24 September 2026

Get In Touch

Sontek Ritual 90 Detik Pramugari agar Menginap di Hotel Aman

Sontek Ritual 90 Detik Pramugari agar Menginap di Hotel Aman

SURABAYA ( LENTERA ) - Banyak orang punya kebiasaan yang sama begitu tiba di hotel setelah perjalanan panjang: meletakkan koper, melepas sepatu, lalu langsung rebahan di kasur.

Pramugari justru punya ritual berbeda. Sebelum membongkar koper atau beristirahat, mereka meluangkan waktu sekitar 90 detik untuk memeriksa kamar.

Kebiasaan ini dikenal sebagai “hotel room autopsy”. Istilah tersebut digunakan CabinCrew24, platform informasi untuk awak kabin. Menurut laporan tersebut, sejumlah awak kabin terbiasa melakukan pemeriksaan singkat setiap kali tiba di kamar hotel karena mereka menghabiskan ratusan malam di berbagai hotel, dengan standar keamanan dan aturan keselamatan yang berbeda-beda.

Pemeriksaan ini bukan berarti wisatawan harus mencurigai setiap kamar hotel. Tujuannya sederhana yaitu mengenali kondisi kamar, memastikan sistem keamanan berfungsi, dan mengetahui jalur keluar sebelum keadaan darurat terjadi.

“Ini bukan kebiasaan karena gugup,” tulis CabinCrew24. Kebiasaan tersebut disebut lahir dari pengalaman bertahun-tahun tidur di kamar hotel yang berbeda, termasuk di berbagai negara dengan aturan keselamatan dan tingkat keamanan yang tidak selalu sama.

Dimulai Memindai Kamar

Begitu masuk, langkah pertama adalah memeriksa seluruh ruangan untuk memastikan tidak ada orang lain di dalam kamar.
Dalam laporan Travel + Leisure, pintu kamar bahkan disarankan tetap terbuka atau ditahan selama pemeriksaan awal. Selain memastikan tidak ada orang lain, cara ini memberi kesempatan untuk keluar dengan cepat apabila ditemukan sesuatu yang mencurigakan.

Aura Martinez, pramugari asal New York yang telah bekerja selama 19 tahun, mengatakan pemeriksaan tersebut tidak perlu dilakukan secara berlebihan.

“Saya hanya ingin mengenali ruangan dan memastikan semuanya terlihat sebagaimana mestinya,” kata Martinez.

Setelah itu, pemeriksaan dilanjutkan ke bagian kamar yang tidak langsung terlihat. Kamar mandi, area shower, bathtub, lemari pakaian, hingga bagian belakang tirai menjadi beberapa titik yang diperiksa.

Travel + Leisure menyebut bagian pemeriksaan ini hanya membutuhkan waktu sekitar 15 detik.

Cari Tangga Darurat

Setelah memastikan kamar dalam kondisi normal, perhatian beralih pada hal yang sering dilewatkan tamu hotel adalah jalur evakuasi.

Wisatawan dianjurkan melihat denah evakuasi yang biasanya ditempel di bagian belakang pintu kamar. Dari sana, cari tahu posisi tangga darurat terdekat dan arah yang harus ditempuh dari kamar.

Brian Rooney, konsultan perjalanan sekaligus pendiri GetCruiseInfo.com, mengingatkan bahwa keadaan darurat bukan waktu yang tepat untuk baru mempelajari denah bangunan.

“Dalam situasi darurat, itu bukan waktu yang tepat untuk baru mempelajari denah bangunan,” kata Rooney.

Martinez juga menyarankan tamu mengingat apakah dari kamar mereka harus bergerak ke kiri atau kanan dan memperkirakan jarak menuju tangga darurat.

Panduan resmi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat juga merekomendasikan wisatawan segera memeriksa rencana evakuasi ketika tiba di penginapan. Wisatawan diminta mengetahui pintu keluar darurat terdekat dan memahami rute evakuasi.

Cek Kunci, Pintu dan Jendela

Langkah berikutnya adalah memastikan sistem pengunci kamar berfungsi.
Periksa pintu utama, deadbolt, pengait pengaman, serta jendela atau pintu balkon jika tersedia. Pastikan semuanya dapat ditutup dan dikunci dengan baik.

