22 October 2026

Get In Touch

5 Makanan Berbahaya di Dunia, Singkong hingga Kerang Dara Masuk Daftar

5 Makanan Berbahaya di Dunia, Singkong hingga Kerang Dara Masuk Daftar

SURABAYA ( LENTERA ) - Sejumlah makanan yang dikonsumsi sehari-hari atau dianggap sebagai kuliner unik ternyata menyimpan risiko kesehatan. Singkong dapat melepaskan sianida jika diolah tidak tepat, sedangkan kerang dara berisiko membawa patogen dari perairan tercemar. 
--
Makanan tidak selalu aman hanya karena berasal dari bahan alami. Sejumlah tumbuhan dan hewan mengandung senyawa beracun yang dapat membahayakan tubuh jika dikonsumsi tanpa pengolahan yang benar. Risikonya beragam, mulai dari gangguan pencernaan hingga keracunan serius yang mengancam nyawa.

Mengutip StarInsider, diulas lima makanan yang perlu diwaspadai, yakni elderberry, singkong, sannakji atau gurita hidup, hákarl atau hiu fermentasi, dan kerang darah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan, racun alami dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan, termasuk sakit perut, diare, keracunan akut, hingga kematian. Namun, tingkat bahaya setiap makanan bergantung pada jenis racun, jumlah yang dikonsumsi, serta cara penanganan dan pengolahannya.

Elderberry

Elderberry merupakan buah kecil dari kelompok tanaman Sambucus yang dikenal memiliki rasa asam. Buah ini perlu diolah dengan benar sebelum dikonsumsi karena bagian tanaman tertentu mengandung glikosida sianogenik, senyawa yang dapat melepaskan hidrogen sianida ketika terurai di dalam tubuh.

Menurut laporan, senyawa tersebut dapat ditemukan pada daun, batang, akar, kulit kayu, biji, serta buah yang masih mentah. Elderberry mentah juga dapat mengandung komponen yang memicu gangguan pencernaan.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) pernah melaporkan kasus keracunan terkait jus elderberry. Dalam laporan tersebut, konsumsi buah yang tidak diolah dengan tepat dikaitkan dengan mual. CDC juga mengingatkan agar daun dan batang tidak ikut tercampur ketika buah diolah menjadi jus.

Karena itu, elderberry sebaiknya tidak dikonsumsi mentah atau diolah sembarangan. Penggunaan buah ini untuk makanan maupun minuman perlu mengikuti metode pengolahan yang aman.

Singkong

Singkong merupakan bahan pangan yang akrab bagi masyarakat Indonesia. Umbi ini dapat direbus, dikukus, digoreng, atau diolah menjadi berbagai makanan, termasuk keripik dan tepung.

Meski demikian, singkong mengandung glikosida sianogenik yang dapat melepaskan sianida. WHO memasukkan singkong sebagai salah satu bahan pangan penting yang mengandung senyawa tersebut.

Risiko keracunan meningkat ketika singkong berkadar sianida tinggi tidak diproses secara memadai. Gejalanya dapat berupa sakit kepala, pusing, sakit perut, mual, muntah, dan diare. Pada kondisi berat, keracunan sianida dapat menyebabkan kejang, koma, bahkan kematian.

Penelitian mengenai keracunan pangan akibat singkong di Filipina yang diterbitkan dalam jurnal Western Pacific Surveillance and Response juga mengidentifikasi konsumsi singkong yang tidak diproses dengan cukup sebagai sumber kejadian keracunan. Kasus tersebut melibatkan 14 orang dengan dua kematian, meskipun pemeriksaan tidak mengonfirmasi kasus melalui penanda sianida dalam urine.

Selain bagian umbinya, daun singkong juga memerlukan pengolahan yang tepat. Daun mengandung senyawa sianogenik dan oksalat. Konsumsi oksalat berlebihan dapat menjadi perhatian bagi orang yang rentan mengalami batu ginjal.

Singkong tetap dapat menjadi sumber pangan yang bermanfaat jika dipilih dan diolah dengan benar. Kupas dan bersihkan umbi, lalu gunakan metode pengolahan yang sesuai. Jangan menganggap singkong otomatis aman hanya karena sudah digoreng atau direbus sebentar, terutama jika jenis dan kadar sianidanya tidak diketahui.

Sannakji atau Gurita Hidup

Sannakji merupakan hidangan Korea yang dibuat dari gurita yang dipotong-potong dan disajikan dengan bumbu, termasuk minyak wijen. Hidangan ini dikenal karena potongan tentakelnya masih dapat bergerak setelah disajikan.

