BATANG (Lentera) – Puluhan warga lanjut usia (lansia) dan anak-anak diduga keracunan setelah mengkonsumsi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Posyandu, Kelurahan Rowobelang, Kecamatan/Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Jumlah warga menjalani rawat inap, akibat diduga keracunan setelah mengkonsumsi PMT hingga, Rabu (23/9/2026) pukul 10.00 WIB bertambah. Sebanyak 14 orang yang menjalani rawat inap di RSUD Batang, sementara 27 warga lainnya menjalani rawat jalan.
Pada data sebelumnya, Selasa (22/9/2026), jumlah warga yang menjalani rawat inap ada 10 orang dan 31 lainnya rawat jalan.
Kasi Surveilans, Imunisasi dan KLB Dinas Kesehatan Batang, Khairunnisa mengatakan dari 41 warga yang mengalami gejala, 13 diantaranya laki-laki dan 28 perempuan. Mereka mengalami berbagai keluhan mulai dari sakit perut, mual, muntah, lemah, perut melilit, sakit kepala, demam, mengigil, hingga perut kembung.
“Dinas Kesehatan Kabupaten Batang juga melakukan penyelidikan epidemiologi dan investigasi higiene sanitasi untuk mencari sumber kejadian,” katanya mengutip Kompas.com, Rabu (23/9/2026).
Ia mengatakan, sejumlah sampel telah dikirim ke laboratorium rujukan, meliputi kacang hijau, roti tawar, tahu bacem, feses kasus, serta air sumur bor milik salah satu warga.
Selain itu, pihaknya juga tengah melakukan analisis data kasus, komunikasi risiko, dan surveilans aktif terhadap warga yang mengalami gejala.
“Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi salah satu dasar untuk mengetahui penyebab pasti munculnya gejala pada warga setelah mengonsumsi PMT Posyandu tersebut,” imbuhnya.
Kasat Reskrim Polresta Batang, Kompol Bintoro Thio Pratama mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait dugaan keracunan tersebut. Pihak kepolisian juga telah mengambil sampel makanan yang dikonsumsi warga, untuk diperiksa di laboratorium.
Ia menduga salah satu penyebab keracunan berasal dari menu kacang hijau. Berdasarkan hasil penyelidikan, bubur kacang hijau dimasak pada pagi hari. Namun, menu tersebut dibagikan pada sore hari.
"Dari hasil penyelidikan, itu untuk makanan kacang hijau tersebut dibuat pada pagi hari. Dan memang seyogianya itu diberikan pada pagi hari. Akan tetapi karena ada satu dua hal, kemudian diberikan sore hari. Dan itu yang kemungkinan penyebab salah satu keracunan," ujar Bintoro kepada wartawan.
Kendati demikian, Polresta Batang masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab warga mengalami gejala.
Bintoro mengatakan, selain sampel bubur kacang hijau, polisi juga mengambil sampel muntahan dari sejumlah pasien.
"Sampel untuk bubur kacang hijau sendiri. Kemudian dari muntahan beberapa pasien ada yang muntah juga, itu kami ambil hasilnya untuk kami Labfor-kan ke Semarang. Jadi masih menunggu hasilnya," katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 21 warga mendatangi RSUD Batang, Jawa Tengah dengan keluhan yang diduga berkaitan dengan keracunan menu PMT di Posyandu Kelurahan Rowobelang. Dari jumlah tersebut, 14 pasien merupakan orang dewasa dan 7 dari kalangan anak-anak.
Keluhannya seragam berupa muntah-muntah dan buang air besar cair atau diare. Sebagian pasien bahkan harus menjalani rawat inap, karena mengalami dehidrasi dan membutuhkan pemulihan cairan.
Kepala Bidang Pelayanan RSUD Batang, Feria Kurniawati mengatakan puluhan pasien mulai berdatangan ke rumah sakit, sejak Senin (21/9/2026) malam hingga Selasa (22/9/2026).
"Per sekarang, jumlah kasus yang datang dimungkinkan atau dicurigai karena intoksikasi atau keracunan itu ada 21 pasien. Sebanyak 14 pasien dewasa dan tujuh pasien anak," kata Feria kepada wartawan, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, sebagian pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut karena mengalami muntah dan buang air besar cair secara berulang.
Dari 21 pasien tersebut, sekitar 9 orang memiliki indikasi untuk menjalani rawat inap. Sementara pasien lainnya masih menjalani observasi dan sebagian sudah diperbolehkan pulang, untuk menjalani rawat jalan.
"Beberapa pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut karena mengalami gejala berupa muntah-muntah dan buang air besar cair," katanya lagi.
Feria menjelaskan, pasien yang menjalani rawat inap umumnya mengalami dehidrasi sehingga membutuhkan pemulihan cairan. Penanganan awal dilakukan di Instalasi Gawat Darurat (IGD), terutama untuk mengatasi kehilangan cairan akibat muntah dan diare.
"Beberapa yang rawat inap juga sudah masuk ke ruangan. Yang lain diobservasi," kata Feria.
Menurutnya, pasien yang kondisinya membaik setelah mendapatkan pemulihan cairan di IGD dapat diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan. Pasien, lanjunya, mulai berdatangan sejak Senin malam.
Bahkan, pada dini hari, sejumlah warga dengan keluhan serupa sudah mulai masuk ke rumah sakit. Warga yang mendatangi RSUD Batang mengaku, telah mengonsumsi makanan tambahan (PMT), berupa kacang hijau dalam kegiatan Posyandu.
Feria menilai, informasi tersebut masih sebatas keterangan awal sehingga belum dapat dijadikan kesimpulan bahwa kacang hijau menjadi penyebab munculnya gejala.
"Mereka sudah mengonsumsi kacang hijau," katanya lagi.
Dinas Kesehatan Kabupaten Batang sebelumnya, telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium. Hasil pemeriksaan tersebut, masih ditunggu untuk mengetahui penyebab pasti warga mengalami gejala.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Ida Susilaksmi sebelumnya menyampaikan berdasarkan pendataan hingga Selasa siang, terdapat 42 orang yang diketahui mengonsumsi PMT dalam kegiatan Posyandu tersebut. Dari jumlah itu, 37 orang mengalami gejala dan lima orang tidak mengalami gejala.
Terpisah, Kapolsek Batang, AKP Ghozali mengatakan sebagian warga yang sebelumnya telah pulang kembali dibawa ke rumah sakit, setelah mengalami keluhan atau kondisinya membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Ghozali menjelaskan, PMT yang dikonsumsi warga merupakan bagian dari program rutin desa yang bersumber dari dana desa.
“Makanan tersebut diserahkan dan dikelola oleh kader kesehatan desa untuk kegiatan Posyandu,” terangnya.
Diketahui, kegiatan Posyandu di RT 2 RW 2 Kelurahan Rowobelang dijadwalkan berlangsung pada, Senin (21/9/2026) pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Namun, kegiatan diundur menjadi pukul 16.00 WIB, karena ada warga yang meninggal dunia.
PMT yang disediakan berupa kacang hijau, roti tawar, dan tahu bacem sebanyak sekitar 50 porsi. Makanan tersebut telah dimasak sejak sekitar pukul 04.00 WIB. Warga mulai merasakan gejala pada Senin malam sekitar pukul 22.00 WIB.
Editor: Arief Sukaputra






.jpg)