SURABAYA ( LENTERA ) - Pola makan supermodel Miranda Kerr kembali menjadi perhatian. Bukan karena menu diet yang biasa ditemukan dalam panduan penurunan berat badan, melainkan karena daftar makanan yang ia pilih dan hindari cukup panjang.
Dalam podcast Let's Be Honest with Kristin Cavallari, Kerr menceritakan bagaimana ia mengubah pola makan setelah bertahun-tahun mengalami masalah pencernaan.
Pengakuannya kemudian ramai diperbincangkan di media sosial dan memicu pertanyaan: apakah pola makan yang cocok untuk seorang supermodel juga aman diterapkan orang lain?
Kerr, 43 tahun, mengatakan dirinya tidak mengonsumsi telur, produk susu, gandum, roti, nasi, serta minyak biji-bijian. Ia juga membatasi beberapa jenis ikan dan tidak lagi makan sushi. Sebagai gantinya, ia memilih sejumlah sumber protein seperti daging rusa, bison, domba dan kalkun.
Menu paginya pun cukup berbeda dari sarapan kebanyakan orang. Ia mengawali hari dengan sekitar 30 mililiter jus noni, dilanjutkan teh daun marshmallow, beberapa sendok yoghurt kelapa dengan madu dan sedikit pisang. Setelah itu, ia menikmati kopi dengan santan dan sirup maple.
Kerr mengatakan pola makan tersebut bukan semata-mata untuk mempertahankan bentuk tubuh. Ia mengaku mengubah kebiasaannya setelah mengalami masalah kesehatan dan memandang makanan sebagai bagian dari upayanya menjaga energi serta kesehatan tubuh.
Namun, ketika pola makan tersebut viral, sejumlah ahli gizi justru meminta publik tidak buru-buru menjadikannya sebagai resep hidup sehat.
Banyak Nutrisi Dihilangkan
Kekhawatiran utama ahli gizi bukan pada satu jenis makanan tertentu, melainkan pada seberapa banyak kelompok makanan yang dihilangkan sekaligus.
Ahli diet Sophia Deahl, menilai pembatasan terhadap roti, produk susu, gandum, telur dan minyak biji-bijian berpotensi membuat seseorang kehilangan sejumlah sumber nutrisi penting apabila tidak digantikan dengan makanan lain yang setara.
Nutrisi yang perlu diperhatikan antara lain serat, kalsium, zat besi, vitamin B dan asam lemak omega-3.
Ahli nutrisi Jess Baker juga menilai pola makan yang sangat terbatas dapat membuat sebagian orang kesulitan memenuhi kebutuhan energi. Dampaknya dapat berupa kelelahan, perubahan suasana hati hingga gangguan pencernaan.
Persoalan lainnya adalah keberlanjutan. Semakin panjang daftar makanan yang dianggap "tidak boleh", semakin sulit seseorang mempertahankan pola tersebut ketika makan di luar rumah, bepergian atau menghadiri acara sosial.
Di titik ini, diet yang awalnya dimaksudkan untuk menjaga kesehatan justru dapat membuat hubungan seseorang dengan makanan menjadi semakin kaku.
Meski demikian, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa seluruh pilihan makanan Miranda Kerr berbahaya.
Kerr sendiri menjelaskan bahwa pola makannya berkaitan dengan pengalaman kesehatan pribadi. Sejumlah laporan menyebut ia mengalami masalah pencernaan selama bertahun-tahun dan kemudian menerapkan pola eliminasi makanan yang menurutnya membantu kondisinya.
Inilah bagian yang sering hilang ketika pola makan selebritas menjadi viral di media sosial.
Apa yang cocok bagi seseorang belum tentu dibutuhkan orang lain.
Riwayat kesehatan, alergi, intoleransi makanan, kebutuhan energi, aktivitas fisik, usia, kondisi tubuh dan obat yang dikonsumsi dapat membuat kebutuhan nutrisi setiap orang berbeda.
Karena itu, ahli diet mengingatkan agar publik tidak menjadikan bentuk tubuh seorang selebritas sebagai bukti bahwa pola makan tertentu pasti berhasil.
"Ambil prinsipnya, bukan resepnya," demikian pesan Deahl yang dikutip Wolipop.
Daging Rusa untuk Sarapan
Salah satu bagian dari diet Kerr yang paling ramai dibicarakan adalah kebiasaannya mengonsumsi daging rusa, bison, domba atau kalkun sebagai sumber protein.
Bagi masyarakat yang terbiasa sarapan dengan telur, roti atau nasi, pilihan tersebut memang terdengar tidak lazim.
