30 August 2026

Get In Touch

5.000 Warga Ikut Madiun Menari 2026, Beksan Parisuko Jadi Simbol Pelestarian Budaya

Lebih dari 5.000 warga mengikuti Madiun Menari 2026 dengan tema “Satu Kota, Satu Gerak, Satu Irama” di Kota Madiun, Sabtu (29/8/2026) malam. (Ist)
Lebih dari 5.000 warga mengikuti Madiun Menari 2026 dengan tema “Satu Kota, Satu Gerak, Satu Irama” di Kota Madiun, Sabtu (29/8/2026) malam. (Ist)

MADIUN (Lentera) – Lebih dari 5.000 warga dari berbagai elemen masyarakat mengikuti Madiun Menari 2026 di Kota Madiun, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026) malam.

Mengusung tema “Satu Kota, Satu Gerak, Satu Irama”, kegiatan tersebut menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk mengenalkan sekaligus melestarikan budaya lokal.

Madiun Menari 2026 digagas oleh masyarakat dan pelaku seni yang menginginkan adanya ruang bersama untuk memperkenalkan budaya Kota Madiun secara lebih luas.

Pemerintah Kota Madiun dalam kegiatan tersebut berperan sebagai fasilitator untuk mendukung gagasan masyarakat.

Salah satu tarian yang ditampilkan dalam kegiatan kolosal tersebut adalah Beksan Parisuko, tarian ciptaan seniman Kota Madiun.

Tarian ini menjadi bagian penting dalam upaya mengenalkan budaya lokal kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Beksan Parisuko menggambarkan keindahan, kesuburan, rasa syukur kepada Tuhan, kehalusan budi pekerti, kesopanan, serta keselarasan kehidupan manusia dengan alam dan lingkungan.

Peserta Madiun Menari 2026 asal kelurahan Patihan, Agnes Asri Nurlinuih, mengatakan dirinya mengikuti kegiatan tersebut karena memiliki ketertarikan terhadap seni tari.

“Pastinya hobi nari. Terus diajakin ada Madiun Menari, jadi ingin menjadi bagian dari Madiun Menari ini,” kata Agnes.

Menurut Agnes, persiapan untuk mengikuti pertunjukan tersebut dilakukan sekitar satu bulan.

Ia juga menilai gerakan Beksan Parisuko tidak terlalu sulit dipelajari karena memiliki kemiripan dengan sejumlah gerakan tari yang sudah dikenalnya.

“Karena kalau senang itu pasti gampang,” ujarnya.

Agnes berharap Madiun Menari dapat menjadi ruang bagi para pelaku seni, khususnya penari di Kota Madiun, untuk lebih percaya diri menunjukkan kemampuan mereka.

“Semoga pelaku tari khususnya di Kota Madiun bisa lebih menonjolkan bakatnya. Semoga Madiun Menari ini bisa membuka buat orang-orang yang suka menari supaya bisa lebih percaya diri,” katanya.

Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun mengatakan Madiun Menari bukan merupakan kegiatan yang sepenuhnya digagas Pemerintah Kota Madiun. Menurut dia, kegiatan tersebut merupakan inisiatif masyarakat.

“Ini bukan kegiatannya Pemkot. Ini kegiatannya masyarakat, semua inisiasi masyarakat,” kata Bagus.

Ia mengatakan keterlibatan lebih dari 5.000 warga menunjukkan adanya semangat bersama untuk membangun identitas Kota Madiun sebagai kota budaya.

“5.000 lebih masyarakat Kota Madiun bergerak untuk membangun kota ini jadi salah satu kota budaya,” ujarnya.

Bagus mengatakan pemerintah daerah akan memperluas fasilitasi terhadap kegiatan kebudayaan yang lahir dari masyarakat, termasuk seni tari.

Ia berharap semakin banyak kegiatan serupa yang berasal dari inisiatif masyarakat.

“Harapan-harapan besarnya, saya ingin inisiasi-inisiasi kegiatan itu berasal dari masyarakat,” katanya.

Menurut Bagus, kegiatan kolosal seperti Madiun Menari juga berpotensi memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

“Besar sekali. Jadi yang jualan di sana insyaallah bukan balik modal lagi, dagangannya payu (laku keras),” ujarnya.

Apresiasi terhadap Madiun Menari juga datang dari Wakil Wali Kota Pekalongan Hj. Balgis Diab yang hadir langsung menyaksikan pertunjukan tersebut.

Balgis mengaku terkesan dengan antusiasme masyarakat yang terlibat dalam kegiatan itu.

“Ada 5.000 lebih penari yang bergerak bersama. Tentu ini menjadi suatu kebanggaan. Walaupun saya bukan warga Madiun, tetapi saya sangat bangga dengan pertunjukan yang spektakuler ini,” kata Balgis.

Ia menilai Madiun Menari menjadi salah satu cara untuk menjaga keberadaan budaya melalui keterlibatan masyarakat secara langsung.

Menurut dia, antusiasme warga terlihat dari banyaknya masyarakat yang tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi ikut menari.

“Saya melihat tidak ada satu penonton, semua ikut menari,” ujarnya.

Balgis juga mengapresiasi Kota Madiun yang menurutnya memiliki daya tarik tersendiri, terutama pada malam hari.

“Saya suka dengan Kota Madiun,” katanya.

Madiun Menari 2026 tidak hanya menempatkan masyarakat sebagai penonton pertunjukan seni. Ribuan warga justru menjadi bagian langsung dari pertunjukan tersebut.

Keterlibatan itu diharapkan dapat dilanjutkan melalui sekolah, sanggar seni, komunitas, keluarga, dan berbagai ruang kreatif lainnya.

Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berhenti pada satu malam pertunjukan, tetapi dapat menjadi bagian dari aktivitas masyarakat Kota Madiun secara berkelanjutan. (*)

 

Repoter : Wiwiet Eko Prasetyo
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.