SERANGAN terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10) menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 309 lainnya. Insiden ini memperbesar ancaman terhadap penerbangan sipil di kawasan tersebut, ketika sejumlah maskapai mulai membatalkan atau menyesuaikan jadwal penerbangan menuju Arab Saudi.Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi menyebut korban meninggal terdiri atas empat warga Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan. Sejumlah korban luka dilaporkan berada dalam kondisi kritis. Serangan itu menjadi yang ketiga menyasar Bandara King Khalid dalam sepekan, setelah dua serangan sebelumnya juga menimbulkan korban dan merusak pesawat komersial Saudi yang berada di landasan.Koalisi militer pimpinan Arab Saudi menuding kelompok Houthi di Yaman sebagai pelaku. Situasi tersebut menjadi perhatian bagi warga negara Indonesia (WNI), termasuk jemaah umrah yang akan berangkat ke Tanah Suci atau kembali ke Indonesia. Namun, sampai Minggu (11/10), belum ada data terverifikasi yang menunjukkan berapa banyak jemaah Indonesia yang telantar, mengalami perubahan rute, atau gagal berangkat akibat serangan di Riyadh. Tercatat, jumlah WNI di wilayah KJRI Jeddah adalah 527.715 orang dan KBRI Riyadh sebanyak 329.898 orang. Jika digabungkan totalnya mendekati 857 ribu jiwa. Sedangkan, ata-rata jumlah jemaah umrah asal Indonesia tahun 2026 mencapai kisaran 200.000 jemaah per bulan. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINI https://lenteratoday.com/upload/Epaper/12102026.pdf





.jpg)