MALANG (Lentera) - Capaian program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kota Malang masih berada di bawah target provinsi, hingga akhir Agustus 2026.
Rendahnya kesadaran masyarakat untuk secara mandiri memeriksakan kondisi kesehatan, menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat dalam memperluas cakupan program tersebut.
"Target dari provinsi itu 46 persen. Dari target tersebut, yang sudah kami capai baru 57 persen. Maka 57 persen itu bukan berarti sudah 57 persen penduduk yang diperiksa, tetapi baru 57 persen dari target 46 persen yang ditetapkan provinsi," ujar Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kota Malang, Agus Widodo, Sabtu (12/9/2026).
Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat untuk memeriksakan kondisi kesehatannya secara mandiri.
"Kalau kami lihat, masyarakat Kota Malang yang mau dengan sadar memeriksakan dirinya itu sepertinya masih kurang," katanya.
Untuk mempercepat cakupan pemeriksaan, Dinkes mulai memperluas strategi pelaksanaan CKG dengan pendekatan jemput bola. Salah satunya dilakukan melalui kerja sama dengan kalangan akademisi, termasuk pemeriksaan kesehatan bagi mahasiswa baru.
Selain itu, Agus menyebut, tim CKG juga melakukan pemeriksaan di berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat. Dinkes membuka peluang kolaborasi dengan penyelenggara kegiatan agar layanan pemeriksaan kesehatan dapat hadir langsung di lokasi.
"Setiap ada event, dari tim CKG itu akan mendatangi ke lokasi," kata Agus.
Ke depan, pola jemput bola tersebut juga akan diarahkan ke berbagai institusi pemerintahan maupun perusahaan. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat peningkatan cakupan CKG di Kota Malang.
Di sisi lain, pelaksanaan CKG memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan masyarakat Kota Malang. Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan, meskipun tidak menyebut angka persentase secara detail, Agus mengatakan hipertensi menjadi penyakit yang paling banyak ditemukan.
Setelah hipertensi, temuan berikutnya adalah karies gigi dan diabetes. Agus menyebut hasil ini masih didominasi penyakit tidak menular atau penyakit degeneratif.
Menurutnya, temuan penyakit-penyakit tersebut menunjukkan adanya persoalan pola hidup yang perlu menjadi perhatian. Hipertensi misalnya, yang kini tidak hanya berkaitan dengan faktor usia, tetapi juga dapat dipengaruhi kebiasaan sehari-hari.
Ia menyoroti, pola makan, kurangnya aktivitas fisik, hingga kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji sebagai sejumlah faktor yang perlu diperhatikan masyarakat.
Karena itu, pihaknya menilai peningkatan cakupan CKG perlu berjalan beriringan dengan penguatan promosi kesehatan. Masyarakat tidak hanya didorong untuk mengetahui kondisi kesehatannya, tetapi juga memahami pentingnya menerapkan perilaku hidup sehat untuk menekan risiko penyakit tidak menular.
Agus berharap, peningkatan cakupan CKG nantinya dapat memberikan gambaran kondisi kesehatan masyarakat secara lebih menyeluruh, baik pada tingkat individu maupun wilayah.
Dengan data hasil pemeriksaan yang semakin luas, kata Agus, kondisi kesehatan masyarakat di masing-masing wilayah dapat dipetakan. Hal tersebut nantinya dapat menjadi dasar bagi Puskesmas dalam menentukan langkah penanganan maupun upaya kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan wilayahnya.
"Dengan cakupan CKG yang tinggi, sehingga kami bisa mengetahui perorangan, atau di suatu wilayah. Sehingga solusi ke depannya, treatment-nya, itu terpetakan di masing-masing Puskesmasnya," jelas Agus.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais






.jpg)