MADIUN (lentera) -Aktivitas belajar mengajar siswa di sekitar Padepokan Agung Madiun (PAM) terganggu akibat meningkatnya eskalasi situasi keamanan. Dua sekolah, yakni SDN 03 Nambangan Kidul dan SMPN 7 Madiun, untuk sementara menghentikan pembelajaran tatap muka dan mengalihkan kegiatan belajar ke rumah mulai Rabu (23/9/2026).
Kebijakan tersebut berlaku hingga Jumat (25/9/2026). Selama periode itu, siswa mengikuti pembelajaran secara daring sesuai jadwal sekolah.
Ketegangan antara massa Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang diketuai M. Taufiq dengan aparat keamanan sempat memanas saat hendak merangsek ke Padepokan Agung Madiun (PAM), Jalan Merak Nomor 10, Kota Madiun.
Kepala Bidang Kurikulum, Pembinaan Bahasa dan Sastra Dinas Pendidikan Kota Madiun Slamet Hariyadi mengatakan keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan keselamatan siswa dan guru. Kedua sekolah berada di sekitar kompleks Padepokan Agung Madiun.
"Mulai hari ini sementara sampai dengan Jumat (25/9) kami kondisikan untuk belajar dari rumah secara online," kata Slamet, Kamis (24/9/2026).
Meski pembelajaran tatap muka dihentikan, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Guru tetap memberikan materi sesuai jadwal melalui sistem pembelajaran daring atau learning management system (LMS).
"Materi pelajaran tetap sama sebagaimana jam pelajaran yang ada setiap harinya. Guru kami minta untuk terus memantau pembelajaran," ujarnya.
Dinas Pendidikan juga meminta sekolah memantau keberadaan siswa setelah kegiatan belajar selesai. Kebijakan tersebut akan dievaluasi setelah Jumat dengan mempertimbangkan perkembangan situasi keamanan di sekitar PAM.
"Yang dikedepankan adalah keselamatan siswa. Pembelajaran mereka tidak ada kendala karena kita sudah punya LMS terkait dengan pembelajaran daring," kata Slamet.
Sementara itu, Humas SMPN 7 Madiun Reti Setianingrum mengatakan sekolah mengikuti arahan Dinas Pendidikan dengan mengalihkan kegiatan belajar ke rumah. SMPN 7 Madiun berada bersebelahan dengan kompleks PAM.
Menurut Reti, keselamatan siswa menjadi pertimbangan utama karena sebagian siswa belum dapat melakukan mobilitas secara mandiri apabila terjadi situasi yang membutuhkan mereka meninggalkan sekolah.
"Kekhawatiran pastinya ada, apalagi ini menyangkut anak-anak yang memang belum bisa untuk mobile secara mandiri. Jadi kami posisikan mereka untuk belajar di rumah," kata Reti.
Sekolah masih memantau perkembangan situasi sebelum kembali menggelar pembelajaran tatap muka.
"Kami posisikan anak belajar daring sambil melihat kondisinya untuk dua hari ke depan," ujarnya.
Reporter : Wiwiet Eko Prasetyo







.jpg)





.jpg)


.jpg)