Risiko utama sannakji bukan semata-mata racun, melainkan tersedak. Pengisap pada tentakel yang masih aktif dapat melekat pada rongga mulut atau tenggorokan. Teksturnya yang kenyal dan licin juga membuat potongan gurita lebih sulit dikunyah dengan sempurna.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan penyumbatan jalan napas, bahkan berujung fatal.

Karena itu, mengonsumsi sannakji membutuhkan kewaspadaan tinggi. Mengunyah makanan sampai benar-benar halus dan menghindari potongan besar merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko tersedak. Anak-anak dan orang yang memiliki kesulitan menelan sebaiknya menghindari hidangan berisiko seperti ini.

Hákarl atau Hiu Fermentasi

Hákarl adalah makanan tradisional Islandia yang dibuat dari daging hiu melalui proses pengawetan dan fermentasi, kemudian dikeringkan. Hidangan ini memiliki aroma tajam dan menjadi salah satu kuliner khas yang kerap menarik perhatian wisatawan.

Daging hiu memerlukan penanganan khusus karena secara alami dapat mengandung senyawa yang tidak aman dikonsumsi tanpa pengolahan memadai. Proses fermentasi dan pengeringan digunakan untuk mengolah daging tersebut, tetapi keamanan akhirnya bergantung pada bahan baku dan prosedur yang diterapkan.

Menurut laporan, hiu yang digunakan untuk hidangan ini mengandung senyawa seperti amonia dan trimetilamina oksida. Pengolahan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk keracunan makanan dan iritasi saluran pencernaan.
Karena itu, hákarl tidak sebaiknya dibuat dengan metode fermentasi sembarangan. Konsumen perlu memperhatikan asal produk dan memastikan makanan berasal dari produsen yang menerapkan prosedur pengolahan pangan secara aman.

Kerang Dara

Kerang darah atau kerang dara banyak dikonsumsi di Indonesia dan mudah ditemukan di warung seafood hingga restoran. Namun, keamanan kerang sangat dipengaruhi oleh kondisi perairan tempat hewan tersebut hidup.
Sebagai hewan penyaring makanan dari air, kerang dapat mengakumulasi mikroorganisme patogen dan kontaminan dari lingkungan. Kerang yang berasal dari perairan tercemar berisiko membawa bakteri atau virus penyebab penyakit.

Laporan menyebut kerang darah dapat dikaitkan dengan risiko penyakit seperti tifus dan hepatitis apabila terkontaminasi. Kerang juga berpotensi mengakumulasi logam berat, termasuk merkuri dan kadmium, bergantung pada kondisi habitatnya.

WHO turut mengingatkan bahwa sejumlah kerang dapat mengandung toksin yang dihasilkan alga. Racun tersebut dapat menyebabkan muntah, diare, kesemutan, hingga kelumpuhan. Beberapa toksin laut bahkan tidak hilang melalui proses memasak atau pembekuan.

Karena itu, memasak kerang hingga matang merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko infeksi, tetapi bukan jaminan menghilangkan seluruh jenis kontaminan. Konsumen perlu memilih kerang dari sumber yang dapat dipercaya dan menghindari hasil tangkapan dari perairan yang diketahui tercemar.

Kelima makanan tersebut menunjukkan bahwa bahaya pangan memiliki sumber yang berbeda. Elderberry dan singkong berkaitan dengan senyawa alami, sannakji berisiko menyebabkan tersedak, hákarl membutuhkan proses pengolahan yang terkontrol, sedangkan kerang darah dapat terpapar pencemaran lingkungan.
WHO menekankan bahwa bahan pangan alami tidak otomatis aman. Masyarakat disarankan menghindari makanan yang rusak, berubah warna secara tidak wajar, berjamur, atau memiliki bau dan rasa yang tidak semestinya. 

Tumbuhan liar juga tidak boleh dikonsumsi jika jenisnya belum teridentifikasi secara pasti.
Pada akhirnya, daftar makanan berbahaya bukan berarti seluruh bahan tersebut harus dihindari. Singkong dan kerang, misalnya, tetap dapat dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan sehari-hari jika memenuhi persyaratan keamanan pangan. 

Hal terpenting adalah mengenali sumber risiko, memilih bahan yang layak, dan menerapkan pengolahan yang tepat.(far,ist/dya)
 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.