SURABAYA ( LENTERA ) - Kasus seorang siswi berusia 16 tahun, FY, setelah mengalami keracunan dalam peristiwa yang melibatkan ratusan pelajar di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, memunculkan pertanyaan baru, apakah keracunan makanan bisa sampai mengganggu fungsi otak dan menyebabkan seseorang kehilangan ingatan?
Keracunan makanan umumnya dikenal melalui gejala seperti mual, muntah, diare, sakit perut dan demam. Namun, pada kondisi berat, dampaknya dapat meluas ke organ lain.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut sebagian penyakit akibat makanan dapat menimbulkan komplikasi serius, termasuk meningitis, kerusakan ginjal, hemolytic uremic syndrome (HUS), hingga kerusakan otak dan saraf.
CDC juga memasukkan kejang dan kebingungan sebagai gejala yang dapat muncul pada infeksi tertentu, seperti listeriosis invasif.
Dokter umum sekaligus dokter PJK3, dr. Ferry Kusmalingga, menjelaskan bahwa secara medis hubungan antara keracunan berat dan gangguan sistem saraf memang memungkinkan.
“Yang harus dipahami, kejang itu adalah bentuk manifestasi klinis. Simpelnya pasti ada yang menyebabkan kejang tersebut,” kata Ferry.
Menurut Ferry, dokter perlu mencurigai gangguan pada otak atau sistem saraf ketika pasien mengalami perubahan fungsi neurologis yang tidak biasa. Tanda-tandanya dapat berupa penurunan kesadaran, kebingungan, disorientasi, perubahan perilaku drastis, delirium, hingga ketidakmampuan mengenali orang terdekat.
Gangguan ingatan yang baru muncul setelah seseorang mengalami sakit juga perlu diperhatikan. Begitu pula gangguan bicara, kelemahan atau mati rasa pada satu sisi tubuh, gangguan berjalan dan koordinasi, kejang, perubahan respons pupil, sakit kepala berat yang disertai muntah atau penurunan kesadaran, serta gangguan penglihatan baru.
Bagaimana Bisa Memengaruhi Otak?
Salah satu mekanismenya dapat terjadi secara tidak langsung.
Muntah dan diare berat membuat tubuh kehilangan banyak cairan. Bila tidak segera diganti, kondisi tersebut dapat menyebabkan dehidrasi dan volume darah turun. Tekanan darah kemudian dapat ikut menurun sehingga aliran darah ke otak berkurang.
“Misal nih pasiennya muntah, diare berat lalu dehidrasi, volume darah turun, tekanan darah turun, aliran darah ke otak berkurang, fungsi otak terganggu,” jelas Ferry.
Otak sangat bergantung pada pasokan oksigen, glukosa dan aliran darah yang memadai. Gangguan pada salah satu komponen tersebut dapat memengaruhi fungsi otak.
CDC juga mengingatkan bahwa muntah atau diare yang menyebabkan dehidrasi merupakan salah satu alasan seseorang perlu mendapatkan pertolongan medis. Tanda dehidrasi antara lain jarang buang air kecil, mulut kering dan pusing ketika berdiri.
Selain dehidrasi, keracunan berat dapat disertai gangguan elektrolit. Kadar natrium yang terlalu rendah atau terlalu tinggi, misalnya, dapat memicu kebingungan, kejang hingga penurunan kesadaran.
Gula darah yang terlalu rendah atau hipoglikemia juga harus diwaspadai. Dalam kondisi berat dan berlangsung lama, hipoglikemia dapat menyebabkan kejang, koma bahkan cedera otak.
“Hipoglikemia bisa menyebabkan kejang, koma, bahkan cedera otak bila berat dan berkepanjangan,” kata Ferry.
Sepsis Juga Ganggu Fungsi Otak
Keracunan akibat infeksi juga dapat berkembang menjadi infeksi sistemik atau sepsis.
CDC mendefinisikan sepsis sebagai respons ekstrem tubuh terhadap infeksi yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan, kegagalan organ, bahkan kematian bila tidak ditangani dengan cepat. Infeksi yang berujung sepsis dapat bermula dari saluran pencernaan. Salah satu tanda yang dapat muncul adalah kebingungan atau disorientasi.
Ferry menjelaskan, pada kondisi sepsis dapat terjadi gangguan fungsi otak yang dikenal sebagai sepsis-associated encephalopathy. Kondisi tersebut dapat muncul akibat respons inflamasi sistemik dan gangguan mikrosirkulasi, meskipun infeksi tidak secara langsung menyerang otak.
Karena itu, gangguan saraf setelah keracunan tidak selalu berarti racun atau bakteri langsung menyerang jaringan otak. Gangguan tersebut bisa merupakan konsekuensi dari kondisi tubuh yang sangat berat.
Risiko dari E. coli dan HUS
Salah satu komplikasi yang perlu diperhatikan pada penyakit akibat makanan adalah hemolytic uremic syndrome atau HUS, terutama pada infeksi Shiga toxin-producing Escherichia coli (STEC).
HUS merupakan komplikasi serius yang dapat menyebabkan anemia, penurunan trombosit dan gangguan ginjal. Dalam kondisi tertentu, komplikasi ini juga dapat menimbulkan masalah neurologis.
