22 September 2026

Get In Touch

Waspada Mukbang Ekstrem Picu Risiko Hipokalemia

Waspada Mukbang Ekstrem Picu Risiko Hipokalemia

SURABAYA ( LENTERA ) - Kematian kreator mukbang asal China, Chen Ziyi atau Ganfan Yingying, di usia 24 tahun kembali menyoroti risiko kesehatan di balik tren konten makan dalam jumlah ekstrem.

Chen meninggal pada 17 Agustus 2026. Kabar tersebut dikonfirmasi keluarganya melalui pengumuman duka yang beredar pada awal September. Penyebab resmi kematiannya belum diumumkan keluarga.

Namun, sebelum meninggal, Chen sempat dirawat di rumah sakit dan mengungkap kadar kalium dalam darahnya turun hingga 2,3 mmol/L. Ia juga pernah bercerita mengenai kebiasaannya memuntahkan kembali makanan setelah makan dalam jumlah besar. Laporan media menyebut kondisi tersebut kemudian dikaitkan dengan dugaan henti jantung, meski hubungan sebab-akibatnya belum dikonfirmasi secara resmi. 

Kasus ini memunculkan satu pertanyaan penting, apakah mukbang dapat menyebabkan kekurangan kalium?

Kalium merupakan elektrolit penting yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi saraf, otot, termasuk otot jantung.
Kadar kalium darah umumnya berada sekitar 3,5 mmol/L atau lebih. Ketika turun di bawah batas tersebut, kondisi disebut hipokalemia.

Namun, dokter menegaskan bahwa makan dalam jumlah sangat banyak tidak dengan sendirinya menyebabkan hipokalemia. Risiko yang lebih besar muncul ketika aktivitas makan ekstrem diikuti perilaku kompensasi seperti muntah yang disengaja atau penggunaan obat pencahar.

Hal itu menjadi penting dalam kasus Chen karena ia mengaku kerap memuntahkan makanan setelah sesi makan. Media Brasil Folha de S.Paulo, yang membahas kasus tersebut, juga menekankan bahwa persoalan kalium lebih berkaitan dengan kehilangan elektrolit akibat perilaku seperti muntah dan penggunaan pencahar dibandingkan semata-mata karena makan berlebihan.

Muntah Menurunkan Kalium

Muntah berulang dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan elektrolit. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan keseimbangan elektrolit, termasuk hipokalemia.
Tinjauan medis mengenai komplikasi gangguan makan menunjukkan bahwa hipokalemia sering berkaitan dengan perilaku purging, termasuk muntah yang disengaja dan penyalahgunaan pencahar atau diuretik. Kehilangan cairan juga dapat memicu perubahan hormonal yang menyebabkan ginjal semakin banyak membuang kalium melalui urine. 

Artinya, masalahnya bukan sekadar makanan yang masuk dalam jumlah besar, tetapi apa yang dilakukan tubuh setelah makanan tersebut dikonsumsi.

Pola seperti makan dalam jumlah ekstrem kemudian memaksa tubuh mengeluarkan kembali makanan dapat menciptakan siklus kehilangan cairan dan elektrolit. Jika berlangsung berulang, risikonya semakin besar.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan pada 2026 juga menemukan gangguan elektrolit cukup sering terjadi pada orang dengan gangguan makan. 

Dari 20 studi yang mencakup 25.401 orang, hipokalemia merupakan salah satu kelainan elektrolit yang paling sering ditemukan, dengan prevalensi gabungan sekitar 15 persen dalam studi-studi yang dianalisis. 

Chen mengatakan kadar kaliumnya sempat mencapai 2,3 mmol/L.Angka tersebut berada pada kategori hipokalemia berat. Literatur medis menyebut kadar kalium yang sangat rendah dapat menyebabkan kelemahan otot, kram, gangguan irama jantung dan, pada kondisi tertentu, komplikasi yang mengancam nyawa. 

Jantung sangat bergantung pada keseimbangan elektrolit untuk mempertahankan aktivitas listrik normal. Ketika kadar kalium turun terlalu rendah, aktivitas listrik tersebut dapat terganggu dan memicu aritmia.

Karena itu, hipokalemia berat bukan kondisi yang sebaiknya ditangani sendiri dengan mengonsumsi makanan atau suplemen kalium secara sembarangan. Penyebabnya perlu diketahui dan kadar elektrolit dipantau oleh tenaga medis.

Gangguan elektrolit yang berat dapat menyebabkan komplikasi jantung dan saraf. Karena itu, seseorang yang mengalami muntah berulang, diare berkepanjangan atau menggunakan pencahar dan kemudian mengalami kelemahan berat, jantung berdebar atau gangguan kesadaran perlu mendapatkan pemeriksaan medis. 

Mukbang sendiri merupakan format konten, bukan diagnosis atau penyakit. Tidak semua orang yang membuat konten makan mengalami gangguan elektrolit.

Yang menjadi persoalan adalah ketika konten tersebut menuntut konsumsi makanan dalam jumlah ekstrem dan dilakukan berulang kali.
Makan dalam jumlah sangat besar dalam waktu singkat dapat memberikan tekanan pada sistem pencernaan. Literatur medis juga mencatat risiko seperti pelebaran lambung akut, sementara muntah yang disengaja dapat menyebabkan gangguan elektrolit, refluks, dan masalah pada saluran cerna. 

Jika makanan yang dikonsumsi didominasi produk tinggi gula, garam dan lemak, pola tersebut juga dapat meningkatkan risiko masalah metabolik apabila berlangsung terus-menerus. Folha de S.Paulo menyoroti sejumlah risiko lain dari konsumsi makanan ekstrem, termasuk gangguan pencernaan dan metabolisme. 

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika kreator merasa harus mempertahankan berat badan sambil tetap memenuhi tuntutan makan dalam jumlah besar di depan kamera.

Ketika Konten Makan Bertemu Perilaku Purging

Kasus Chen memperlihatkan persoalan yang lebih luas daripada sekadar tren mukbang.
Ketika seseorang makan dalam jumlah sangat besar untuk kebutuhan konten, kemudian merasa harus memuntahkan makanan atau menggunakan pencahar agar berat badan tetap terkontrol, pola tersebut dapat menjadi persoalan kesehatan serius.

Dalam konteks gangguan makan, perilaku purging diketahui berkaitan dengan berbagai kelainan elektrolit. Penelitian terbaru bahkan menemukan orang dengan gangguan makan memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami kelainan elektrolit dibandingkan kelompok kontrol. 

Karena itu, tanda seperti muntah yang disengaja setelah makan, penggunaan pencahar untuk mengompensasi makanan, ketakutan berlebihan terhadap kenaikan berat badan, atau kebutuhan untuk terus melakukan makan ekstrem sebaiknya tidak dianggap sekadar bagian dari pekerjaan sebagai kreator.

Kasus Chen menjadi pengingat bahwa apa yang terlihat sebagai hiburan beberapa menit di layar dapat memiliki konsekuensi yang jauh lebih panjang bagi tubuh.

Pesan terakhirnya pun kembali menjadi perhatian setelah kematiannya.“Walaupun mencari uang itu penting, kesehatan harus selalu jadi prioritas utama.”(far,ist/dya)
 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.