03 September 2026

Get In Touch

Alami Kerusakan Otot Usai Dihukum 200 Squat, Catat Bahayanya

Alami Kerusakan Otot Usai Dihukum 200 Squat, Catat Bahayanya

SURABAYA ( LENTERA ) - Hukuman fisik di tempat kerja berujung petaka bagi seorang pekerja muda di China. Perempuan bermarga Yang itu harus menjalani perawatan setelah mengalami rhabdomyolysis, kondisi ketika jaringan otot mengalami kerusakan berat dan melepaskan kandungannya ke dalam aliran darah.

Kasus tersebut terjadi setelah Yang dipaksa melakukan ratusan squat oleh atasannya karena gagal memenuhi target pekerjaan. Alih-alih sekadar kelelahan atau nyeri otot seperti yang lazim muncul setelah berolahraga, aktivitas fisik mendadak itu membuat Yang mengalami kerusakan otot serius dan berisiko mengalami gangguan ginjal.

Mengutip South China Morning Post, Yang baru pindah ke Hangzhou, Provinsi Zhejiang, untuk memulai pekerjaan pertamanya. Ia bekerja sebagai konsultan keuangan di sebuah perusahaan penyedia jasa bantuan pinjaman. Namun, posisi tersebut pada praktiknya merupakan pekerjaan telesales.

Manajer timnya, yang bermarga Zhang, menetapkan target harian yang cukup berat. Setiap karyawan diwajibkan melakukan 200 panggilan telepon, mengundang sedikitnya satu calon klien, serta mendapatkan sedikitnya satu persetujuan kerja sama setiap hari.

Pada 28 Juli 2026, Yang tidak mampu memenuhi target tersebut. Atasannya kemudian memberikan pilihan hukuman. Ia bisa membayar denda 50 yuan atau sekitar Rp110 ribu untuk setiap tugas yang tidak diselesaikan, atau menjalani hukuman fisik berupa squat.
Yang memilih hukuman fisik karena tidak memiliki cukup uang dan khawatir kehilangan pekerjaan pertamanya.

“Akuntak punya uang,” kalimat tersebut disampaikan Yang ketika menjelaskan alasan memilih melakukan squat ketimbang membayar denda. Dalam rekaman yang dibuat sebagai bukti untuk atasannya, Yang melakukan squat dalam beberapa sesi di sejumlah lokasi di gedung kantor.

Meski pilihan awal yang diberikan atasannya adalah 100 kali squat, Yang pada akhirnya menjalani 200 kali squat. Setelah menyelesaikan hukuman itu, kondisi fisiknya memburuk. Ia tidak mampu berdiri dengan baik dan berjalan sempoyongan.

Kedua kakinya mengalami nyeri hebat. Namun, Yang tidak langsung mencari pertolongan medis. Kendala finansial membuatnya menahan rasa sakit selama beberapa hari.

Ia baru pergi ke rumah sakit lima hari kemudian, setelah menyadari warna urinenya berubah menjadi gelap.

Perubahan warna urine menjadi gelap merupakan salah satu tanda penting rhabdomyolysis. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut tiga gejala yang umum muncul adalah nyeri otot yang lebih berat dari yang seharusnya, urine berwarna gelap seperti teh atau cola, serta tubuh terasa lemah atau kelelahan. 

Gejala tersebut juga tidak selalu muncul segera setelah cedera otot. Pada sebagian orang, tanda-tandanya baru terlihat beberapa jam bahkan beberapa hari kemudian.

Di rumah sakit, dokter mendiagnosis Yang mengalami rhabdomyolysis. Kondisi ini terjadi ketika sel-sel otot mengalami kerusakan dan melepaskan berbagai komponen ke dalam aliran darah, termasuk creatine kinase (CK) dan myoglobin.

Masalahnya bukan semata-mata pada otot yang rusak. Myoglobin yang dilepaskan dari jaringan otot dapat membebani ginjal dan dalam kondisi berat berkontribusi terhadap acute kidney injury atau gagal ginjal akut.

