01 October 2026

Get In Touch

Karhutla Trenggalek Berdampak ke Jaringan Air, Pipa di 2 Lokasi Terbakar

Petugas melakukan perbaikan jaringan pipa Perumda Air Minum Tirta Wening yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Dilem, Kecamatan Bendungan, Trenggalek.
Petugas melakukan perbaikan jaringan pipa Perumda Air Minum Tirta Wening yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Dilem, Kecamatan Bendungan, Trenggalek.

TRENGGALEK (Lentera) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Trenggalek berdampak hingga ke jaringan distribusi air bersih. Pipa milik Perumda Air Minum Tirta Wening di 2 kawasan, yakni Dilem Kecamatan Bendungan dan Pasir Putih Kecamatan Watulimo, terbakar sehingga menyebabkan tekanan serta debit air yang diterima sebagian pelanggan menurun.

Direktur Perumda Air Minum Tirta Wening, Khoirul Ansori, menjelaskan gangguan layanan tersebut bermula dari berkurangnya aliran air menuju pelanggan. Kondisi itu kemudian ditindaklanjuti petugas dengan melakukan pengecekan terhadap jalur perpipaan yang berada di kawasan terdampak karhutla.

Setelah dilakukan penelusuran, petugas menemukan bagian jaringan pipa yang mengalami kerusakan akibat terbakar. Di Dilem, pipa yang terdampak merupakan pipa HDPE berdiameter 8 inci yang berada pada jalur intake.

"Yang pasti karena itu pipanya pipa HDPE, jadi yang di intake Dilem itu pipa 8 inci. Itu terbakar sehingga air kita banyak yang terbuang," kata Khoirul, Selasa (29/9/2026).

Kebocoran pada pipa tersebut membuat sebagian air tidak dapat dialirkan secara optimal menuju pelanggan. Dampaknya semakin terasa pada wilayah yang secara geografis berada di tempat lebih tinggi karena tekanan air dalam jaringan ikut turun.

Menurut Khoirul, persoalan serupa juga ditemukan di kawasan Pasir Putih, Prigi. Namun, ukuran jaringan yang terbakar di lokasi tersebut lebih kecil, yakni pipa berdiameter 3 inci.

"Yang di Prigi pipa 3 inci. Itu juga terbakar. Ya nggak sampai macet, tapi berkurang. Cukup signifikan berkurangnya," ujarnya.

Meski terjadi gangguan, kondisi tersebut tidak sampai membuat seluruh distribusi air kepada pelanggan terhenti. Pasokan masih mengalir, tetapi debitnya mengalami penurunan akibat kebocoran yang menyebabkan tekanan di dalam jaringan berkurang.

Kedua titik jaringan yang terbakar tersebut berada di kawasan lahan Perhutani. Perumda kemudian melakukan perbaikan setelah lokasi kerusakan berhasil ditemukan oleh petugas di lapangan.

Khoirul mengatakan penanganan dilakukan tanpa harus mengganti pipa dalam bentang panjang. Bagian pipa yang terbakar dipotong, kemudian jaringan disambungkan kembali menggunakan perangkat repair clamp. "Kita memasang repair clamp. Pipa kita potong, langsung kita sambung itu," katanya.

Perbaikan dilakukan pada hari yang sama setelah gangguan diketahui. Dengan langkah tersebut, jaringan yang mengalami kerusakan akibat karhutla dapat kembali difungsikan.

"Sudah, sudah tertangani semua. Jadi begitu air mengecil, kemudian kami cek jalur, jaringan pipa kita cek, kita perbaiki hari itu juga," tegas Khoirul.

Dampak paling besar tercatat pada jaringan pipa 8 inci di Dilem. Penurunan aliran di jaringan tersebut diperkirakan mencapai 40–50 persen karena air keluar melalui bagian pipa yang terbakar.

"Kalau pipa 8 inci itu berkurangnya kurang lebih sampai 40–50 persen jaringan. Jadi kehilangan airnya ya sampai dengan 40 sampai 50 persen. Karena kan terbuang," ungkapnya.

Kondisi tersebut turut memengaruhi pelanggan yang tinggal di wilayah dengan elevasi lebih tinggi. Ketika kebocoran terjadi, tekanan air dalam jaringan tidak lagi optimal sehingga kemampuan aliran untuk mencapai titik pelayanan yang lebih tinggi ikut berkurang.

"Air ketika bocor di atas kan tekanan berkurang, lebih banyak yang terbuang. Intinya tekanannya. Kalau airnya mungkin masuk tapi air yang di dalam pipa kan kehilangan tekanan. Sehingga lokasi-lokasi pelanggan yang geografisnya tinggi, kan berkurang," jelas Khoirul.

Gangguan pada jaringan air menjadi salah satu dampak lanjutan dari karhutla yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Trenggalek.

Perumda Air Minum Tirta Wening menilai kerusakan akibat karhutla tidak semata-mata berkaitan dengan nilai material dari air yang terbuang. Gangguan terhadap kontinuitas distribusi dan pelayanan pelanggan menjadi dampak yang harus segera ditangani.

"Kalau materinya ya pasti ada kerugian karena air terbuang. Air yang terjual kan itu air terbuang. Tapi tidak signifikan jika dibanding dengan faktor layanan yang akhirnya mengganggu pelayanan, kepercayaan kepada pelanggan," kata Khoirul. (*)

 

Reporter: Herlambang
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.