22 October 2026

Get In Touch

Petrokimia Gresik Kembali Siapkan Talenta Pertanian Masa Depan Melalui Ajang Kompetisi Harvestion 2026

Melalui program Harvestion, Petrokimia Gresik mendorong pelajar dan guru SMK Pertanian Jawa Timur berinovasi dan berperan aktif dalam mewujudkan swasembada pangan nasional.
Melalui program Harvestion, Petrokimia Gresik mendorong pelajar dan guru SMK Pertanian Jawa Timur berinovasi dan berperan aktif dalam mewujudkan swasembada pangan nasional.

GRESIK (Lentera) - Penerapan pertanian presisi di lahan sekolah terbukti membuahkan hasil nyata. SMKN 1 Kademangan, Blitar, Jawa Timur, berhasil meningkatkan panen bawang merah lebih dari lima kali lipat, dari 150 kilogram menjadi 800 kilogram, pada musim panen pertama bulan Juli lalu. 

Keberhasilan melalui program School Lab Farming pada tahun sebelumnya tersebut menjadi salah satu pijakan PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), untuk kembali membuka pendaftaran HARVESTION (Harvest and Innovation) 2026 pada Kamis (15/10/2026). 

Melalui ajang ini, perusahaan memperluas pengembangan kompetensi dan inovasi siswa serta guru SMK Pertanian se-Jawa Timur sebagai upaya mempersiapkan generasi penerus sektor pertanian nasional.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob menyampaikan bahwa pengembangan talenta pertanian menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan ketahanan pangan nasional, terutama di Jawa Timur yang memiliki peran penting sebagai salah satu lumbung pangan Indonesia. 

Menurutnya, peningkatan produktivitas pertanian harus diimbangi dengan penguatan kompetensi generasi muda agar sektor pertanian mampu terus berkembang dan menjawab tantangan masa depan.

"Jawa Timur merupakan produsen bawang merah terbesar kedua di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi bawang merah Jawa Timur pada 2025 mencapai 499,46 ribu ton, hampir seperempat dari produksi nasional. Capaian SMKN 1 Kademangan membuktikan bahwa pertanian presisi yang diterapkan dengan tepat mampu melipatgandakan hasil panen, bahkan di lahan sekolah. Potensi ini perlu dijaga dengan menyiapkan generasi muda yang kompeten dan inovatif," ujar Daconi.

Ia menjelaskan, melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dengan pendekatan Creating Shared Value (CSV), Petrokimia Gresik terus memperkuat kolaborasi dengan dunia pendidikan untuk menghadirkan pembelajaran pertanian yang aplikatif dan berkelanjutan. 

Pendekatan ini menempatkan sekolah sebagai pusat pengembangan kompetensi dan inovasi yang manfaatnya tidak hanya dirasakan peserta didik, tetapi juga dapat menjangkau masyarakat sekitar. 

Peserta dari SMK Pertanian Jawa Timur mengikuti rangkaian Harvestion yang diselenggarakan Petrokimia Gresik.
Peserta dari SMK Pertanian Jawa Timur mengikuti rangkaian Harvestion yang diselenggarakan Petrokimia Gresik.

Keberhasilan School Lab Farming menjadi salah satu contoh bagaimana pemanfaatan lahan sekolah mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan pengalaman nyata bagi siswa dalam menerapkan ilmu dan teknologi pertanian.

“Sekolah harus menjadi ruang bagi siswa untuk menguji pengetahuan, mengembangkan inovasi, dan menghasilkan solusi yang dapat diterapkan. Melalui HARVESTION, kami ingin mendorong lahan dan unit produksi sekolah berkembang menjadi laboratorium pembelajaran nyata yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan pertanian di lapangan,” tambah Daconi.

Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, HARVESTION 2026 mengusung tema “Pertanian Presisi: Tanam Tepat, Olah Hebat, Nilai Berlipat” yang menitikberatkan pada pengembangan pertanian dari hulu hingga hilir. Tanam Tepat berfokus pada pengelolaan kesuburan tanah, pemupukan terukur, serta efisiensi penggunaan air dan lahan. 