Hasil pemeriksaan laboratorium Yang menunjukkan kadar CK mencapai 16.000 U/L. Angka tersebut menunjukkan kerusakan otot yang sangat berat. Bahan awal menyebut angka 1.000 U/L sudah cukup untuk mengonfirmasi kondisi tersebut, tetapi dalam praktik klinis, batas diagnosis dapat berbeda bergantung pada pedoman dan konteks pasien. CDC menekankan bahwa pemeriksaan CK darah merupakan pemeriksaan penting untuk memastikan rhabdomyolysis dan pasien dengan dugaan kondisi tersebut dapat membutuhkan pemeriksaan berulang untuk memantau apakah kadar CK terus naik atau mulai turun.

Yang beruntung tidak mengalami kerusakan ginjal permanen. Ia menjalani perawatan medis dan diminta beristirahat total. Setelah kondisi fisiknya terganggu akibat hukuman tersebut, Yang akhirnya memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan.

Kasus Yang menunjukkan bahwa rhabdomyolysis bukan hanya persoalan atlet profesional. Kondisi tersebut juga dapat terjadi pada orang yang tiba-tiba melakukan aktivitas fisik berat yang belum biasa dilakukan tubuh.

Literatur medis mendeskripsikan exertional rhabdomyolysis sebagai kerusakan sel otot akibat aktivitas fisik berat. Aktivitas yang terlalu intens atau kontraksi otot yang dilakukan secara mendadak dan berlebihan dapat menyebabkan kerusakan jaringan otot.

Squat sendiri merupakan latihan yang banyak melibatkan otot tungkai, terutama kelompok otot paha dan bokong. Persoalannya bukan bahwa squat merupakan olahraga berbahaya. Yang menjadi risiko adalah beban, intensitas, jumlah repetisi, kondisi fisik seseorang, serta apakah tubuh sudah terbiasa dengan aktivitas tersebut.

Penelitian internasional juga menunjukkan bahwa rhabdomyolysis akibat aktivitas fisik paling sering berkaitan dengan latihan yang berat. Studi prospektif yang diterbitkan pada 2026 dan melibatkan 136 pasien dengan exertional rhabdomyolysis menemukan bahwa 78 persen kasus berkaitan dengan latihan kekuatan. Lima pasien atau sekitar 4 persen mengalami cedera ginjal akut.

Sebuah tinjauan sistematis lain terhadap 772 pasien menunjukkan rata-rata kadar CK saat pasien datang mencapai sekitar 31.481 U/L, dengan sejumlah kasus mencapai jauh lebih tinggi. Peneliti juga menekankan pentingnya mewaspadai kombinasi nyeri otot berat dan urine berwarna gelap setelah aktivitas fisik berat.

Namun, tingginya CK tidak otomatis berarti seseorang pasti mengalami gagal ginjal. Risiko komplikasi dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi tubuh, dehidrasi, panas, durasi dan intensitas aktivitas, serta faktor medis lainnya.

Karena itu, tanda-tanda setelah aktivitas fisik berat tidak seharusnya selalu dianggap sebagai pegal biasa. CDC menyarankan orang yang mengalami nyeri otot berat, urine berwarna gelap, atau kelemahan yang tidak biasa setelah aktivitas fisik untuk segera mencari pertolongan medis.(far,ist/dya)

Apa Itu Rhabdomyolysis?
Kerusakan berat jaringan otot yang membuat mioglobin masuk ke aliran darah dan dapat merusak ginjal.

Penyebab: Olahraga atau aktivitas fisik ekstrem, trauma/cedera otot, kompresi berkepanjangan, obat atau zat tertentu, heat stroke, dan infeksi berat.

Gejala: Nyeri dan kelemahan otot hebat, bengkak, serta urine berwarna gelap seperti teh atau cola.

Komplikasi: Gagal ginjal akut, gangguan elektrolit yang dapat memicu aritmia, hingga sindrom kompartemen.

Penanganan: Umumnya membutuhkan cairan infus dan pemantauan fungsi ginjal serta elektrolit. Pada komplikasi tertentu dapat diperlukan tindakan bedah atau terapi pengganti ginjal.

Catatan penting: Rhabdomyolysis dapat terjadi setelah olahraga berat, terutama jika aktivitas dilakukan secara mendadak atau jauh melampaui kemampuan tubuh.


 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.