09 October 2026

Get In Touch

Acha Septriasa Blackout Usai Maraton, Apa yang Terjadi pada Tubuh Pelari?

Acha Septriasa Blackout Usai Maraton, Apa yang Terjadi pada Tubuh Pelari?

SURABAYA ( LENTERA ) - Menyelesaikan maraton sejauh 42 kilometer bukan hanya menguji daya tahan otot. Tubuh juga menghadapi kehilangan cairan dan elektrolit, peningkatan suhu, penggunaan cadangan energi, serta perubahan sirkulasi darah. Karena itu, kondisi tubuh setelah garis finis tetap perlu diperhatikan.

Aktris Acha Septriasa mengalami hal tersebut setelah menyelesaikan maraton pertamanya di Sydney, Australia. Ia mengaku sempat mengalami blackout atau kehilangan kesadaran ketika tiba di rumah. Saat itu, ia berada berdua dengan putrinya, Bridgia Kalina Kharisma.

“Kemarin pas lagi aku tinggal sama Bri berdua selesai maraton, aku ingat banget aku sempat blackout gitu,” kata Acha Septriasa saat ditemui di kawasan SCBD, Jakarta Selatan.

Acha menduga kondisi itu berkaitan dengan kombinasi aktivitas fisik berat, cuaca, kurang minum, dan terlambat mendapatkan asupan setelah berlari. Ia juga menyebut pengalaman tersebut merupakan kali pertamanya menempuh jarak 42 kilometer.

“Jadinya karena memang mungkin baru pertama kali lari 42 kilo. Gak tahu gitu rasanya badan mungkin ada heartstroke-nya juga, mungkin badan juga ngerasanya kurang minum dan juga gak langsung makan protein, jadinya lemah banget waktu itu. Akhirnya aku ya gitu, blackout di depan kamar, jatuh,” tuturnya.

Istilah yang digunakan Acha, heartstroke, perlu dibedakan dari heat stroke atau sengatan panas. Dari cerita tersebut saja, penyebab pingsannya tidak dapat dipastikan. Kehilangan kesadaran setelah olahraga berat dapat terjadi karena sejumlah mekanisme, mulai dari dehidrasi dan kelelahan hingga penurunan tekanan darah setelah berhenti berlari secara tiba-tiba. American Heart Association (AHA) menyebut keringat berlebihan, kelelahan, dan perubahan posisi tubuh sebagai sejumlah pemicu pingsan. Namun, pingsan yang terjadi saat berolahraga juga dapat berkaitan dengan gangguan jantung dan perlu dievaluasi secara medis. 

Mengapa Ambruk Setelah Finis?

Fenomena pingsan atau exercise-associated collapse cukup dikenal dalam kedokteran olahraga. Mayo Clinic menjelaskan bahwa kondisi ini dapat terjadi ketika pelari berhenti setelah berlari dalam waktu lama. Saat otot berhenti berkontraksi, darah dapat lebih banyak berkumpul di tungkai sehingga tekanan darah turun dan aliran darah ke otak berkurang. Akibatnya, pelari dapat mengalami pusing, lemas hingga kehilangan kesadaran.

Namun, bukan berarti setiap pelari yang pingsan setelah maraton mengalami dehidrasi. Ada kondisi lain yang juga harus diperhatikan, termasuk hiponatremia terkait olahraga, yakni kadar natrium darah menjadi terlalu rendah. 

Kondisi ini dapat terjadi ketika seseorang minum air dalam jumlah berlebihan selama aktivitas panjang sehingga kadar natrium dalam darah terdilusi. Risiko tersebut dikenal pada peserta maraton, ultramaraton, dan olahraga ketahanan lainnya. 

Di sisi lain, kehilangan cairan melalui keringat memang dapat menyebabkan dehidrasi. AHA mencatat gejalanya dapat berupa rasa haus, mulut kering, sakit kepala, kelelahan, pusing, hingga penurunan kesadaran pada kondisi berat.

Cuaca panas menambah beban bagi tubuh. Saat berolahraga, tubuh menghasilkan panas dan berusaha menurunkannya melalui keringat. Dalam kondisi panas dan lembap, proses pelepasan panas menjadi lebih sulit. CDC mengingatkan bahwa orang yang berolahraga dalam cuaca panas memiliki risiko lebih tinggi mengalami dehidrasi dan penyakit akibat panas. Jika mulai merasa lemah atau hendak pingsan, aktivitas harus segera dihentikan dan tubuh dipindahkan ke tempat yang lebih sejuk. 