Namun, dari sisi nutrisi, daging bukanlah makanan yang otomatis buruk hanya karena berasal dari hewan buruan. Daging merah tanpa lemak dapat menjadi sumber protein, zat besi, zinc dan vitamin B12.
Masalahnya bukan sekadar mengganti telur dengan daging rusa. Yang lebih penting adalah memastikan keseluruhan pola makan tetap memenuhi kebutuhan tubuh.
Diet yang sehat membutuhkan variasi, bukan sekadar daftar makanan "bersih" dan "kotor".
Khawatir Salmon Bermerkuri
Kerr juga mengatakan dirinya hanya mengonsumsi sedikit salmon karena khawatir terhadap kandungan merkuri.
Kekhawatiran terhadap merkuri memang relevan dalam memilih ikan, tetapi jenis ikan tidak semuanya memiliki kadar merkuri yang sama.
Salmon justru umumnya termasuk pilihan ikan dengan kadar merkuri relatif rendah dan merupakan sumber asam lemak omega-3. Sejumlah panduan kesehatan memasukkan salmon sebagai salah satu pilihan ikan yang baik dalam pola makan seimbang.
Ahli gizi Jemma O'Hanlon juga mempertanyakan alasan membatasi salmon secara berlebihan. Menurutnya, ikan seperti salmon relatif aman dikonsumsi secara rutin, sementara ikan predator besar seperti ikan todak justru memiliki kadar merkuri lebih tinggi.
Artinya, menghindari semua ikan karena takut merkuri bukan pendekatan yang tepat. Yang lebih penting adalah mengetahui jenis ikan dan frekuensi konsumsinya.
Hindari Minyak Biji-bijian
Kerr sangat spesifik soal minyak. Ia mengatakan hanya menggunakan minyak kelapa atau minyak alpukat untuk memasak, sementara minyak zaitun digunakannya dalam keadaan tidak dimasak. Ia menghindari seed oils.
Namun, klaim bahwa seluruh minyak biji-bijian harus dihindari demi kesehatan tidak sesederhana itu.
Masalah dalam pola makan modern sering kali bukan keberadaan satu jenis minyak, melainkan seberapa sering dan dalam makanan seperti apa minyak tersebut dikonsumsi.
Minyak yang digunakan dalam makanan ultra-proses tentu berbeda konteksnya dengan penggunaan minyak dalam masakan rumahan yang secara keseluruhan kaya sayuran, protein, kacang-kacangan dan biji-bijian utuh.
Bahkan, O'Hanlon menilai minyak biji-bijian tidak otomatis bermasalah. Ia juga mengingatkan bahwa minyak kelapa memiliki kandungan lemak jenuh yang relatif tinggi sehingga bukan berarti minyak tersebut selalu menjadi pilihan paling sehat untuk semua kebutuhan.
Kerr juga menghindari gandum dan produk susu.Bagi orang dengan alergi, intoleransi atau kondisi medis tertentu, pembatasan makanan memang dapat diperlukan. Namun, bagi orang sehat, menghilangkan seluruh kelompok makanan tanpa alasan medis tidak otomatis memberikan manfaat tambahan.
Produk susu, misalnya, dapat menjadi sumber kalsium dan protein. Sementara gandum utuh dapat menyediakan karbohidrat kompleks, serat, vitamin dan mineral.
Jika seseorang memang perlu menghindari makanan tertentu, makanan penggantinya harus tetap menyediakan nutrisi yang sama.
Inilah yang sering terlupakan dalam budaya diet di media sosial, menghapus makanan jauh lebih mudah daripada mengganti nutrisi yang hilang.
Popularitas Kerr menunjukkan bagaimana pengalaman pribadi seorang figur publik dapat dengan cepat berubah menjadi tren kesehatan.
Masalahnya, potongan video berdurasi beberapa menit tidak pernah memperlihatkan seluruh konteks kehidupan seseorang. Publik tidak mengetahui seluruh hasil pemeriksaan medis, kebutuhan energi, kondisi kesehatan, riwayat makanan atau alasan klinis di balik setiap keputusan diet.
Bahkan dokter lifestyle medicine Idrees Mughal mengingatkan bahwa pola makan yang sangat restriktif perlu dilihat secara hati-hati. Ia menyebut pola tersebut dapat mendekati perilaku makan yang tidak sehat, meski menegaskan bahwa diagnosis tidak dapat diberikan hanya berdasarkan potongan video.
Pesan serupa muncul dari berbagai pemberitaan internasional. Media Australia juga menyoroti kekhawatiran ahli gizi bahwa diet Kerr terlalu sulit diterapkan secara luas dan dapat membuat masyarakat menghindari makanan bergizi tanpa alasan yang kuat. (far,ist/dya)




.jpg)