Olah Hebat menekankan penanganan pascapanen dan pengolahan hasil untuk menjaga mutu serta menekan kehilangan hasil. Sementara itu, Nilai Berlipat diarahkan pada penciptaan nilai tambah ekonomi melalui inovasi, kewirausahaan, dan penguatan kolaborasi antara sekolah, industri, serta masyarakat.

Untuk mewujudkan semangat tersebut, HARVESTION 2026 menghadirkan tiga kategori kompetisi, yaitu Olimpiade Pertanian, Inovasi dan Teknologi Pertanian, serta School Lab Farming. Ketiganya dirancang untuk memperkuat kompetensi akademik dan keterampilan praktik, mendorong lahirnya inovasi teknologi tepat guna, sekaligus mengembangkan potensi sekolah sebagai pusat pembelajaran pertanian yang produktif dan berkelanjutan.

Kategori Olimpiade Pertanian diperuntukkan bagi siswa SMK bidang Agribisnis dan Agroteknologi se-Jawa Timur untuk menguji penguasaan ilmu pertanian, kemampuan analisis, serta ketepatan dalam menyelesaikan persoalan pertanian dari hulu hingga hilir.

Sementara itu, kategori Inovasi dan Teknologi Pertanian mendorong siswa menciptakan solusi aplikatif berdasarkan persoalan nyata di lingkungan sekolah maupun masyarakat sekitar. Kompetisi ini mencakup bidang agronomi dan pengolahan hasil pertanian, dengan penekanan pada efisiensi budidaya, peningkatan produktivitas, penjagaan mutu hasil panen, serta penciptaan nilai tambah melalui teknologi tepat guna.

Adapun kategori School Lab Farming diarahkan untuk mendorong guru SMK Pertanian mengembangkan rancangan program berbasis CSV yang mengoptimalkan lahan dan unit produksi sekolah sebagai living lab pertanian presisi. 

Sekretaris Perusahaan PG, Nuril Huda menyerahkan penghargaan Harvestion kepada pelajar SMK Pertanian Jawa Timur sebagai apresiasi atas inovasi untuk mendukung swasembada pangan nasional.
Sekretaris Perusahaan PG, Nuril Huda menyerahkan penghargaan Harvestion kepada pelajar SMK Pertanian Jawa Timur sebagai apresiasi atas inovasi untuk mendukung swasembada pangan nasional.

Melalui pendekatan tersebut, sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat pembelajaran, tetapi juga mampu mengembangkan praktik pertanian produktif yang berorientasi pasar dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Daconi menegaskan, bahwa inovasi yang dikembangkan melalui HARVESTION tidak harus rumit atau menggunakan teknologi tinggi, tetapi harus mampu menjawab persoalan nyata dan memberikan manfaat yang dapat dibuktikan. 

Karena itu, pengembangan inovasi diarahkan pada solusi yang relevan dengan kebutuhan pertanian, memiliki potensi keberlanjutan, serta dapat diterapkan atau direplikasi oleh sekolah lain maupun petani di sekitarnya.

Lebih lanjut, ia berharap HARVESTION dapat menjadi sarana untuk memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan industri dalam mempersiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi serta ketertarikan untuk mengembangkan sektor pertanian. 

Keberhasilan program, menurutnya, tidak hanya diukur dari jumlah peserta maupun prestasi kompetisi, tetapi juga dari keberlanjutan penerapan inovasi dan manfaat yang dihasilkan.

 “Harapan kami, HARVESTION tidak berhenti sebagai ajang kompetisi, tetapi menjadi titik awal lahirnya inovasi dan talenta pertanian yang mampu membawa perubahan. Ketika sekolah mampu menghasilkan solusi yang aplikatif, generasi muda memiliki ruang untuk berkarya, dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat, di situlah pendidikan vokasi menjadi kekuatan nyata bagi masa depan pertanian Indonesia,” tutup Daconi.

Sebagai informasi, pendaftaran HARVESTION 2026 telah dibuka mulai 15 Oktober 2026. Pendaftaran kategori Olimpiade Pertanian berlangsung hingga 30 Oktober 2026, sedangkan kategori Inovasi dan Teknologi Pertanian dibuka hingga 20 November 2026. Informasi lengkap mengenai kategori kompetisi, persyaratan, jadwal, dan mekanisme pendaftaran dapat diakses melalui laman resmi https://harvestion.id. (ADV)

 

Reporter: Asepta

 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.