Travel + Leisure menyebut pemeriksaan kunci ini merupakan salah satu bagian penting dari ritual 90 detik tersebut.

Departemen Luar Negeri AS juga memasukkan pemeriksaan kunci pintu dan jendela sebagai bagian dari daftar keselamatan penginapan. Pemeriksaan tersebut mencakup pintu kamar, pintu kamar mandi, hingga akses balkon atau patio jika ada.

Untuk wisatawan yang bepergian sendiri, pemeriksaan ini menjadi semakin relevan. Pemerintah Australia melalui Smartraveller juga menyarankan wisatawan memastikan kamar memiliki lubang intip dan sistem penguncian yang memadai, serta mengunci pintu selama berada di kamar.

Coba Telepon Kamar 

Ponsel mungkin selalu berada di tangan, tetapi telepon yang tersedia di kamar hotel sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai fasilitas usang.

Awak kabin menyarankan tamu memastikan telepon kamar dapat digunakan dan tersambung. Dalam keadaan tertentu, perangkat tersebut dapat menjadi alternatif untuk menghubungi resepsionis atau meminta bantuan apabila ponsel pribadi bermasalah.

Panduan Departemen Luar Negeri AS juga memasukkan pengecekan telepon kamar dalam daftar keselamatan penginapan. Selain itu, wisatawan dianjurkan memeriksa keberadaan alarm kebakaran, alat pemadam, dan detektor karbon monoksida jika tersedia.

Jangan Langsung Buka Pintu

Satu kebiasaan lain yang disarankan awak kabin adalah berhati-hati ketika seseorang mengetuk pintu kamar.

Jika ada orang yang mengaku sebagai staf hotel, jangan langsung membuka pintu. Rooney menyarankan tamu menghubungi resepsionis terlebih dahulu untuk memastikan identitas orang tersebut.

Departemen Luar Negeri AS juga menyarankan wisatawan bertemu orang asing atau pengunjung baru di area publik seperti lobi, bukan langsung di kamar.

Nomor kamar juga sebaiknya tidak disebut keras-keras di area publik. CabinCrew24, sebagaimana dikutip Travel + Leisure, memasukkan hal tersebut sebagai salah satu kebiasaan keselamatan bagi tamu hotel.

Pengaman Tambahan 

Bagi wisatawan yang ingin menambah lapisan keamanan, terutama mereka yang bepergian sendirian, alarm pintu portabel atau ganjal pintu dapat digunakan.

Dalam ritual pramugari, alat tersebut menjadi langkah terakhir. Alarm portabel ditempatkan di bagian bawah pintu sehingga dapat berbunyi jika pintu dibuka.

Namun, alat tambahan tersebut bukan pengganti kunci utama kamar. Fungsi pengunci bawaan hotel tetap menjadi perlindungan utama.

Smartraveller juga menyebut ganjal pintu dapat digunakan sebagai pengamanan tambahan ketika seseorang berada di dalam akomodasi.
Martinez turut menyarankan wisatawan membawa senter kecil. Benda yang kerap dianggap sepele itu dapat berguna jika terjadi pemadaman listrik atau keadaan darurat lainnya.

Ritual 90 detik ini pada dasarnya bukan ajakan untuk menganggap hotel sebagai tempat berbahaya. Justru, pemeriksaan singkat dilakukan agar wisatawan mengetahui kondisi lingkungan sebelum benar-benar bersantai.

Departemen Luar Negeri AS merekomendasikan wisatawan memahami rencana darurat penginapan, termasuk prosedur menghadapi kebakaran, pemadaman listrik, badai, atau banjir.

Smartraveller juga menekankan pentingnya memilih akomodasi dengan cermat, memeriksa ulasan terkait keamanan, serta memastikan fasilitas dasar seperti telepon dan sistem penguncian kamar berfungsi.
Rooney merangkum kebiasaan tersebut dengan sederhana.

“Luangkan satu atau dua menit untuk memeriksa kamar, kunci, dan jalur evakuasi. Setelah itu, nikmati perjalanan Anda,” kata Rooney.

Martinez pun menegaskan tujuan pemeriksaan bukan membuat wisatawan takut.
“Tujuannya adalah bersiap, bukan merasa takut,” ujarnya.(far,ist/dya)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.