ENAM gunung api erupsi dalam waktu berdekatan, tujuh bandara tutup, dan 341.000 penumpang terdampak. Sebutan negara di atas cincin api tentu tidak berlebihan. Indonesia menghadapi kenyataan sebagai salah satu negara paling rawan bencana di dunia. World Risk Index 2025 menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dengan skor 39,80, di bawah India yang mencatat 40,73. Dari sisi anggara India menyiapkan sekitar Rp42,1 triliun untuk respons bencana dan Rp10,5 triliun untuk mitigasi pada 2026-2027. Sedangkan Indonesia menyiapkan Rp5 triliun sebagai dana siap pakai. Hingga Senin (7/9/2026), aktivitas Gunung Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, Anak Krakatau, dan Sinabung berlangsung dalam periode berdekatan. Erupsi Anak Krakatau memberi dampak paling luas setelah abu vulkanik mengganggu penerbangan. Hingga berita ini ditulis, sebanyak 2.961 penerbangan terdampak dan sejumlah daerah memutuskan memperpanjang pembelajaran jarak jauh untuk menghindari paparan abu. Efeknya juga segera terasa di sektor ekonomi. INACA memperkirakan maskapai kehilangan Rp10-19 miliar per hari akibat pembatalan, penundaan, dan pengalihan penerbangan. Jika gangguan berlangsung sepekan, kerugian bisa mencapai Rp70-130 miliar. Dalam situasi tersebut, Presiden Prabowo Subianto meminta pemerintah menambah anggaran mitigasi secara signifikan, agar negara tidak terus-menerus mengejar dampak setelah bencana terjadi. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINI https://lenteratoday.com/upload/Epaper/08092026.pdf





.jpg)