlatul Ulama (NU) menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026.

Musaffa mengatakan, Muktamar merupakan momentum penting untuk menentukan arah perjalanan jam’iyyah dan khidmah NU ke depan. Karena itu, dinamika menjelang forum tertinggi NU tersebut diharapkan tidak berkembang menjadi konflik yang merusak persatuan di kalangan kader.

“Saya meminta seluruh kader Ansor Jawa Timur untuk menjaga hati, menjaga lisan, menjaga sikap, dan menjaga marwah NU. Kita boleh berbeda pilihan, berbeda pandangan, serta menyampaikan kritik dan gagasan. Tetapi jangan pernah perbedaan pilihan membuat kita kehilangan persaudaraan,” kata Musaffa, Rabu (26/8/2026).

Menurutnya, perbedaan pilihan dalam Muktamar merupakan hal yang wajar dalam proses organisasi. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh membuat kader kehilangan orientasi utama dalam berkhidmah kepada NU.

“Jangan karena Muktamar, kita kehilangan NU,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan kader, agar tidak mudah terpengaruh provokasi, potongan informasi, kabar yang belum terverifikasi, maupun perang opini di media sosial. Ia meminta kader mengedepankan tabayyun sebelum mengambil kesimpulan.

“Jangan biarkan algoritma media sosial menentukan sikap kita terhadap saudara sendiri,” pesannya.

Musaffa mengatakan, kader Ansor dibesarkan dalam tradisi pesantren yang menempatkan adab, tabayyun, dan persaudaraan sebagai bagian penting dalam kehidupan organisasi. Karena itu, Muktamar harus ditempatkan sebagai ruang untuk adu gagasan dan memilih kepemimpinan, bukan menjadi arena permusuhan.

Musaffa juga memberikan perhatian khusus, kepada kader dan Banser Jawa Timur yang mendapat amanah dalam pengamanan Muktamar. Ia meminta, seluruh personel menjalankan tugas secara profesional dengan tetap mengedepankan pendekatan humanis, santun, dan beradab.

“Kita datang ke Tambakberas bukan untuk menunjukkan siapa yang paling kuat. Kita datang untuk menunjukkan bahwa Ansor adalah pemuda yang siap menjaga rumah besarnya:, Nahdlatul Ulama,” katanya.

Selain itu, Musaffa mengingatkan, kader yang memiliki hak suara maupun terlibat dalam proses pengambilan keputusan agar menggunakan amanah tersebut secara bertanggung jawab. Ia meminta kader tidak menjual suara, mempertukarkan idealisme, atau menggadaikan masa depan NU demi kepentingan sesaat.

Menurutnya, perbedaan pilihan dalam Muktamar harus tetap bermuara pada orientasi yang sama, yakni kemaslahatan NU, umat, dan bangsa.

Ia juga meminta, seluruh kader menerima hasil Muktamar dengan dewasa. Siapa pun yang terpilih nantinya, seluruh kader diharapkan kembali dalam satu barisan untuk melanjutkan khidmah organisasi.

“Jika pilihan kita menang, jangan jumawa. Jika pilihan kita kalah, jangan kecewa berlebihan. Sebab dalam tradisi NU, jabatan adalah amanah, bukan tujuan. Kepemimpinan adalah sarana khidmah, bukan alat untuk memuaskan ambisi,” tuturnya.

Musaffa mengajak, kader Ansor Jawa Timur tidak menjadi bagian dari keributan selama proses Muktamar. Sebaliknya, kader diminta menjadi bagian dari solusi dan ikut merawat persaudaraan di tengah perbedaan.

“Jangan menjadi generasi yang hanya sibuk memperebutkan posisi. Jadilah generasi yang memikirkan masa depan umat,” pesannya.

Ia menilai, NU merupakan rumah besar yang menaungi berbagai kelompok masyarakat, mulai dari kiai, santri, petani, nelayan, buruh, pengusaha, intelektual hingga generasi muda. Karena itu, rumah besar tersebut harus dijaga bersama dengan mengutamakan kepentingan jamaah.

Musaffa berharap, Muktamar ke-35 NU di Tambakberas dapat menghasilkan kepemimpinan yang kuat secara moral, luas wawasan, dekat dengan jamaah, mampu menjawab tantangan zaman, serta semakin responsif terhadap kebutuhan umat.

Untuk menyukseskan Muktamar ke-35, ia mengajak, seluruh kader Ansor Jawa Timur memegang tiga prinsip, yakni sejuk dalam sikap, dewasa dalam perbedaan, dan teguh dalam menjaga marwah NU.

“Ukuran keberhasilan NU bukan seberapa dekat ia dengan kekuasaan, tetapi seberapa dekat ia dengan jamaah,” pungkasnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.