Empat Bulan Karhutla di Kalimantan Singapura Tunjuk Hidung 7 Perusahaan, Malaysia Desak RI Dikucilkan (Koran Senin, 19 Oktober 2026)
KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) yang sudah berlangsung 4 bulanan memicu krisis kabut asap lintas negara. Singapura mengidentifikasi tujuh perusahaan di Indonesia yang diduga terkait kebakaran.National Environment Agency (NEA) atau Badan Lingkungan Nasional yang berada di bawah Kementerian Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura bersiap mengirimkan surat. Dari 7 perusahaan yang dituding biang kerok karhutla yang menghasilkan polusi asap hingga ke Singapura, sebanyak 4 perusahaan adalah milik Keluarga Widjaja (Sinarmas Group).Melalui jaringan Asia Pulp & Paper (APP) ada nama PT Bumi Andalas Permai (BAP), PT Bumi Mekar Hijau (BMH), PT SBA Wood Industries, dan PT Bangkanesia. Sementara sisanya adalah PT Paramitra Mulia Langgeng, PT Sumatera Alam Anugerah
Independen dan PT Hutan Lestari Raya Independen. Sementara seruan agar Indonesia mendapat tekanan hingga dikucilkan dari kerja sama regional muncul dari politisi Malaysia. Di dalam negeri, DPR mendesak pemerintah membuka data perusahaan pemegang konsesi yang lahannya terbakar. Darurat asap bukan isapan jempol, karena sudah terdeteksi memasuki atmosfer Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Bahkan, Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) di Singapura mengaktifkan status peringatan Level 3 untuk kawasan selatan ASEANm Tingkat tertinggi yang diaktifkan ketika terdapat risiko tinggi terjadinya kabut asap lintas batas negara yang parah. Sementara, ekonom menghitung kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2026 diperkirakan mencapai Rp 167 triliun hingga pertengahan Oktober. Krisis berulang inipun kembali menyoroti penegakan hukum, transparansi konsesi dan persoalan tata kelola hutan. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINI






.jpg)