SURABAYA ( LENTERA ) - Memulai pagi dengan secangkir kopi atau teh mungkin sudah menjadi ritual bagi banyak orang. Namun, sebelum memilih minuman pertama setelah bangun tidur, ada satu organ yang juga perlu diperhatikan yaitu ginjal.
Ginjal bekerja sepanjang waktu menyaring limbah dari darah, membuang kelebihan cairan melalui urine, menjaga keseimbangan mineral dan elektrolit, serta membantu mengatur tekanan darah. Karena itu, apa yang diminum setiap hari ikut berperan dalam menjaga fungsi organ tersebut.
Salah satu kebiasaan paling sederhana adalah memastikan tubuh mendapatkan cairan yang cukup. National Kidney Foundation (NKF) menyebut hidrasi yang baik membantu ginjal membuang limbah melalui urine dan menjaga keseimbangan cairan tubuh. Namun, kebutuhan cairan setiap orang berbeda, bergantung antara lain pada usia, ukuran tubuh, aktivitas, iklim dan kondisi kesehatan. Lantas, apa yang bisa menjadi pilihan minuman pada pagi hari?
Air Putih
Air putih tetap menjadi pilihan paling sederhana dan aman bagi kebanyakan orang.
Setelah tidur selama berjam-jam, tubuh tetap kehilangan cairan melalui pernapasan dan proses fisiologis lainnya. Minum air setelah bangun dapat membantu memenuhi kembali kebutuhan cairan sekaligus mendukung ginjal dalam memproduksi urine dan membuang zat sisa metabolisme.
NKF bahkan menempatkan air sebagai pilihan utama untuk kesehatan ginjal karena tidak mengandung gula, kalori, atau bahan tambahan yang tidak diperlukan. Hidrasi yang cukup juga membantu menurunkan risiko batu ginjal dan infeksi saluran kemih.
Namun, anggapan bahwa semua orang harus memaksakan diri minum tepat delapan gelas sehari juga tidak sepenuhnya tepat. Kebutuhan cairan bersifat individual.
Orang yang sehat umumnya dapat mengikuti rasa haus dan kebutuhan tubuh, sambil memperhatikan kondisi seperti cuaca panas, aktivitas fisik, demam, muntah atau diare.
Sebaliknya, orang dengan penyakit ginjal kronis stadium lanjut atau gagal ginjal, terutama pasien dialisis, justru mungkin harus membatasi asupan cairan. Terlalu banyak minum pada kondisi tersebut dapat menyebabkan cairan menumpuk di tubuh.
Kopi Hitam
Bagi pencinta kopi, kabar baiknya, kopi tidak otomatis menjadi minuman yang harus dihindari untuk menjaga ginjal.
Sejumlah penelitian observasional justru menemukan hubungan antara konsumsi kopi dan risiko penyakit ginjal kronis yang lebih rendah. Salah satu studi kohort menemukan konsumsi satu cangkir kopi per hari berkaitan dengan risiko penyakit ginjal kronis yang lebih rendah dibandingkan tidak minum kopi. Konsumsi dua cangkir atau lebih juga menunjukkan hubungan serupa.
Penelitian lain terhadap lebih dari 14 ribu peserta yang diikuti hingga sekitar 24 tahun juga menemukan konsumsi kopi lebih tinggi berkaitan dengan risiko penyakit ginjal kronis yang lebih rendah setelah sejumlah faktor diperhitungkan.
Namun, temuan tersebut bukan berarti semakin banyak kopi semakin sehat. Hubungan yang ditemukan dalam penelitian semacam ini tidak otomatis membuktikan bahwa kopi secara langsung mencegah penyakit ginjal.
Pilihan yang lebih sederhana adalah kopi hitam tanpa tambahan gula berlebihan, sirup, atau krimer tinggi gula.
National Kidney Foundation juga mengingatkan bahwa bagi orang dengan penyakit ginjal, kandungan tambahan pada kopi dapat menjadi persoalan karena susu dan krimer dapat meningkatkan kandungan kalium maupun fosfor. Kafein juga dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah sementara pada sebagian orang.
Jadi, kopi boleh menjadi bagian dari rutinitas pagi, tetapi porsinya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh.
Teh Hijau Tawar
Teh hijau bisa menjadi alternatif bagi mereka yang menginginkan minuman dengan kafein lebih rendah dibandingkan kopi.
Teh hijau mengandung polifenol, yaitu kelompok senyawa tanaman yang memiliki aktivitas antioksidan. Sejumlah penelitian epidemiologi juga mengeksplorasi hubungan konsumsi teh dengan kesehatan ginjal.
Salah satu studi prospektif besar di Jepang yang melibatkan lebih dari 110 ribu orang menemukan konsumsi teh hijau berkaitan dengan risiko kematian akibat penyakit ginjal kronis yang lebih rendah pada perempuan dalam beberapa kategori konsumsi. Namun, hubungan tersebut tidak ditemukan pada laki-laki dan penelitian itu sendiri tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.
Karena itu, teh hijau lebih tepat ditempatkan sebagai pilihan minuman sehat dalam pola makan secara keseluruhan, bukan sebagai terapi penyakit ginjal.
Agar manfaatnya tidak diimbangi dengan asupan gula berlebih, pilih teh hijau tanpa gula atau dengan tambahan pemanis seminimal mungkin.
Jus Cranberry Tanpa Gula
Jus cranberry juga kerap dikaitkan dengan kesehatan saluran kemih. Buah cranberry mengandung senyawa yang diteliti karena potensinya menghambat bakteri menempel pada saluran kemih.
Namun, perlu dibedakan antara kesehatan saluran kemih dan kesehatan ginjal. Jus cranberry bukan pengganti pengobatan infeksi saluran kemih, apalagi infeksi ginjal.
Untuk pilihan sehari-hari, jika memilih jus cranberry, perhatikan labelnya. Banyak produk jus mengandung gula tambahan dalam jumlah tinggi. NKF memasukkan jus buah tanpa tambahan gula sebagai salah satu pilihan minuman yang dapat dikonsumsi secara moderat, sekaligus mengingatkan konsumen untuk memperhatikan kandungan gula dan nutrisi pada produk kemasan.
Dengan kata lain, segelas jus cranberry tidak otomatis lebih sehat hanya karena mengandung cranberry. Jenis produk dan jumlah yang dikonsumsi tetap penting.
Menjaga ginjal tidak cukup hanya dengan memilih minuman yang tepat setiap pagi.
Pola makan seimbang, aktivitas fisik, menjaga berat badan, mengontrol tekanan darah dan gula darah, serta menghindari kebiasaan yang dapat merusak ginjal tetap menjadi bagian penting dari pencegahan penyakit ginjal.
Penyakit ginjal kronis juga sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal. NKF mencatat kondisi tersebut dapat berlangsung perlahan dan baru menimbulkan masalah ketika fungsi ginjal sudah mengalami penurunan. (far,ist/dya)





.jpg)