25 September 2026

Get In Touch

Minuman Panas Mengepul Bisa Tingkatkan Risiko Kanker, Ini Penjelasannya

Minuman Panas Mengepul Bisa Tingkatkan Risiko Kanker, Ini Penjelasannya

SURABAYA ( LENTERA ) - Kebiasaan menikmati teh atau kopi dalam kondisi sangat panas ternyata perlu diperhatikan. Penelitian terbaru di Inggris menemukan konsumsi minuman pada suhu sangat tinggi secara teratur berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker pada saluran makanan atau kerongkongan, yang secara medis disebut esofagus.

Studi yang dilakukan peneliti Universitas Oxford dan diterbitkan dalam International Journal of Cancer tersebut melibatkan 977.282 pria dan perempuan paruh baya. Penelitian ini disebut sebagai kajian terbesar yang menunjukkan hubungan antara konsumsi minuman panas dan kanker esofagus.

Peneliti menemukan orang yang mengonsumsi minuman dalam kondisi "sangat panas" hingga "mengepul" memiliki risiko terkena kanker sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang meminum teh atau kopi dalam kondisi hangat.

Meski demikian, para ahli menekankan bahwa peluang seseorang terkena kanker esofagus secara keseluruhan tetap rendah.

Penelitian tersebut mendefinisikan minuman dengan suhu 65 derajat Celsius atau lebih sebagai "sangat panas" dan berpotensi meningkatkan risiko.

Risiko juga ditemukan pada orang yang mengonsumsi enam atau lebih minuman panas setiap hari.

Cairan yang terlalu panas dapat melukai lapisan sel kerongkongan ketika melewati saluran tersebut menuju lambung. Kerusakan yang berulang kemudian diduga berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker.

Menambahkan susu ke dalam teh atau kopi memang dapat sedikit menurunkan suhunya. Namun, menurut peneliti, minuman tersebut tetap bisa terlalu panas jika dikonsumsi segera setelah dibuat.
Sebagai gambaran, air yang direbus dalam ketel memiliki suhu sekitar 100 derajat Celsius. Setelah dituangkan ke dalam cangkir, suhunya dapat turun menjadi sekitar 90-95 derajat Celsius.

Karena itu, peneliti menyarankan agar minuman panas dibiarkan beberapa saat sebelum diminum.
Cancer Research UK mengatakan belum ada patokan pasti mengenai berapa lama minuman harus didiamkan agar mencapai suhu yang aman.

"Namun jika Anda khawatir, kami sarankan untuk menunggu hingga suhunya nyaman untuk diminum, daripada meminumnya saat masih sangat panas," kata badan amal tersebut.

Suhu Nyaman untuk Diminum

Peneliti utama studi, Keren Papier, mengatakan penelitian sebelumnya di Amerika Selatan juga telah menunjukkan hubungan antara minuman panas dan kanker esofagus.
Di sejumlah wilayah Amerika Selatan, masyarakat terbiasa mengonsumsi minuman herbal yang disebut mate dalam kondisi sangat panas.

Namun, Papier menegaskan masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan secara pasti suhu minuman yang berkaitan dengan peningkatan risiko.
"Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi suhu minuman yang tepat yang terkait dengan peningkatan risiko ini."
Temuan mengenai suhu minuman juga sejalan dengan studi terpisah yang melibatkan 118 orang dewasa muda. Para peserta diminta mencicipi berbagai jenis kopi hitam dalam beberapa kesempatan.

Sebagian besar peserta menganggap kopi terlalu panas ketika suhunya mencapai 70 derajat Celsius atau lebih.

Sementara itu, menurut salah satu produsen kopi, suhu ideal untuk menikmati kopi panas saat bepergian berada di kisaran 49-60 derajat Celsius.

Jika pelanggan meminta kopi ekstra panas, kopi tersebut dapat disajikan pada suhu di atas 82 derajat Celsius, menurut MTPak Coffee.

Kanker esofagus merupakan kanker paling umum kesepuluh di dunia dan menjadi penyebab kematian akibat kanker paling umum ketujuh secara global, menurut Worldwide Cancer Research.

Gejala awal kanker esofagus juga dapat samar sehingga penyakit ini kerap baru diketahui ketika sudah memasuki stadium lanjut.
Beberapa gejalanya antara lain kesulitan menelan; mulas atau refluks asam; merasa mual atau sakit; suara serak; dan kehilangan nafsu makan.

Para peneliti memperkirakan sekitar satu atau dua dari setiap 10 kasus kanker esofagus dapat dicegah jika masyarakat berhenti mengonsumsi minuman yang sangat panas.
Namun, kanker esofagus sel skuamosa tergolong kanker langka dan hanya menyerang beberapa ribu orang setiap tahun.

Artinya, meskipun konsumsi minuman yang sangat panas dapat meningkatkan risiko, kemungkinan seseorang mengalami kanker tersebut tetap rendah.

Selain suhu minuman, terdapat faktor risiko lain yang memiliki pengaruh lebih besar, salah satunya merokok.

Fiona Osgun dari Cancer Research UK, lembaga yang mendanai penelitian tersebut, menekankan pentingnya mengurangi faktor risiko yang telah diketahui.

"Cara terpenting untuk mengurangi risiko jenis kanker ini adalah dengan tidak merokok dan mengurangi konsumsi alkohol."
Dengan demikian, kebiasaan minum teh atau kopi tidak serta-merta harus dihentikan. Yang perlu diperhatikan adalah suhunya. 

Membiarkan minuman panas hingga cukup nyaman untuk diminum dapat menjadi langkah sederhana untuk menghindari paparan panas berlebih pada kerongkongan.(far,ist/dya)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.