22 September 2026

Get In Touch

Jangan Tetap Optimis Menghadapi Kegagalan, Guru Besar UB Tawarkan Model "Lebur Duka Labur Rasa"

Guru Besar Universitas Brawijaya (UB) Prof. Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D., ditemui pada Senin (21/9/2026). (Santi/Lentera)
Guru Besar Universitas Brawijaya (UB) Prof. Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D., ditemui pada Senin (21/9/2026). (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Menjalani hidup tidak harus memaksakan diri untuk tetap optimistis ketika berhadapan dengan kegagalan, kehilangan, maupun pengalaman yang menyakitkan.

Pandangan inilah yang ditawarkan Guru Besar Universitas Brawijaya (UB) Prof. Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D., melalui model psikologi "Lebur Duka Labur Rasa", yang menempatkan realitas kehidupan sebagai bagian penting dalam memahami pengalaman manusia. Mengajak individu menjalani kehidupan secara lebih realistis, memahami diri, dan menata langkah ke depan.

Dijelaskannya, gagasan ini berangkat dari pandangan kritis terhadap model hedonis dalam psikologi arus utama yang menitikberatkan pada selebrasi ego, kesenangan hidup, dan optimisme. "Model ini memandang segala hal terjadi karena syaratnya telah tercukupi, terlepas dari pemaknaan subjektif," ujarnya, Senin (21/9/2026).

Menurutnya, psikologi kerap berjalan tanpa panduan filosofis yang cukup dalam membongkar akar persoalan manusia. Karena itu, ia menawarkan pendekatan yang berpijak pada realitas kehidupan dan tradisi kontemplasi yang dikenal di dunia Timur.

Gagasan tersebut akan disampaikan Prof. Cleo dalam kajian ilmiah berjudul "Lebur Duka Labur Rasa: Model Psikologi Berbasis Realitas Kehidupan" pada pengukuhan profesor UB, Selasa (22/9/2026). Ia merupakan profesor kelima di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) sekaligus profesor ke-458 di UB.

Lebih lanjut, dalam model Lebur Duka Labur Rasa, individu juga diajak melihat dirinya bukan sebagai entitas yang sepenuhnya solid atau tetap. Prof. Cleo menyebut, terdapat 3 ciri diri atau three marks of self, yakni mineness, centeredness, dan selfhood.

"Mineness berkaitan dengan rasa kepemilikan. Perasaan bahwa tubuh merupakan milik seseorang dapat terbentuk karena tubuh tersebut selalu menyertai kehidupannya," katanya.

Sementara centeredness merupakan kecenderungan berpikir, diri sendiri adalah pusat dari pengalaman. Adapun selfhood berkaitan dengan ilusi kontinuitas bahwa seseorang merupakan pribadi yang unik dan istimewa.

Ketiga hal tersebut dipandang sebagai sesuatu yang cair. Dengan memahami sifat tersebut, individu tidak diarahkan untuk terus menambahkan sesuatu ke dalam dirinya, tetapi justru melepaskan sejumlah hal yang dapat mengganggu ketenangan dalam menjalani kehidupan.

Prof. Cleo menyebut, penerapan model ini dapat membantu individu kehilangan kemarahan, ketakutan, maupun ketidaktenangan. Namun, kondisi tersebut bisa dipandang sebagai kelemahan apabila kekuatan seseorang selalu dipahami sebagai kemampuan untuk terus menambah atau mendapatkan sesuatu.

Tidak Pesimistis, tetapi Realistis

Prof. Cleo menegaskan, model tersebut tidak secara khusus ditujukan untuk kasus tertentu. Penekanannya, yakni bagaimana individu dapat menjalani kehidupan secara lebih realistis.

Realistis dalam konteks tersebut, bukan berarti menjadi pesimistis. Begitu pula bukan berarti memaksakan diri untuk selalu optimistis ketika realitas yang dihadapi justru tidak sesuai dengan harapan.

Menurutnya, kegagalan kerap terasa menyakitkan bukan hanya karena seseorang gagal mencapai sesuatu, tetapi juga karena sebelumnya terdapat harapan untuk berhasil.

"Individu tidak kaget di dalam menjalani kehidupan pada saat apa yang mereka hadapi tidak sesuai dengan yang diinginkan," ujarnya.

Ia mencontohkan seseorang yang mengikuti sebuah kompetisi. Kemungkinan yang tersedia tidak hanya kemenangan, tetapi juga kekalahan.

Dengan memahami kemungkinan tersebut, individu diharapkan tidak membangun ekspektasi hasil yang diinginkan merupakan satu-satunya kemungkinan. Cara pandang ini kemudian dapat membuat seseorang lebih siap menghadapi kenyataan ketika hasil yang diperoleh berbeda dari keinginannya.

"Kalaupun kalah, individu tidak harus buru-buru menutupi rasa sakit dengan keyakinan akan segera mendapatkan hal yang lebih baik. Kalah memang pengalaman menyakitkan, tetapi kalau kita bisa belajar dari rasa sakit itu untuk kemudian belajar kenal diri sendiri, belajar menata ke depan seperti apa, itu sebenarnya akan membuat individu lebih bugar secara mental," tuturnya.


Prof. Cleo menegaskan, "Lebur Duka Labur Rasa" tidak diarahkan untuk menghapus pengalaman duka, kegagalan, atau rasa sakit dari kehidupan. Sebaliknya, model tersebut menempatkan pengalaman-pengalaman itu sebagai bagian dari realitas yang perlu dipahami secara lebih jernih.

"Menjalani kehidupan secara realistis berarti tidak terjebak pada pesimisme, tetapi juga tidak memaksakan optimisme ketika kenyataan berkata lain," pungkasnya.

Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.