01 October 2026

Get In Touch

Penjualan BBM PT JET Tumbuh 7 Persen, Laba Kotor Semester I Capai Rp1,3 Miliar

SPBU milik PT Jwalita Energi Trenggalek (JET) yang mencatat penjualan BBM sekitar 3,8 juta liter sepanjang Semester I 2026.
SPBU milik PT Jwalita Energi Trenggalek (JET) yang mencatat penjualan BBM sekitar 3,8 juta liter sepanjang Semester I 2026.

TRENGGALEK (Lentera) – Kinerja PT Jwalita Energi Trenggalek (JET) menunjukkan tren positif sepanjang Semester I 2026. BUMD milik Pemerintah Kabupaten Trenggalek itu mencatat penjualan sekitar 3,8 juta liter BBM dalam enam bulan, naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan laba kotor mencapai sekitar Rp1,3 miliar.

Peningkatan tersebut menjadi salah satu indikator membaiknya aktivitas penjualan di SPBU yang dikelola PT JET. Pada Semester I 2025, volume penjualan perusahaan masih berada di kisaran 3,3 juta liter.

Direktur PT JET Mardianto Harahap menyampaikan, pertumbuhan volume penjualan hingga pertengahan tahun mencapai sekitar 7 persen. Kenaikan tersebut turut memberikan dampak terhadap pendapatan kotor perusahaan.

"Kalau dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, pertumbuhan volume penjualan BBM sampai pertengahan 2026 berada di sekitar 7 persen," kata Mardianto, Selasa (29/9/2026).

Meski mengalami pertumbuhan, laba kotor yang dibukukan perusahaan belum sepenuhnya memenuhi sasaran yang telah ditetapkan. Realisasi Semester I 2026 berada di angka sekitar Rp1,3 miliar, sedangkan target internal perusahaan mencapai Rp1,4 miliar.

Capaian tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan laba kotor pada Semester I 2025 yang tercatat sekitar Rp1,28 miliar.

Bila dibandingkan dengan keseluruhan penjualan selama 2025, capaian enam bulan pertama 2026 juga menunjukkan aktivitas penjualan yang cukup tinggi. Sepanjang tahun anggaran 2025, PT JET membukukan penjualan sekitar 6,98 juta liter BBM.

Dari jumlah tersebut, Pertalite menjadi produk dengan kontribusi volume terbesar, yakni sekitar 3,8 juta liter. Penjualan Bio Solar berada di angka kurang lebih 1,9 juta liter, sedangkan Pertamax mencapai sekitar 1,1 juta liter.

Sementara itu, produk Dexlite dan Pertamina Dex jika digabungkan mencatat volume penjualan sekitar 140 ribu liter.

Mardianto mengatakan, besarnya volume penjualan tidak otomatis membuat keuntungan perusahaan meningkat dalam jumlah yang sama. Hal ini karena bisnis SPBU memiliki ruang margin yang relatif terbatas.

Menurutnya, tingkat keuntungan untuk sejumlah produk BBM hanya berada pada kisaran beberapa persen dari nilai penjualan.

"Karakter bisnis SPBU memang memiliki margin yang tipis. Untuk produk tertentu, kisarannya sekitar 3 sampai maksimal 4 persen," jelasnya.

Kondisi berbeda dapat ditemukan pada produk BBM nonsubsidi yang memiliki peluang margin lebih besar. Namun, perubahan harga pada kelompok produk tersebut juga menjadi faktor yang memengaruhi keputusan konsumen ketika memilih BBM.

Perubahan perilaku konsumen tersebut mulai terlihat pada Semester II 2026. Ketika harga BBM nonsubsidi mengalami perubahan, sebagian pengguna kendaraan disebut kembali memilih Pertalite karena pertimbangan harga.

Perubahan pilihan konsumen ini kemudian ikut mendongkrak volume penjualan Pertalite di SPBU PT JET.

Selain mempertahankan volume penjualan, PT JET juga harus menjaga standar operasional SPBU. Perusahaan mengikuti audit Pasti Pas Pertamina untuk memastikan pengelolaan SPBU memenuhi ketentuan yang berlaku.

Mardianto menjelaskan, aspek teknis juga dapat memengaruhi tingkat margin yang diterima perusahaan. Apabila terdapat persoalan pada peralatan tertentu, kondisi tersebut bisa berdampak terhadap level margin SPBU hingga kembali berada pada kategori Basic.

Di tengah berbagai faktor tersebut, kinerja PT JET pada dua bulan terakhir justru memperlihatkan perkembangan yang cukup baik. Pada Juli dan Agustus 2026, perusahaan menargetkan laba kotor sebesar Rp449 juta.

Realisasinya mencapai sekitar Rp548 juta atau lebih tinggi Rp99 juta dari target yang ditetapkan untuk periode dua bulan tersebut.

Capaian itu menjadi salah satu dasar optimisme manajemen dalam menghadapi sisa periode 2026. PT JET berharap tren positif yang terjadi pada Juli dan Agustus dapat terus dipertahankan hingga akhir semester kedua.

"Melihat perkembangan selama dua bulan terakhir, kami optimistis kinerja pada Semester II 2026 bisa memberikan hasil yang lebih baik dan melampaui capaian Semester I," ujar Mardianto. (*)

 

Reporter: Herlambang 
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.