Bukan Hanya Soal Minum

Cerita Acha juga menyinggung asupan makanan setelah maraton.

“Gak langsung makan protein,” ujarnya ketika menjelaskan mengapa tubuhnya terasa sangat lemah.

Setelah olahraga ketahanan, tubuh memang membutuhkan pemulihan. Cairan dan elektrolit yang hilang perlu diganti, sementara asupan makanan membantu mengisi kembali energi dan menyediakan bahan untuk proses pemulihan otot. American Heart Association menyebut minuman yang mengandung karbohidrat dan elektrolit dapat membantu rehidrasi setelah dehidrasi akibat aktivitas berat pada kondisi tertentu. 

Meski demikian, protein bukan satu-satunya zat gizi yang dibutuhkan setelah maraton. Pelari juga membutuhkan karbohidrat untuk membantu mengembalikan cadangan glikogen yang terkuras selama aktivitas panjang. Kebutuhan setiap orang berbeda berdasarkan durasi lari, intensitas, ukuran tubuh, kondisi cuaca, dan pola latihan.

Yang juga penting adalah tidak memaksakan minum sebanyak-banyaknya. Tujuannya bukan sekadar memasukkan cairan sebanyak mungkin, melainkan menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit. Minum berlebihan dalam olahraga jarak jauh justru dapat meningkatkan risiko hiponatremia. 

Recovery Tidak Bisa Instan

Acha menyadari tubuhnya membutuhkan waktu untuk kembali pulih.

“Itu pengalaman yang seru banget, lucu, tapi kayak di satu sisi sedih juga karena aduh ini selesaiin lari panjang dapat prestasi, tapi sudahannya blackout,” katanya.
Ia kemudian memberikan jeda sebelum kembali berlari.

“Karena lari 42 kilo pasti recovery-nya tuh agak lama. Jadi untuk bisa lari lagi tuh aku ada jedanya dulu gitu,” jelasnya.

Keputusan memberikan waktu pemulihan merupakan bagian penting setelah aktivitas endurance. Rasa lelah setelah maraton dapat berlangsung lebih dari sekadar beberapa jam setelah mencapai garis finis. Pelari perlu memperhatikan kondisi tubuh sebelum kembali menjalani latihan berat.

Jika muncul pusing, lemas berlebihan, mual, kram, atau tanda penyakit akibat panas, latihan harus dihentikan. CDC secara khusus menyarankan orang yang merasa lemah atau hampir pingsan untuk segera menghentikan aktivitas dan mencari tempat yang lebih dingin. 

Pingsan Jangan Dianggap Sepele

Acha beruntung karena putrinya berada di rumah ketika kejadian berlangsung.
“Cuman Bridgie benar-benar bantu aku banget sih pada saat recovery. Dia benar-benar kayak, 'Mami minum ini ya, ini, ini,' gitu. Karena anak sudah gede ya, jadi dia sudah benar-benar care banget saja, kelihatan care banget gitu sama orang tuanya,” pungkasnya.

Pengalaman tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya tidak menjalani aktivitas ekstrem seorang diri, terutama ketika tubuh sudah menunjukkan tanda kelelahan.

Pertolongan pertama juga perlu dilakukan dengan tepat. Pedoman AHA dan American Red Cross menyebut orang yang mengalami gejala sebelum pingsan seperti pucat, berkeringat, pusing, gangguan penglihatan, dan lemas sebaiknya segera ditempatkan dalam posisi aman, seperti duduk atau berbaring. Jika tidak membaik dalam satu hingga dua menit, kehilangan kesadaran terjadi, atau gejala memburuk atau berulang, bantuan medis darurat perlu diaktifkan. 

Jika kehilangan kesadaran disertai kebingungan, suhu tubuh sangat tinggi, kejang, atau tanda gangguan saraf lainnya setelah berolahraga di lingkungan panas, heat stroke harus dicurigai. Kondisi tersebut merupakan kegawatdaruratan dan membutuhkan pendinginan segera serta pertolongan medis. (far,ist/dya)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.