CDC menyebut HUS dapat menyebabkan kerusakan ginjal, masalah kesehatan permanen bahkan kematian. Tanda yang perlu diwaspadai antara lain berkurangnya produksi urine, darah dalam urine, mudah memar, kelelahan berat dan penurunan kesadaran. (CDC)
Karena itu, pada pasien dengan keracunan berat, pemeriksaan tidak cukup hanya mencari bakteri penyebab gangguan pencernaan.
Ferry mengatakan dokter juga perlu memeriksa kadar gula darah, natrium, kalium, kalsium dan magnesium. Fungsi ginjal melalui ureum dan kreatinin, fungsi hati, analisis gas darah, laktat, darah lengkap, hemoglobin dan trombosit juga dapat diperiksa sesuai kondisi pasien.
“Ini sama pentingnya dengan mencari bakteri juga,” ujar Ferry.
Jika dokter mencurigai STEC, pemeriksaan juga dapat diarahkan pada toksin Shiga, termasuk Stx1 dan Stx2. Sementara pemeriksaan terhadap Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia atau Vibrio dilakukan sesuai gejala dan kondisi epidemiologis.
Untuk mengetahui penyebab kejang atau gangguan memori, dokter tidak dapat mengandalkan satu pemeriksaan.
Menurut Ferry, penilaian perlu menggabungkan kronologi penyakit, pemeriksaan neurologis, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan otak dan informasi mengenai kemungkinan infeksi atau paparan toksin.
Pemeriksaan lanjutan dapat mencakup CT scan atau MRI otak, EEG, pemeriksaan darah hingga pungsi lumbal pada kondisi tertentu. Tidak semua pemeriksaan harus dilakukan pada setiap pasien karena jenis pemeriksaan bergantung pada gejala dan kronologi penyakit.
EEG terutama digunakan ketika pasien mengalami kejang atau perubahan kesadaran yang belum dapat dijelaskan.
“EEG bila ada kejang atau perubahan kesadaran yang tidak terjelaskan,” kata Ferry.
Jika terdapat kecurigaan meningitis atau ensefalitis, dokter dapat mempertimbangkan pungsi lumbal untuk mengambil cairan serebrospinal atau CSF. Cairan tersebut kemudian dapat dianalisis melalui PCR, kultur atau serologi sesuai patogen yang dicurigai.
Tidak Berarti Otak Rusak Permanen
Pertanyaan penting berikutnya adalah apakah gangguan ingatan setelah keracunan akan menetap.
Ferry mengatakan seseorang memang dapat mengalami amnesia atau gangguan memori setelah episode keracunan berat. Risiko tersebut terutama berkaitan dengan kondisi seperti kekurangan oksigen, tekanan darah yang sangat rendah, kejang berkepanjangan, hipoglikemia atau gangguan metabolik berat.
“Jadi pasien bisa mengalami amnesia atau gangguan memori setelah episode keracunan berat, terutama bila sebelumnya mengalami hipoksia, hipotensi berat, kejang berkepanjangan, hipoglikemia, atau gangguan metabolik berat,” ujarnya.
Namun, gangguan fungsi otak sementara tidak sama dengan kerusakan jaringan otak permanen.
“Gangguan memori sementara karena otak ‘terganggu secara fungsional’ itu tidak sama dengan kerusakan jaringan otak permanen,” kata Ferry.
Dalam sejumlah kasus, fungsi kognitif dapat membaik setelah kondisi tubuh kembali stabil.
“Pada banyak kasus keracunan, fungsi kognitif membaik setelah tekanan darah, oksigenasi, elektrolit, infeksi, dan metabolisme kembali normal,” ujarnya.
Temuan tersebut sejalan dengan prinsip bahwa dampak penyakit akibat makanan sangat bergantung pada penyebab, tingkat keparahan dan komplikasi yang terjadi. WHO, misalnya, mencatat bahwa infeksi Campylobacter pada sebagian kecil kasus dapat diikuti komplikasi neurologis seperti Guillain-Barré syndrome, yang dapat menyebabkan gangguan neurologis berat.
Dapat dijelaskan secara medis adalah keracunan berat memang dapat memicu kondisi yang mengganggu fungsi otak, antara lain melalui dehidrasi, tekanan darah rendah, kekurangan oksigen, gangguan elektrolit, hipoglikemia, sepsis atau kejang berkepanjangan. Tetapi mekanisme tersebut tidak otomatis menjadi diagnosis untuk kasus tertentu.
Keracunan makanan pada umumnya dapat pulih dengan perawatan yang tepat. Namun, masyarakat perlu waspada ketika gejala menjadi berat.
CDC menyarankan mencari pertolongan medis ketika diare berlangsung lebih dari tiga hari, terdapat darah pada tinja, demam tinggi, muntah berulang hingga tidak mampu mempertahankan cairan, atau muncul tanda dehidrasi.
Pada kondisi yang disertai kebingungan, penurunan kesadaran, kejang, gangguan bicara, kelemahan anggota tubuh, perubahan perilaku drastis atau kesulitan mengenali orang terdekat, pemeriksaan medis menjadi semakin penting.
Kasus FY menunjukkan bahwa persoalan keracunan makanan tidak selalu selesai ketika muntah dan diare mereda. Pada sebagian kasus berat, dokter masih harus mencari kemungkinan komplikasi sistemik dan neurologis yang muncul setelah fase akut.(far,tir,ist/dya)






.jpg)