03 September 2026

Get In Touch

ITS Kembangkan AngetKnee dan Elevaid Chair untuk Mobilitas Lansia

Demonstrasi pemasangan dan pengoperasian AngetKnee, rancangan tim ITS, kepada salah satu peserta sosialisasi.
Demonstrasi pemasangan dan pengoperasian AngetKnee, rancangan tim ITS, kepada salah satu peserta sosialisasi.

SURABAYA (Lentera) - Menjawab kebutuhan layanan kesehatan bagi lansia dengan keluhan lutut dan keterbatasan mobilitas, tim mahasiswa dan dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan inovasi bernama AngetKnee dan Elevaid Chair. Kedua inovasi tersebut memadukan terapi panas-getaran dan mekanisme transfer pasien berbasis linear actuator.

AngetKnee dirancang sebagai perangkat wearable yang mengintegrasikan penyangga lutut (knee support), terapi panas (thermal therapy), dan terapi getaran (mechanical vibration) dalam satu perangkat. Kombinasi tersebut dipilih karena dua metode terapi memiliki manfaat nonfarmakologis yang saling melengkapi untuk membantu meredakan keluhan nyeri dan kekakuan pada lutut penderita osteoarthritis.

Ketua tim pengembang Maulana Yusuf Izzuddin ST MEng menjelaskan bahwa integrasi ketiga fungsi tersebut ditujukan untuk menghadirkan perangkat terapi yang praktis bagi pengguna. “Kami ingin menggabungkan fungsi penyangga, terapi panas, dan getaran dalam satu perangkat yang ringkas dan portabel,” jelas lelaki yang biasa disapa Yusuf ini Kamis (3/9/2026).

Seluruh komponen AngetKnee, mulai dari heater pad, modul getar, sensor suhu, mikrokontroler, baterai, hingga enclosure elektronik, diintegrasikan dalam sistem nirkabel. Pengujian AngetKnee dilakukan pada suhu heater 38°C, 42°C, dan 46°C serta intensitas getaran 1 hingga 3. Dengan menggunakan Two-way ANOVA, hasil menunjukkan kombinasi suhu 42°C dan intensitas getaran level 2 memberikan respons terbaik bagi pengguna.

Sementara itu, Elevaid Chair dikembangkan untuk membantu proses transfer pasien dengan mekanisme naik-turun elektrik. Perangkat ini menggunakan linear actuator yang dikendalikan melalui saklar DPDT, sehingga posisi kursi dapat disesuaikan secara bertahap dan mengurangi kebutuhan pemindahan pasien secara manual.

Menurut Yusuf, mekanisme tersebut dirancang untuk mengurangi beban fisik pendamping ketika membantu pasien berpindah posisi. “Elevaid Chair dirancang untuk mengurangi kebutuhan mengangkat tubuh pasien secara manual saat proses transfer,” ungkap dosen Departemen Teknik Mesin ITS tersebut.

Yusuf membeberkan Elevaid Chair diuji pada variasi beban pasien 55, 70, dan 90 kilogram serta ketinggian transfer 45, 55, dan 65 sentimeter. Hasil pengujian menunjukkan beban pasien menjadi faktor dominan yang memengaruhi seluruh variabel respons. Kelancaran transfer paling optimal diperoleh pada beban sekitar 55 kilogram, sedangkan beban mendekati 90 kilogram menyebabkan kelancaran menurun dan guncangan meningkat. 

Temuan tersebut menjadi dasar penyempurnaan kedua inovasi sebelum diterapkan lebih luas. Tim menargetkan peningkatan kontrol suhu dan getaran pada AngetKnee serta kapasitas aktuator, kekuatan struktur, kestabilan, dan pengurangan guncangan pada Elevaid Chair. “Hasil pengujian menjadi dasar kami untuk menyempurnakan alat agar semakin aman dan sesuai kebutuhan pengguna,” paparnya.

Kedua teknologi tersebut juga telah diserahterimakan kepada Klinik Pratama Cita Husada dan perwakilan warga di Kecamatan Rungkut, Surabaya dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat. Penerapan dilakukan melalui sosialisasi, demonstrasi, pelatihan, praktik penggunaan, serta evaluasi performa dan penerimaan pengguna untuk mendukung adopsi teknologi dalam layanan kesehatan berbasis komunitas.

Pengembangan AngetKnee dan Elevaid Chair ini menunjukkan komitmen ITS dalam menerjemahkan teknologi mekanik menjadi solusi yang menjawab kebutuhan masyarakat. Inovasi ynag dikembangkan ITS tersebut turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya poin ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan teknologi kesehatan berbasis kebutuhan pengguna. (*)

Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.